Webinar 2:
Berangkat dari minat yang muncul pada sesi pertama, kami melanjutkan perbincangan tentang peningkatan standar kualitas di laboratorium patologi dengan webinar kedua dalam rangkaian ini, yang menampilkan wawasan dari Monash Health di Victoria, Australia.
Sesi ini menyoroti pendekatan praktis untuk mencapai keunggulan dalam kontrol mutu laboratorium, jaminan mutu internal, dan penilaian mutu eksternal, dengan penekanan yang kuat pada kolaborasi lintas peran. Mr. Alex Laslowski, Peneliti Utama di Monash Health, membagikan kerangka kerja praktis institusinya untuk memastikan kualitas di setiap tahap alur kerja patologi. Dalam perbincangan itu, ia menyoroti hal-hal berikut:
- Kendali Mutu (QC): Praktik terbaik yang diterapkan setiap hari untuk memastikan keandalan dan konsistensi hasil pengujian.
- Jaminan Mutu Internal (IQA): Sistem pemantauan proaktif dan inisiatif peningkatan berkelanjutan yang dirancang untuk mengidentifikasi tren dan mendorong optimasi proses.
- Jaminan Mutu Eksternal (EQA): Peran uji kompetensi dan tinjauan sistematis dalam membandingkan kinerja dan memenuhi standar internasional.
Sesi tersebut kemudian beralih ke diskusi panel, yang dipandu oleh Dr. Richie Lazaro, dan menampilkan Professor Beena Kumar, ahli patologi berpengalaman dan pemimpin akademik di Monash Health. Panel itu bersama-sama membahas bagaimana kolaborasi antara tenaga medis, patolog, dan staf teknis merupakan kunci untuk mempertahankan hasil berkualitas tinggi. Mereka juga berbagi tips rinci dan praktis tentang:
- Memupuk kerja sama tim di seluruh fungsi yang berbeda di laboratorium
- Membangun budaya akuntabilitas dan perbaikan berkelanjutan
- Menerapkan pendekatan sistematis untuk mencapai hasil QC yang konsisten dan kuat
Tontonlah webinar ini untuk menyimak strategi-strategi praktis yang dapat diterapkan untuk memperkuat sistem kualitas laboratorium dan saksikan langsung bagaimana kolaborasi multidisiplin menjadi kunci dalam mengubah laboratorium dari yang baik menjadi yang benar-benar hebat.
Webinar 1:
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat permintaan yang jelas dan terus meningkat akan akreditasi laboratorium seiring dengan semakin banyaknya laboratorium patologi yang menyesuaikan diri dengan standar internasional seperti CAP, ISO 15189, RCPA, dan JCI. Pergeseran ini mencerminkan fokus tidak hanya pada kepatuhan terhadap peraturan, tetapi juga pada pencapaian perbaikan berkelanjutan dalam mutu, konsistensi, dan kinerja. Dalam webinar edukasi ini, beberapa ahli memerinci apa yang diperlukan bagi laboratorium untuk bertransisi dari sekadar baik menjadi benar-benar hebat.
Sesi tersebut dimulai dengan presentasi Ms. Lin Yi-Jyun, seorang ahli teknologi medis senior dari National Taiwan University Hospital, yyang memberikan pandangan dari garis depan mengenai praktik kualitas. Presentasinya yang komprehensif membahas beberapa topik utama, termasuk:
- Persiapan untuk akreditasi laboratorium dan meningkatkan kesadaran di kalangan seluruh staf untuk beradaptasi dengan perubahan yang mungkin terjadi.
- Pendekatan sistematis dalam menjaga kontrol kualitas (QC) dalam kerangka akreditasi ISO 15189
- Wawasan praktis dalam memenuhi persyaratan ISO 15189 dan mengatasi tantangan yang dihadapi selama proses akreditasi
Hal ini dilanjutkan dengan diskusi panel yang menampilkan tiga perspektif penting di laboratorium — manajemen, ahli patologi, dan teknisi — untuk membahas bagaimana setiap peran berkontribusi dalam mencapai dan mempertahankan keunggulan kualitas. Berbagai perspektif ini diwakili oleh Professor Songkhun Vinyuvat, Ketua Komite Akreditasi Laboratorium, Thailand, dan Professor Zan Likun, seorang dokter praktik di Rumah Sakit Kanker Provinsi Shanxi, Tiongkok.
