Laboratorium klinis dipaksa belajar cepat ketika menyesuaikan diri di dalam dunia baru “kartu kesehatan” terkait COVID, yaitu sertifikat digital atau cetak yang menunjukkan seseorang terbukti telah memiliki hasil tes atau catatan vaksinasi sehingga diizinkan untuk melintasi perbatasan, menghadiri acara, memasuki gedung, atau bergerak lebih bebas di dunia di mana banyak negara sedang membatasi diri.
Lalu, bagaimana sudut pandang laboratorium klinis terhadap ekosistem kartu kesehatan COVID tersebut?
Kredensial dan kartu kesehatan digital yang dapat diverifikasi
Di beberapa negara, hasil tes dan catatan vaksinasi sering kali dicetak dalam bentuk dokumen fisik. Dokumen ini relatif mudah dibuat dan digunakan, tetapi juga rawan hilang, dipalsukan, dan mengalami kesalahan. Jadi untuk membantu memastikan kartu kesehatan berisi catatan yang akurat dan terpercaya, banyak organisasi mengembangkan sistem yang mengenkripsi tes atau catatan vaksinasi dan membuatnya hanya dapat dibaca —sering kali dengan kode QR— oleh pihak-pihak tepercaya yang dapat memverifikasi bahwa informasi tersebut akurat dan tidak diubah.
Catatan ini, yang kadang-kadang disebut “kredensial yang dapat diverifikasi”, dapat dicetak di selembar kertas atau disimpan secara aman di aplikasi “dompet” atau “paspor” di ponsel cerdas. Catatan tersebut kemudian dapat diakses dan diverifikasi oleh pihak lain seperti karyawan hotel pada saat check-in atau petugas imigrasi di perbatasan.
Terdapat banyak lapisan dalam ekosistem kartu kesehatan COVID. Termasuk di dalamnya puluhan aplikasi kartu kesehatan yang dikembangkan oleh pemerintah, LSM, perusahaan teknologi, dan perusahaan diagnosis in vitro. Beberapa di antaranya yang paling menonjol adalah CommonPass, yaitu aplikasi yang digunakan oleh Commons Project Foundation (TCP), dan IATA Travel Pass, sebuah inisiatif dari International Air Transport Association (IATA).
Para pengembang aplikasi untuk pengguna akhir cenderung paling banyak mendapat sorotan media, tetapi mereka didukung oleh sejumlah pihak di balik layar yang mengembangkan teknologi inti dan kerangka kerja yang memungkinkan aplikasi-aplikasi ini dapat berjalan. Termasuk di antaranya adalah para penyedia teknologi independen yang membantu laboratorium menerbitkan kredensial yang dapat diverifikasi untuk pengujian COVID, tetapi mungkin tidak terlibat langsung dalam pengembangan aplikasi untuk menyimpan atau memverifikasi kredensial tersebut.
Penerbitan Kredensial COVID
Keikutsertaan dalam jaringan ini secara otomatis membawa konsekuensi tanggung jawab. Laboratorium harus menanggung beban tambahan di bidang TI, mempelajari proses-proses baru, dan menilai risiko yang mungkin timbul.
Salah satu masalah utama adalah tentang menjaga kerahasiaan data pasien. Laboratorium merasa khawatir karena pihaknya akan menjadi “penerbit” kredensial COVID dan perlu memastikan bahwa operasi yang dijalankannya sesuai dengan undang-undang setempat terkait privasi ketika kredensial tersebut dibagikan kepada pihak lain. Teknologi cerdas dan protokol manajemen data dapat membantu mengurangi risiko-risiko ini.
Dalam sistem CommonPass, misalnya, informasi kesehatan pribadi dan informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi hanya disimpan di sumber data asli, yaitu laboratorium atau klinik vaksinasi, dan di ponsel pengguna. “Fakta bahwa data tidak disimpan di server atau dimasukkan ke dalam database telah menjadi hambatan besar yang berhasil kami atasi, dan hal ini telah mempermudah adopsi secara signifikan,” kata Barbara Tannenbaum, seorang Eksekutif Pengembangan Bisnis di TCP.
Masalah kedua dalam proses penerbitan adalah mengonfirmasi identitas penerima tes. IATA Travel Pass mengatasi hal ini dengan mewajibkan laboratorium untuk menggunakan aplikasi web yang memungkinkannya membuat koneksi yang aman dengan ponsel penerima tes melalui kode QR. Setelah laboratorium mengonfirmasi identitas pengguna, dengan membandingkan paspor fisiknya dengan identitas digital yang telah dibuat oleh pengguna pada ponselnya ketika menginstal aplikasi IATA Travel Pass, hasil tes akan dikirimkan ke ponsel pengguna melalui tautan aman yang telah dibuat sebelumnya di laboratorium.
Tantangan ketiga adalah interoperabilitas berbagai teknologi. Tidak semua platform menggunakan standar terbuka yang bisa dioperasikan bersama, dan bahkan berupaya untuk memasukkan laboratorium ke dalam jaringan tertutup yang eksklusif. Jadi, mungkin perlu beberapa saat untuk menyesuaikan diri, dan laboratorium mungkin perlu membiasakan diri dengan dua atau tiga pendekatan yang berbeda, yang semuanya mungkin memiliki persyaratan TI yang berbeda.
