Bisakah ‘Clinical Lab 2.0’ membantu mencegah pandemi berikutnya?

Juli 15, 2022 Bullet Artikel

 

Pandemi COVID-19 menyoroti banyak tantangan yang dihadapi sistem pelayanan kesehatan, tetapi juga menunjukkan pentingnya kedokteran laboratorium dalam mengelola penyakit menular. Dengan memperkuat sistem laboratorium klinis kami, kini kami memiliki peluang unik untuk tidak hanya mengurangi dampak pandemi di masa mendatang, tetapi juga mengelola beban penyakit kronis yang terus meningkat yang menyebabkan biaya pelayanan kesehatan melonjak tak terkendali di mana-mana.

Ini adalah pesan utama sebuah laporan baru oleh Project Santa Fe Foundation (PSFF), sebuah komunitas nirlaba para pemimpin laboratorium klinis yang telah meluncurkan gerakan Clinical Lab 2.0 untuk menempa masa depan laboratorium kedokteran. Inti dari visi mereka adalah keyakinan bahwa laboratorium klinis dapat memberikan lebih banyak manfaat bagi sistem pelayanan kesehatan dengan menerapkan data dan keahlian unik mereka untuk mengelola kesehatan populasi.

Didirikan pada tahun 2016, gerakan Clinical Lab 2.0 telah banyak membantu lab klinis melampaui model ‘transaksional’ standar’ yang sekadar memproses sampel dan mengembalikan hasil untuk pasien individual, suatu pendekatan yang terkadang disebut sebagai Lab 1.0. Sejak peluncuran awal di Amerika Serikat, mereka telah bekerja secara global untuk mendidik dan menginspirasi laboratorium klinis tentang peluang untuk memberikan wawasan klinis yang proaktif dan dapat ditindaklanjuti dengan tujuan meningkatkan hasil kesehatan dan mengurangi biaya keseluruhan.

Secara teoritis, pandemi COVID-19 seharusnya menjadi kasus uji yang sempurna untuk model Clinical Lab 2.0, dan di beberapa negara, data lab agregat tentang COVID-19 berhasil digunakan untuk pengawasan penyakit dan manajemen sistem pelayanan kesehatan. Namun, di Amerika Serikat, pandemi memberikan tuntutan yang begitu berat pada sistem laboratorium sehingga banyak upaya Clinical Lab 2.0 tergelincir karena kebutuhan saat ini: menjalankan miliaran pengujian molekuler, antigen, dan serologi untuk virus tunggal ini.

“Saat pandemi muncul di Amerika Serikat, kenyataan memaksa kami untuk fokus pada Lab 1.0,” ujar Khosrow Shotorbani, President & Executive Director, PSFF, dan CEO Lab 2.0 Strategic Services, sebuah lembaga konsultan. “Namun, Lab 2.0 merupakan bagian yang sangat penting dari manajemen pandemi, dan dalam jangka panjang, pandemi ini pada akhirnya dapat mempercepat penerapan model Lab 2.0.”

Itulah sebabnya laporan resmi baru Clinical Lab 2.0 menyebutkan pandemi sebagai motivator utama untuk meningkatkan peran laboratorium klinis dalam manajemen kesehatan populasi. Mereka melihat peluang luar biasa untuk membuat perbedaan dalam penyakit menular, menempatkan laboratorium di pusat upaya keselamatan publik dan kesehatan masyarakat.

COVID-19 menunjukkan kebutuhan mendesak akan pendekatan Clinical Lab 2.0 — dan juga memberi para pimpinan lab klinis kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka. “Salah satu tujuan inisiatif Clinical Lab 2.0 adalah memastikan laboratorium memiliki tempat di jajaran C-suite,” ujar Mark Fung, Vice Chair, Research (Pathology & Laboratory Medicine) di University of Vermont Health Network. “Tentu saja, ketika menyangkut COVID-19, nilai laboratorium menjadi sangat jelas.”

Perkembangan tersebut telah menyiapkan panggung bagi penerapan konsep Clinical Lab 2.0 yang lebih luas. “Hubungan antara laboratorium dengan pimpinan jaringan kesehatan kini terjalin, dan kredibilitasnya pun meningkat,” ujar Fung. Ia yakin bahwa peluang berikutnya untuk menunjukkan apa yang dapat dilakukan Lab 2.0 adalah bagi laboratorium untuk membantu mengatasi keterlambatan signifikan dalam skrining dan penanganan penyakit kronis yang terjadi akibat pandemi.

Seperti yang tercantum dalam laporan resmi, laboratorium yang beroperasi dengan prinsip Lab 2.0 dapat mengembangkan identifikasi dini risiko penyakit kronis di antara populasi pasien mereka dan menyoroti peluang untuk melakukan intervensi dini. Salah satu contoh yang disebut mereka adalah potensi data laboratorium untuk mengidentifikasi cedera ginjal akut dengan mendeteksi perubahan signifikan secara klinis pada kadar kreatinin—bahkan ketika pasien tetap dalam rentang pembersihan kreatinin normal.

Laboratorium juga dapat menemukan cara untuk lebih terlibat dalam pengujian di tempat perawatan dan pengujian di rumah, dua area yang dapat membuka jalan bagi dampak yang lebih besar di komunitas yang mereka layani. Hal itu akan sangat penting dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan pada populasi yang menua.

“Prevalensi penyakit kita akan meningkat seiring waktu,” ujar Fung. “Salah satu tujuan dalam kesehatan masyarakat adalah mengidentifikasi orang-orang lebih awal dalam proses sehingga kita dapat menggunakan intervensi yang lebih murah untuk menjaga mereka tetap sehat lebih lama.

Laporan resmi tersebut mencatat bahwa tim laboratorium klinis dapat mengambil beberapa tindakan untuk melangkah menuju model Clinical Lab 2.0. Ini termasuk penerapan teknologi yang memungkinkan pembuatan data yang dapat ditindaklanjuti secara waktu nyata; melibatkan pimpinan organisasi untuk mengidentifikasi peluang baru bagi laboratorium untuk membuat perbedaan; berinvestasi dalam analisis data; dan bekerja sama dengan mitra pelayanan klinis untuk mendukung intervensi dini guna memperlambat perkembangan penyakit.

Untuk mempelajari peluang ini selengkapnya, pelajari laporan resmi lengkap di situs web Clinical Lab 2.0.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top