Selama diskusi, para peserta mengeksplorasi beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan, seperti:
Ms Lin: Di laboratorium kami, otomatisasi dan integrasi alur kerja membantu mengurangi variasi teknik di antara personel yang berbeda, sehingga menghasilkan kualitas pewarnaan yang lebih konsisten. Penggunaan sistem barcode juga meminimalkan kesalahan pewarnaan, seperti penggunaan antibodi yang salah. Selain itu, VSS software mencatat ID kasus-kasus yang tercatat, yang mendukung manajemen catatan.
Ms Lin: Kami menggunakan jaringan usus buntu sebagai kontrol positif untuk pewarnaan HE. Sebelum pengujian baru ditambahkan pada pengujian rutin kami, para ahli patologi seharusnya meninjau referensi terkait untuk mengidentifikasi penyakit mana yang diharapkan akan menunjukkan hasil pewarnaan positif. Kemudian, kasus-kasus yang telah didiagnosis sebelumnya dengan penyakit-penyakit tersebut digunakan untuk memvalidasi antibodi baru. Hanya antibodi yang lolos validasi yang diimplementasikan dalam pengujian rutin. Proses ini memastikan bahwa semua pengujian rutin memiliki kontrol positif.
Ms Lin: Ya, ini memang sangat penting. Dalam situasi yang paling ideal, kontrol positif sebaiknya berasal dari spesimen yang baru, dan jenis jaringan sebaiknya sesama mungkin dengan sampel uji. Namun, dalam praktiknya, mengidentifikasi dan menyiapkan kontrol positif yang sesuai dapat memakan waktu dan memerlukan banyak tenaga. Untuk beberapa pengujian, kasus positif sulit ditemukan, jadi terkadang kita harus berkompromi dan menggunakan sampel jaringan yang lebih lama.
Alternatif yang perlu dipertimbangkan: Blok jaringan kontrol harus diproses menggunakan metode fiksasi dan pengolahan yang sama atau serupa dengan spesimen uji. Pengguna harus selalu merujuk kembali ke lembar metode antibodi untuk menentukan jenis jaringan kontrol yang tepat untuk digunakan.
Saat ini belum ada panduan resmi dari program jaminan mutu eksternal (EQA) yang menentukan usia maksimum untuk blok jaringan yang digunakan sebagai kontrol di IHC. Ketika menggunakan blok jaringan yang lebih tua sebagai kontrol, penting untuk memverifikasi bahwa antigen target tetap terdeteksi dan kinerja pewarnaan tetap konsisten, karena stabilitas antigen dapat menurun dari waktu ke waktu karena berbagai kondisi.
Ms Lin: Sampel jaringan terbaru lebih baik. Jaringan apendiks dan amandel sering digunakan di laboratorium kami, karena dapat berfungsi sebagai kontrol positif untuk berbagai jenis uji, seperti penanda CD, sitokeratin (CK), Desmin, SMA, ALK(D5F3), dan lain-lain.
Alternatif yang perlu dipertimbangkan: Pengguna harus selalu merujuk pada lembar metode antibodi untuk menentukan jenis jaringan kontrol yang tepat untuk digunakan.
Ms Lin: Karena kurangnya personel laboratorium, kami hanya melakukan kontrol reagen negatif pada uji PD-L1.
Alternatif yang perlu dipertimbangkan: Lembar metode merekomendasikan penggunaan kontrol reagen negatif (NRCs) untuk interpretasi yang tepat dari uji IHC. Setiap blok jaringan yang diwarnai dalam uji IHC disarankan untuk disertai dengan NRC menggunakan irisan duplikat dari blok yang sama. NRC dapat mengkonfirmasi spesifisitas asai dan membantu untuk menilai tingkat pewarnaan latar belakang non-spesifik. Hal ini pada gilirannya akan mendeteksi pewarnaan positif palsu yang dapat menyesatkan interpretasi hasil IHC pasien.
Ms Lin: Bagian jaringan yang dikumpulkan untuk diagnosis disimpan sebagai blok FFPE. Jaringan yang tersisa disimpan dalam formalin dan biasanya dibuang setelah beberapa hari.
Ms Lin: Saya ambil contoh pewarnaan IHC di lab kami Pengujian paralel untuk alat baru biasanya melibatkan pewarnaan dengan Vimentin untuk membandingkan hasil antara alat baru dan alat lama. Dokumentasinya meliputi nomor instrumen, tanggal pengujian paralel, personel yang melakukan pengujian, dan hasil pengujian.