Memastikan hasil yang tepercaya
Pada intinya, ekosistem baru ini dibangun berdasarkan kepercayaan. Semua pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan dalam memverifikasi catatan tes atau vaksinasi perlu memastikan bahwa kredensial yang mereka periksa adalah benar dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan untuk mengizinkan seseorang melintasi perbatasan atau masuk ke suatu tempat.
Bagi laboratorium klinis, kepercayaan berarti para pemangku kepentingan lainnya di ekosistem harus yakin dalam menerima kredensial COVID yang mereka terbitkan. Jika ekosistemnya kecil, memastikan kepercayaan di seluruh jaringan mungkin relatif mudah dilakukan, tetapi jika ekosistemnya besar dan bersifat transnasional, hal ini dapat menimbulkan tantangan operasional dan teknis yang signifikan.
Salah satu pendekatan untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan menyusun daftar internasional laboratorium-laboratorium yang disetujui secara internasional. CommonTrust Network yang diluncurkan oleh TCP dan Forum Ekonomi Dunia, misalnya, mengatakan bahwa jaringan tersebut telah menambahkan 9.000 lokasi laboratorium di 32 negara ke dalam jaringannya, dan hampir 18.000 lainnya akan diluncurkan akhir tahun ini.
Untuk CommonTrust Network, laboratorium dapat mengisi survei di situsnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditentukan oleh TCP sebagai syarat validasi. Kriteria tersebut mencakup apakah suatu laboratorium telah terakreditasi, apakah memiliki izin untuk melakukan vaksinasi, apakah memverifikasi identitas pasien pada saat pengujian, dan apakah hasil laboratoriumnya dapat diperoleh dalam waktu kurang dari 24 jam. Proses ini juga memeriksa apakah laboratorium menggunakan standar terbuka yang dapat dioperasikan untuk penerbitan, seperti SMART Health Cards Framework.
Setelah melewati proses pemeriksaan awal, laboratorium akan dihubungi dan dibantu melalui proses onboarding, serta untuk mengatasi segala kekhawatiran yang mungkin ada. CommonTrust Network kemudian akan memverifikasi bahwa laboratorium tersebut benar-benar ada dan memenuhi semua persyaratan, termasuk standar ISO. Uji tuntas ini mencakup kerja sama dengan pemerintah daerah dan kementerian kesehatan untuk melakukan pemeriksaan silang terhadap daftar putih yang disetujui pemerintah.
IATA Travel Pass juga beroperasi pada jaringan laboratorium tepercaya internasional, yang sedang dibangun secara aktif. IATA Travel Pass juga berkoordinasi dengan sejumlah laboratorium nasional untuk memeriksa apakah proses onboarding dapat dilakukan secara massal dengan terhubung langsung ke sistemnya.
“Ekosistem yang tepercaya sangat penting untuk memastikan keamanan dan akurasi kredensial kesehatan bagi para pemeriksa, penerbit, dan wisatawan,” kata Stacey-Ann Pearson dari Affinidi, yaitu sebuah penyedia teknologi verifikasi kredensial yang berbasis di Singapura. “Saat ini, apa yang mungkin dan bisa diukur, dan agak aman, adalah konsep jaringan kepercayaan ini, di mana saya, sebagai pemverifikasi, mempercayai Anda sebagai penerbit untuk melakukan uji-tuntas terhadap lembaga layanan kesehatan asal Anda.”
“Di Affinidi, kami bekerja sama dengan para mitra untuk mengembangkan jaringan kepercayaan semacam ini untuk menjamin perjalanan yang aman, dan ini akan terus berlanjut sampai perusahaan memiliki versi yang baru,” tambahnya.
Masa depan
Ini masih tahap awal bagi kartu kesehatan dan kredensial COVID, dan tentu saja akan ada masalah awal yang harus dihadapi. Salah satu kerumitan yang mungkin timbul adalah bahwa beberapa negara atau maskapai penerbangan mungkin hanya mengakui tes dari laboratorium tertentu, sehingga tingkat mendetail tersebut harus diintegrasikan ke dalam sistem.
Masalah lain yang mungkin muncul adalah bahwa sebagian besar solusi saat ini tidak memungkinkan hasil tes untuk diubah atau diperbarui—jika, misalnya, hasil yang dimasukkan salah, atau tes atau vaksinasi tertentu kemudian ditemukan bermasalah. Hal ini mungkin akan berubah, tetapi pasti akan mempengaruhi laboratorium yang mungkin diharuskan untuk memperbarui beberapa bagian pada sistem dan prosedurnya.
Laboratorium tampaknya akan menyadari bahwa terlibat dalam lanskap yang baru ini sejak awal akan membantunya untuk memilliki pemahaman lebih baik, tetapi ia juga harus siap untuk beradaptasi terhadap perubahan yang mungkin terjadi seiring dengan stabilnya situasi.

