Suplemen makanan yang banyak digunakan, vitamin B7 atau biotin, banyak menimbulkan kekhawatiran tahun lalu. Ditemukan bahwa biotin dapat mengganggu beberapa pemeriksaan laboratorium, sehingga Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan peringatan. Interferensi tersebut bukanlah hal baru dalam dunia kedokteran laboratorium dan akan terus menjadi tantangan seiring hadirnya obat, pemeriksaan, dan suplemen baru di pasaran. Dan hal ini tidak hanya memengaruhi pemeriksaan berbasis laboratorium, bahkan alat glukosa pemeriksaan di tempat perawatan yang sederhana maupun pemeriksaan kehamilan juga dapat terpengaruh. Namun bagi tim kedokteran laboratorium yang semakin ramping, interferensi menghadirkan ancaman tambahan. Seiring kemajuan dalam otomasi dan analisis data besar, banyak laboratorium saat ini dapat memproses seluruh volume sampel kimia harian hanya dengan dua ilmuwan laboratorium yang menjalankan lini tersebut. Namun ketika ada panggilan balik akibat hasil yang tidak biasa, model operasi yang telah dirancang dengan cermat ini menjadi terganggu, sehingga mengacaukan proses pemeriksaan berikutnya. Dalam tim yang hanya terdiri dari dua orang tersebut, satu orang harus melakukan pemecahan masalah, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan tim untuk melaporkan nilai mendesak atau menangani sampel prioritas dari pasien dengan kondisi yang mengancam jiwa. Meskipun interferensi tidak selalu dapat diprediksi, ada banyak aspek di mana hal tersebut dapat dicegah. Berikut tiga langkah untuk mengurangi dampak interferensi yang sebenarnya dapat dicegah, seperti interferensi akibat biotin guna membantu tim laboratorium tetap bekerja secara efisien dan efektif.
Artikel ini didasarkan pada presentasi: Interferensi Imunoassay: Fakta, wawasan, dan pendekatan pragmatis pada Roche Efficiency Days (RED) 2018 REDefining Perspective di Guangzhou, Tiongkok.
Langkah 1: Edukasi bagi penyedia layanan dan pasien
Sebagai para ahli kedokteran laboratorium, kita harus mampu keluar dari ruang laboratorium dan memberikan edukasi kepada pelanggan—baik itu pasien maupun penyedia layanan kesehatannya. Melalui presentasi kepada dokter saat Diskusi Besar di rumah sakit, konferensi, atau bahkan melalui posting blog dan peringatan email, kita perlu membangun kemitraan dan pemahaman untuk mendukung penyebaran pengetahuan. Di UC Davis, kami meluncurkan sebuah blog praktik terbaik laboratorium [1] sekitar dua tahun lalu. Ditujukan bagi para penyedia layanan, kami mempublikasikan satu entri setiap bulan yang membahas topik-topik penting, termasuk tentang interferensi. Tapi kita tidak boleh melupakan pasien. Dalam kasus biotin atau sumber interferesni lain yang dapat dicegah, kita perlu memberikan edukasi kepada pasien tentang cara mempersiapkan diri untuk pemeriksaan mereka, misalnya melalui lembar instruksi atau pengingat.Langkah 2: Pengawasan
Pilar kedua adalah pengawasan. Untuk memastikan upaya edukasi yang tepat dapat diterapkan, sangat penting untuk memahami karakteristik populasi lokal laboratorium, bahkan populasi nasional secara keseluruhan. Sebagai contoh, apakah biotin benar-benar merupakan suplemen yang umum digunakan dalam populasi tersebut, dan apakah dosisnya cukup tinggi hingga berpotensi terdeteksi? Mengompilasi data dari catatan laboratorium sendiri serta dari basis data seperti Manufacture and User Facility Device Experience (MAUDE) milik FDA [2] membantu membangun gambaran tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus penggunaan biotin, basis data MAUDE menunjukkan bahwa sebagian besar pemeriksaan yang mengalami interferensi akibat biotin melibatkan pasien dengan multiple sclerosis. Para pasien ini mengonsumsi lebih dari 100 mg biotin per hari sebagai penggunaan suplemen di luar indikasi. Namun, hal ini dapat ditelusuri oleh tim laboratorium bersama tim perawatan saat pengambilan anamnesis, dan dapat direncanakan ketika menjadwalkan pemeriksaan. Di UC Davis, kami melangkah lebih jauh karena kami ingin mengetahui apakah gangguan akibat biotin kemungkinan terjadi pada populasi pasien kami. Kami menelaah rekam medis elektronik dari lebih dari 800 pasien dan menemukan bahwa tidak ada satu pun pasien yang memiliki konsentrasi biotin mendekati level yang dapat mengganggu pemeriksaan. Namun, setelah peringatan FDA bahwa biotin dapat mengganggu pengukuran troponin, kami melakukan tinjauan multi-pusat terhadap 1.443 sampel dari 850 pasien. Kami menemukan bahwa kadar biotin terdeteksi pada kurang dari setengahnya. Sekali lagi, hasil ini meyakinkan kami bahwa interferensi akibat biotin kemungkinan sangat jarang terjadi pada populasi pasien kami, terlepas dari pemberitaan media.Langkah 3: Proaktivitas
Aspek terakhir adalah mengambil langkah proaktif untuk menangani potensi interferensi sebelum hal tersebut memengaruhi proses laboratorium. Di UC Davis, kami telah mengevaluasi penerapan sistem peringatan dini elektronik ke dalam sistem kami. Peringatan ini memberi tahu penyedia layanan dan laboratorium bahwa pemeriksaan yang dipesan berpotensi dipengaruhi oleh gangguan biotin. Namun, kita perlu menyadari bahwa peringatan semacam ini sering diabaikan, karena data menunjukkan bahwa hampir tiga dari empat peringatan sistem kesehatan elektronik yang terkait dengan obat-obatan diabaikan oleh pengguna. Karena itu, strategi ini tidak bisa menjadi satu-satunya pendekatan, tetapi dapat berfungsi sebagai garis pertahanan terakhir. Mengurangi gangguan yang disebabkan oleh interferensi yang sebenarnya dapat dicegah memerlukan strategi terpadu yang berbasis bukti. Memahami populasi pasien merupakan kunci untuk menilai kemungkinan suatu zat tertentu menimbulkan interferensi dalam pemeriksaan laboratorium. Beberapa interferensi, seperti interferensi heterofil tidak dapat diprediksi maupun dicegah. Namun, ketika interferensi dapat dicegah, sangat penting bagi kita di bidang kedokteran laboratorium untuk secara proaktif mendukung dokter dan pasien dengan edukasi yang tepat agar interferensi tersebut dapat dicegah. Seperti halnya pada semua aspek layanan kesehatan, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. [1] “UC Davis Health Lab Best Practice” https://health.ucdavis.edu/blog/lab-best-practice [2] “MAUDE – Manufacture and User Facility Device Experience”, US Department of Health and Human ServicesArtikel ini didasarkan pada presentasi: Interferensi Imunoassay: Fakta, wawasan, dan pendekatan pragmatis pada Roche Efficiency Days (RED) 2018 REDefining Perspective di Guangzhou, Tiongkok.

