International Union Against Sexually Transmitted Infections (IUSTI) World Congress baru-baru ini diadakan di Sydney, Australia. Untuk lebih memahami lanskap infeksi menular seksual (IMS) dan di mana elemen diagnostik memainkan peran, tim Lab Insights menghadiri konferensi untuk mendengar wawasan dari para ahli global.
Meningkatkan akses ke perawatan IMS melalui diagnostik
Peningkatan akses ke jasa diagnostik tetap merupakan faktor penting dalam meningkatkan hasil kesehatan masyarakat, terutama untuk IMS. Mengatasi hambatan seperti stigma dan ketakutan, yang sering mencegah populasi berisiko tinggi untuk mencari perawatan, dapat menyebabkan manajemen dan kontrol yang lebih efektif terhadap kondisi ini. Dr. Liu Po Yu dari Taichung Veterans General Hospital (Taiwan) menggarisbawahi pentingnya memberdayakan pasien dengan pengetahuan untuk mendorong manajemen kesehatan proaktif. Ketika pasien telah paham tentang apa yang terjadi, maka mereka akan lebih mampu membuat keputusan yang akan menghantarkan hidup yang lebih sehat.
Dr. Jason Ong dari Melbourne Sexual Health Center dan A/Prof Angela Kelly-Mossad dari University of New South Wales menekankan pentingnya menjadikan layanan diagnostik dapat diakses dan mudah digunakan. Dr. Ong menyarankan menggabungkan pengujian mandiri sebagai alat yang ampuh untuk mendemokratisasikan akses pada pengujian IMS, sambil menyebutkan keberhasilan mesin penjual otomatis di daerah pedesaan Australia di mana 70% pengguna belum pernah diuji IMS sebelumnya. A/Prof Kelly-Hanku mendukung pengurangan struktur hierarkis dalam mengakses diagnostik dan peningkatan literasi kesehatan, saat ia berbicara dari pengalamannya bekerja di komunitas pedesaan.
Salah satu sudut pandang kritis yang diangkat adalah pentingnya menyatukan suara masyarakat dalam perencanaan dan penyebaran layanan diagnostik untuk mengatasi stigma tertular IMS. Dengan melibatkan berbagai komunitas, alat diagnostik dan penyebarannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap komunitas. Dr. Liu menunjukkan bahwa tidak ada satu tes yang cocok untuk semua, sehingga menekankan akan kebutuhan solusi dapat diadaptasi dan mudah digunakan. Satu solusi yang seperti itu bisa berupa penggunaan tes point-of-care yang menawarkan hasil uji cepat. Digabungkan dengan normalisasi uji di rumah, ini bisa menjadi langkah ke depan untuk menguji lebih banyak orang.
Inovasi dalam layanan diagnostik saja tidak cukup. Ekosistem harus bersatu untuk memastikan pelayanan diberikan dalam satu kesatuan yang berkesinambungan untuk memastikan peningkatan akses ke perawatan IMS. Dengan pendekatan yang komprehensif dan terpadu, lebih banyak individu akan dapat menerima perawatan yang tepat waktu dan sesuai yang layak mereka terima.
Tidak semua diagnostik point-of-care dibuat sama
Meski diagnostik point-of-care (POC) telah diperkenalkan di beberapa lingkungan bersumber daya terbatas, menjanjikan hasil tes yang lebih cepat, efektivitas biaya, dan aksesibilitas pasien yang lebih besar, tetapi kenyataannya lebih kompleks. Diagnostik POC telah menunjukkan keberhasilan pada penduduk pedesaan di Australia dan bagian lain di Pasifik, memberikan perawatan primer penting dalam cara-cara yang aman secara budaya. Namun, keefektifannya dalam lingkungan yang sama tidak terjamin. Variasi dalam infrastruktur, praktik kesehatan, dan keterlibatan masyarakat dapat secara signifikan berdampak pada keberhasilan pengujian POC, menyoroti kebutuhan pendekatan yang disesuaikan yang mempertimbangkan tantangan unik dari setiap lingkungan.
Contoh paling terkenal yang didiskusikan di konferensi tersebut adalah Philani Ndiphile Trial yang saat ini sedang berlangsung di Afrika Selatan. IMS sangat umum di negara ini, terutama di kalangan ibu hamil. Percobaan ini menargetkan empat fasilitas kesehatan dasar dan berfokus pada perempuan yang menghadiri klinik antenatal di daerah pedesaan. Hal ini terstruktur sebagai percobaan implementasi keefektifan hibrid terkendali. Meskipun uji coba tersebut belum selesai, temuan awal diperlihatkan saat konferensi. Satu poin pentingnya adalah bahwa, meskipun tersedia area tunggu wanita selama 90 menit waktu penyelesaian, sebagian besar memilih untuk tidak menunggu hasil mereka. Panggilan telepon tindak lanjut dilakukan untuk mereka yang tidak bisa menunggu, tetapi hilangnya tindak lanjut sangat tinggi. Penyelenggara percobaan menekankan kebutuhan mendesak akan tes point-of-care yang memberikan hasil dalam 30 menit atau kurang untuk meningkatkan dampak pasien dan meningkatkan tingkat tindak lanjut.
Pengujian dapat membantu dengan meningkatnya resistensi antimikroba
Tema menonjol lainnya yang muncul di IUSTI tahun ini adalah meningkatnya kekhawatiran akan resistensi antimikroba di beberapa IMS yang semakin umum, terutama dengan antimikroba spektrum luas [1]. Seperti yang dikatakan Professor Catriona Bradshaw dari Melbourne Sexual Health Center, “Kami sekarang umumnya menghadapi infeksi yang tidak dapat disembuhkan.”
Infeksi Menular Seksual sebagian besar tetap asimptomatik, dengan riwayat alami mereka bervariasi secara signifikan dari satu orang ke orang lain. Sebagaimana dicatat Professor Nicola Low, Professor of Epidemiology and Public Health dari University of Bern, variabilitas ini menghasilkan “tidak ada refleksi yang akurat dari beban penyakit.” Skrining dan pengujian memainkan peran penting dalam mengidentifikasi infeksi asimtomatik, bertindak sebagai alat penting selain strategi promosi kesehatan seksual yang kuat dari pejabat kesehatan masyarakat. Selain itu, diagnostik molekuler sangat penting untuk menerapkan terapi yang dipandu resistensi, terutama mengingat laju mutasi yang meningkat pada IMS. Deteksi awal melalui diagnostik yang efektif tidak hanya membantu pengobatan yang tepat waktu tetapi juga membantu memerangi tantangan resistensi antimikroba yang semakin meningkat.
Mengingat banyak hal yang tidak diketahui tentang IMS, para ahli juga menghimbau adanya upaya-upaya pengawasan resistensi antimikroba global yang terkoordinasi dan regional, mengingat kebutuhan akan pemantauan kasus yang ketat karena pengobatan yang efektif masih jauh dan sedikit keberadaannya.
Sumber tambahan:
[1] Improving access and patient outcomes for sexually transmitted infections in the US
[2] Rapid point of care (POC) testing for STIs: Advancing care and improving clinical workflow
Referensi:
[1] Kenyon, C. et al. (2019) ‘Population-level antimicrobial consumption is associated with decreased antimicrobial susceptibility in neisseria gonorrhoeae in 24 European countries: An ecological analysis’, The Journal of Infectious Diseases [Preprint]. doi:10.1093/infdis/jiz153.