Saat ini kami mempunyai delapan instrumen di NTUH. Untuk memastikan bahwa akurasi dan kinerja setiap alat memenuhi standar yang diperlukan, kami melakukan perbandingan silang pewarnaan di antara semua mesin dengan menggunakan uji CD20 dan Ki-67 setiap tahun. Pendekatan kami mungkin tidak sempurna, tetapi saya berharap ini bisa menjadi referensi yang berguna.
Ms Lin: Tidak ada kewajiban dalam ISO 15189 untuk memeriksa QC setiap slide. Namun, dalam praktik laboratorium kami saat ini, selama waktu memungkinkan, kami akan memeriksa setiap slide satu per satu.
Ms Lin: Ketika diperlukan pemecahan masalah, kami biasanya melakukan pemeriksaan mandiri untuk mengesampingkan kemungkinan adanya masalah yang disebabkan oleh operator di laboratorium, dan kemudian menghubungi tim dukungan teknis dari vendor kami jika diperlukan. Terkadang, tim tersebut dapat mengidentifikasi masalah seperti pipa yang tersumbat di mesin, masalah reagen, atau dispenser yang perlu diganti. Sebenarnya, ketika kami meninjau hasil pewarnaan kontrol positif setiap hari, kami juga memantau kinerja pewarnaan alat tersebut untuk memastikan kestabilannya.
Alternatif yang perlu dipertimbangkan: Saat mengatasi masalah pewarnaan imunohistokimia, penting untuk menyadari bahwa terdapat berbagai penyebab potensial yang mungkin terlibat, termasuk faktor pra-analitis, reagen, instrumen, dan protokol. Pengguna harus menyelidiki masalah secara cermat dengan meninjau secara sistematis semua informasi yang tersedia, seperti hasil pengendalian, riwayat uji, status reagen, dan catatan instrumen, untuk mengidentifikasi sumber yang paling mungkin dan menerapkan tindakan korektif yang sesuai.
Dengan memeriksa hasil pewarnaan spesimen kontrol positif dan spesimen pasien setiap hari, pengguna dapat memantau kinerja alat secara efektif dan membantu memastikan kestabilannya secara berkelanjutan.
Prof. Zan: Ya, kami menggunakan e-dokumentasi. Di laboratorium kami, sebagian data dicatat dalam e-dokumen. Sebagai contoh, laporan laboratorium, catatan percobaan, dan data kendali kualitas semua dapat disimpan dalam e-dokumentasi. Hal ini tidak hanya menghemat ruang penyimpanan, tetapi juga membuat pengambilan dan pencarian informasi lebih mudah.
Kami harus memastikan keakuratan, keaslian, dan keamanan data yang tercatat dalam e-dokumen. Jadi, kami memerlukan sistem informasi untuk membantu kami merekam data secara objektif dan benar. Dan sistem ini mencakup fungsi seperti ekstraksi data kontrol kualitas, analisis, dan manajemen izin. Misalnya, ketika sebuah laporan eksperimental perlu diperbarui, sistem harus dapat secara otomatis merekam riwayat perubahan dan memastikan bahwa hanya personel yang berwenang yang dapat membuat perubahan. Bagian Informasi Rumah Sakit juga diminta untuk membantu kami dalam memastikan keamanan data. Kami telah menunjuk manajer informasi khusus, yang bertanggung jawab untuk manajemen informasi dan komunikasi.
Prof Zan: Penggunaan sistem pelacakan sampel di laboratorium merupakan langkah penting, karena memastikan keakuratan dan jejak audit data eksperimental. Di laboratorium kami, setiap sampel memiliki barcode unik untuk memudahkan pelacakan dan pengelolaan. Kami juga menggunakan sistem software untuk membantu kami mencatat dan melacak sampel secara elektronik. Saat ini, sistem informasi kami terutama digunakan untuk pencatatan otomatis proses kerja, termasuk waktu operasi dan nama-nama operator. Hal ini memungkinkan pemeriksaan informasi kapan saja. Kami juga dapat melacak riwayat dan operator saat menemukan masalah, dan memperbaikinya tepat waktu. Semua data dapat diekspor untuk analisis.
Selain itu, kami juga menggunakan sistem informasi manajemen reagen dan bahan habis pakai. Semua bahan habis pakai dan reagen memiliki catatan masuk-keluar stok, yang membantu kami merencanakan dan mengelola reagen serta bahan habis pakai secara ilmiah dan rasional.
Sistem pelacakan sampel memastikan pengelolaan sampel laboratorium yang efisien dan keakuratan data. Baik sistem manual maupun elektronik, tujuan utamanya adalah untuk menjamin keaslian proses eksperimental dan keandalan hasilnya.





