Lebih dari 5.000 perempuan di Thailand meninggal setiap tahunnya karena kanker serviks [1], menurut laporan tahun 2019 dari HPV Information Centre, 70% kanker ini disebabkan oleh dua galur papilomavirus manusia (HPV): HPV16 dan HPV18. Kedua jenis galur ini sekarang dapat dicegah oleh vaksin, namun HPV Information Center memperkirakan bahwa akan memakan waktu puluhan tahun sebelum dampak penuh dari vaksin ini dapat dirasakan. Terlebih lagi, karena vaksin tidak dapat mencegah semua infeksi atau kanker HPV (Papilomavirus Manusia), para perempuan masih perlu bergantung pada skrining rutin untuk diagnosis awal kanker serviks. Saat ini, para wanita ditawari skrining dengan pengujian yang telah digunakan selama 70 tahun terakhir. Dikembangkan oleh Dr. George Papanicolaou, Pap smear eponim adalah alat skrining standar emas untuk mendeteksi sel skuamosa abnormal di serviks, prekursor kanker. Tapi dengan sensitivitas lebih dari 55 persen [2], dan dengan ketersediaan alat skrining yang lebih baru dan lebih sensitif, apakah sudah waktunya untuk berhenti dengan pendekatan yang lama ini?
Pengujian HPV Primer vs Pap Smear
Sejak dimulainya Pap smear, pemahaman kita tentang kanker serviks telah meningkat secara dramatis. Sekarang kita tahu bahwa HPV terbagi dalam dua familia— virus berisiko tinggi termasuk HPV16 dan 18, serta galur yang kurang umum seperti 31, 33, 45, 52, 58, dan beberapa lainnya [3], dan galur berisiko rendah, seperti HPV6 dan 11, yang mencakup sekitar 90% kutil kelamin, namun jarang berkembang menjadi kanker [3]. Pap smear tidak membedakan kedua jenis ini. Ketidakmampuan untuk membedakan antara kelainan yang ganas dan jinak ini memicu jeram penelitian lebih lanjut, yang banyak di antaranya tidak diperlukan dan menyebabkan kecemasan yang tidak perlu bagi perempuan. Tapi semua ini berubah. Pada tahun 2014, US Food and Drug Administration menyetujui uji HPV pertama [4] untuk skrining kanker serviks. Pengujian berbasis DNA ini berhasil mendeteksi keberadaan virus HPV berisiko tinggi pada tingkat sensitivitas yang lebih dari 94 persen [2]. Yang sama pentingnya adalah kepercayaan yang tinggi dari hasil tes negatif. Hasil dari sebuah studi pada tahun 2009 di India menunjukkan bahwa tidak ada perempuan dengan hasil negatif HPV yang meninggal karena kanker serviks selama delapan tahun studi tersebut [5]. Studi lebih lanjut juga melaporkan keselamatan negatif hasil pengujian HPV berisiko tinggi selama tiga tahun. Pada tahun 2015, American Society for Colposcopy and Cervical Pathology (ASCCP) mengeluarkan algoritme skrining baru. Dengan menggunakan pengujian HPV berisiko tinggi sebagai alat skrining baris pertama, Society berpendapat, tindak lanjut dapat disesuaikan untuk kebutuhan individu perempuan, sehingga menghilangkan pengujian yang tidak diperlukan dan memungkinkan pelayanan pengobatan laboratorium untuk memberikan program skrining yang tepat waktu, bernilai tambah dan terfokus. Turki, Belanda, dan Australia adalah yang pertama kali menerapkan perubahan untuk program skrining mereka.

Di Thailand, Thai Gynecologic Cancer Society memulai suatu proyek percontohan untuk mengevaluasi algoritme skrining yang sama pada tahun 2016. Proyek percontohan ini mengadaptasi algoritme ASCCP untuk lebih membedakan antara galur HPV berisiko tinggi lainnya dan memodifikasi interval yang disarankan untuk pemeriksaan rutin setiap tiga tahun. Untuk menentukan efektivitas biaya seperti program skrining, secara matematis kami mencontoh tiga pendekatan skrining yang berbeda: Pap smear, pengujian HPV berisiko tinggi, dan fokus genotip HPV16/18 [6]. Kami menyimpulkan bahwa pengujian HPV berisiko tinggi adalah alat skrining yang paling hemat biaya. Pengujian HPV lebih murah daripada sitologi dan mendeteksi lebih banyak kanker serviks tahap awal daripada sitologi saja. Karena tingkat skrining kanker serviks di Thailand tetap suboptimal hanya sebesar 50 persen, rekan-rekan di Universitas Chulalongkorn meninjau akurasi hasil yang diperoleh dengan pengambilan sampel mandiri di rumah, yang sebanding dengan yang diperoleh dengan pengambilan sampel yang dilakukan oleh tenaga medis atau medis profesional [7]. Pengambilan sampel mandiri dapat membantu untuk lebih mendorong penyerapan skrining. Skrining primer dengan pengujian HPV DNA adalah strategi yang hemat biaya bagi Thailand yang akan memungkinkan deteksi dini kanker dan pra-kanker serviks pada lebih banyak perempuan dan pada akhirnya menghindari kematian yang tidak perlu dari penyakit ini. Referensi:
[1] Human Papillomavirus and Related Diseases Report. HPV Information Centre
[2] Pap Smear vs. HPV Screening Tests for Cervical Cancer
[3] HPV/Genital Warts
[4] FDA approves first human papillomavirus test for primary cervical cancer screening; US Food and Drug Administration
[5] Sankaranarayanan, R., et al., 2009. HPV Screening for Cervical Cancer in Rural India. New England Journal of Medicine, 361(3), pp.304-306.
[6] Termrungruanglert, W., et al., 2017. Cost-effectiveness analysis study of HPV testing as a primary cervical cancer screening in Thailand. Gynecologic oncology reports, 22, pp.58–63.
[7] Nilyanimit, P., et al., 2014. Comparison of Detection Sensitivity for Human Papillomavirus between Self-collected Vaginal Swabs and Physician-collected Cervical Swabs by Electrochemical DNA Chip. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 15(24), pp.10809-10812.

