3 Tren Pasar Lab Teratas di India
Seiring dengan semakin berkembangnya sistem pelayanan kesehatan di seluruh India, pasar lab dalam negeri mengalami perubahan besar. Laboratorium mengadopsi teknologi baru dan inovatif dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya, sementara perubahan kebijakan berdampak pada mutu dan akses ke layanan laboratorium. Dalam artikel ini, tiga tenaga kesehatan profesional terkemuka di India berbagi pandangan mereka tentang tren ini dan apa artinya bagi evolusi pasar lab di India.
Mempercepat Kurva Adopsi Teknologi
Saat teknologi diagnostik baru diluncurkan di Amerika Serikat atau Eropa, biasanya dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk mencapai pasar India. Namun skenario ini dengan cepat berubah, ujar Dr. Nita Munshi, Director Laboratory & Quality dan Chairperson HICC di Ruby Hall Clinic, sebuah fasilitas rumah sakit multi-spesialisasi di Pune. “India dikenal sebagai pasar yang sedang berkembang dengan peluang besar dan solusi-solusi baru sedang diperkenalkan secara bersamaan di seluruh dunia,” ujar Munshi. Salah satu contohnya adalah patologi digital, yang hadir di India hampir bersamaan dengan peluncurannya di seluruh dunia. HiTech Diagnostics, sebuah perusahaan jasa laboratorium terkemuka di India Selatan, adalah salah satu yang pertama di India yang memiliki sistem patologi digital. “Ketika kami memulai pada tahun 1986, teknologi berkualitas belum tersedia bagi semua orang, tetapi akses ke teknologi kini sangat mudah,” kata Dr. SP Ganesan, CEO & Medical Director, HiTech Diagnostics. Ganesan berpendapat bahwa model bisnis yang inovatif dan jaringan yang kuat merupakan kunci penerapan teknologi baru secara efektif. Setelah mengadopsi patologi digital, misalnya, ia langsung mulai menjalin kerja sama dengan lab internasional untuk mendukung analisis gambar, serta bermitra dengan lab lokal untuk memperluas jangkauan layanan ini ke seluruh India.
Pasien yang Berperan Aktif Menuntut Kualitas yang Lebih Baik
Tren utama lainnya adalah meningkatnya kecanggihan klien penerima layanan kesehatan India, yang semakin terlibat dalam proses pemberian layanan. “Pasien lebih menekankan pentingnya memahami prosedur diagnostik,” ujar Joy Chakraborty, Chief Operating Officer P.D. Hinduja Hospital & Medical Research Centre, sebuah pusat pelayanan kesehatan tersier multi-spesialisasi di Mumbai. “Pasien hari ini ingin tahu penyakit dan prosedur yang direkomendasikan secara mendalam.” Khususnya di pusat-pusat kesehatan terkemuka, pasien juga menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar tentang potensi masalah kualitas. “Pasien telah mulai mempertanyakan keakuratan diagnostik,” ujar Dr. Ram Narain, Executive Director, Kokilaben Dhirubhai Ambani Hospital (KDAH), sebuah fasilitas pelayanan kesehatan ainnya yang berkedudukan di Mumbai. “Penting untuk meningkatkan kesadaran tentang arti mutu dalam layanan diagnostik.” namun demikian, sebagian kecil laboratorium di India yang telah mengajukan akreditasi dengan Badan Akreditasi Nasional untuk Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi (National Accreditation Board for Testing and Calibration Laboratories, NABL). Dewan Mutu India, yang mengawasi NABL, saat ini sedang berupaya memperkuat proses akreditasi [1]. “NABL sangat berfokus pada fase analisis, tetapi sejumlah besar kesalahan terjadi pada fase pra-analitis,” ujar Dr. Ganesan. “Perlu dilakukan audit dalam proses flebotomi, pengambilan sampel, dan transportasi untuk meningkatkan mutu laboratorium secara holistik.”
Perubahan Kebijakan Timbulkan Kekhawatiran tentang Pembatasan Harga
Meskipun pasien kelas menengah dan kaya di kota-kota besar di India semakin mendapatkan akses ke teknologi diagnostik terkini dan menuntut pelayanan kesehatan berkualitas tinggi, sebagian besar penduduk miskin dan pedesaan di negara ini masih kekurangan akses ke pelayanan dasar. Namun, hal ini berubah setelah diluncurkannya Ayushman Bharat pada tahun 2018, sebuah program masif pemerintah yang bertujuan untuk menyediakan jaminan kesehatan dan manfaat lainnya bagi 500 juta orang [2]. Sejalan dengan peluncuran Ayushman Bharat, Indian Council of Medical Research, sebuah organisasi penelitian biomedis yang didanai pemerintah, juga sedang mengembangkan Daftar Diagnostik Penting Nasional (National Essential Diagnostics List, NEDL) yang bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia [3]. Daftar ini dapat membantu menginformasikan diagnostik mana yang disediakan oleh Ayushman Bharat. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai batasan harga, ujar G Narotham Reddy, President, Group Procurement and Corporate Development di Apollo Group of Hospitals, salah satu penyedia layanan kesehatan terintegrasi terbesar di India. Reddy yakin bahwa batasan harga kemungkinan akan membuat rumah sakit tersier multi-spesialisasi enggan berpartisipasi dalam Ayushman Bharat, karena basis biaya dan standar mutu mereka dapat membuat mereka enggan memenuhi titik harga yang ditetapkan pemerintah. “Koreksi harga yang luas tidak bisa dilakukan dengan segera, ” ujar Reddy. “Jika kebijakan pemerintah diterapkan pada tingkat yang memungkinkan operasional sesuai standar JCI dan NABL, ini akan menjadi skenario ideal di mana hasil pasien tidak terpengaruh akibat pengendalian harga.”
Kesimpulan Utama
+ Pusat pelayanan kesehatan tersier terkemuka di India dengan cepat mengadopsi teknologi diagnostik baru seperti patologi digital + Pasien semakin menuntut akses ke layanan diagnostik berkualitas tinggi dan terlibat dalam keputusan perawatan mereka + Sebagian kecil laboratorium India terakreditasi, tetap meningkatnya kekhawatiran tentang kualitas dapat mengubah hal ini + Prakarsa Ayushman Bharat akan meningkatkan akses ke layanan kesehatan hingga 500 juta penduduk di daerah miskin dan pedesaan India, tetapi dapat menimbulkan pembatasan harga untuk diagnostik tertentu
Referensi:
[1]“Illegal path labs: India’s open secret,” Express Healthcare. (Dipublikasikan 30 Juli 2019; diakses 20 Januari 2020)
[2] “Ayushman Bharat: A big leap towards Universal Health Coverage in India,” KPMG Insights. (Dipublikasikan 4 Desember 2019; diakses 20 Januari 2020)
[3] “India gets its first national essential diagnostics list,” The Hindu. (Dipublikasikan 16 Agustus 2019; diakses 20 Januari 2020)





