Di dunia tanpa standar data COVID, muncul ekosistem kesehatan digital

September 9, 2021 Bullet Artikel

Kita masih pada titik dalam pandemi ini di mana berbicara tentang pelonggaran terasa sedikit terlalu dini, seolah-olah menantang takdir.

Namun, bukan hanya virusnya yang dapat memperlambat semua hal tersebut: ada juga kurangnya kesepakatan terkait standar global untuk mencatat, membagikan, dan memverifikasi data tentang status kesehatan seseorang yang akan menyertai pelonggaran besar perjalanan, di dalam atau di antara negara-negara tersebut.

“Jika anda bertanya kepada saya tentang hal ini 12 bulan yang lalu, saya akan berpikir bahwa hal ini seharusnya sudah tertangani, bahwa kita mestinya sudah menemukan cara untuk memulai kembali, berpergian, bekerja kembali, mengadakan kembali pertandingan dan acara langsung saat ini, ” ungkap Darren Toh, CEO AOKpass. “Namun, kenyataannya belum. Sekarang, apa yang muncul adalah jaringan penyedia yang sangat tersebar.”

Pasar yang terfragmentasi ini mungkin dapat dipahami. Salah satunya data kesehatan—apakah Anda sudah divaksin, apakah Anda sudah terjangkit COVID, apakah Anda sudah dites—menyentuh isu privasi yang serius, yang sering kali ditangani secara berbeda oleh yurisdiksi yang berbeda.

Kemudian, ada hubungan di rantai ini, mulai dari lab yang menguji pasien, entitas sektor publik dan swasta yang memberikan vaksin, rumah makan dan tempat kerja yang ingin mencegah penyebaran COVID di fasilitasnya, hingga maskapai penerbangan yang ingin mengangkut dan menurunkan penumpang dengan cepat sementara pada saat yang sama memastikan mereka memenuhi syarat dari negara asal keberangkatan dan semua tujuan. Membuat solusi untuk semua orang, bahkan di dalam suatu negara, tidaklah semudah kelihatannya.

Pelajaran dari negara kota

Salah satunya adalah model Singapura. Negara ini telah menjalin hubungan erat dengan komunitas teknologi untuk membangun sebuah ekosistem yang diharapkan akan dipadukan sebaik mungkin dengan negara-negara lain, dan dapat diterapkan oleh negara-negara tersebut.

Simon Gordon, Chief Commercial Officer Accredify yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa ketika dia dan CEO-nya, Zheng Wei Quah, mulai tahun lalu, jelas bahwa masalah terbesar pemerintah adalah hal yang relatif sederhana: cara mempercepat proses penerbitan sertifikat untuk (sebagian besar) pekerja konstruksi migran yang telah terjangkit COVID, tetapi tidak lagi menular.

Mereka yang memegang sertifikat tersebut, yang disebut memo pemulangan pasien, dapat kembali bekerja. Dengan melakukan digitalisasi dan otomatisasi sebanyak mungkin dari proses tersebut, Simon mengatakan mereka membantu mempercepat proses. Saat melakukan hal itu, mereka melihat masalah lain: meskipun tingkat wisatawan yang rendah, petugas di pos pemeriksaan imigrasi di Singapura sedang berjuang dengan harus secara manual memeriksa rekam medik dan laporan diagnosis terkait COVID yang berbasis kertas.

Hal tersebut membawa mereka bekerja dengan GovTech, agen layanan digital pemerintah, dan lainnya untuk membantu membangun HealthCerts, standar sumber terbuka yang dapat diverifikasi untuk tes sebelum keberangkatan (PDT) dan sertifikat vaksin COVID-19. Pada bulan Februari, pemerintah mengamanatkan agar semua klinik di Singapura yang memberikan pelayanan PDT untuk mengeluarkan sertifikat dalam format HealthCerts.

Singapura telah membuat semua teknologi yang mendasari menjadi sumber terbuka, dan berharap negara-negara lain akan mengadopsinya. Namun, terlepas dari apakah hal tersebut terjadi, negara ini telah membuka jalan bagi ekosistem para pemain pendukung. Di satu sisi, banyak perusahaan memberikan layanan penerbitan kepada lab dan klinik, baik dengan membantu mereka mengeluarkan sertifikat digital yang sesuai dengan standar HealthCert atau menerbitkannya atas nama mereka.

Kemudian, ada perusahaan yang menyediakan layanan verifikasi kepada pemerintah, penyedia teknologi penerbangan, dan maskapai penerbangan sehingga mereka dapat dengan mudah memeriksa validitas sertifikat HealthCert melalui kode QR.

Ekosistem sampai batas tertentu telah bercabang, antara layanan penerbitan dan layanan verifikasi. Sementara Accredify berfokus pada yang pertama, perusahaan Singapura lainnya, Affinidi, berfokus pada yang kedua, dengan membangun apa yang disebut ‘universal verifier’ yang dapat memverifikasi sebagian besar standar kredensial digital.

Secara keseluruhan, layanan-layanan ini menyelesaikan banyak masalah rantai, mulai dari menerbitkan catatan tes atau vaksinasi hingga tujuan akhir yang dapat melakukan verifikasi dan autentikasi dengan mudah, tanpa mengorbankan privasi.

Namun, kemungkinan lebih banyak lagi bagian dari ekosistem yang akan dipisah seiring dengan perkembangan landskapnya Contohnya, ada berbagai layanan yang menyediakan dompet digital bagi setiap orang untuk menyimpan sertifikat HealthCert mereka, yang sekali lagi dibangun pada perangkat lunak yang telah dijadikan sumber terbuka oleh pemerintah Singapura.

Seiring dengan meningkatnya penggunaan, kemungkinan ada lebih banyak ruang yang akan membutuhkan lapisan atau layanan tambahan. Scott Wong, seorang tenaga medis inovatif asal Singapura, menyatakan bahwa kredensial kesehatan yang didasarkan pada tes PCR, walaupun sangat akurat, dapat memerlukan banyak tenaga dan waktu, yang membuatnya kurang berguna dalam beberapa situasi.

Scott mengatakan bahwa jawabannya adalah untuk tes mandiri secara paralel menggunakan Antigen Rapid Test atau ART. Layanan terbarunya, melalui aplikasi web progresif yang disebut ART Buddy, telah bertanggung jawab mengumpulkan hasil dari sekitar 10.000 pengguna setiap hari, yang pada awalnya di antara komunitas pekerja konstruksi asing Singapura, yang sebagian besar tinggal di asrama di zona khusus. Aplikasi ini sekarang tersedia di situs MOH sebagai panduan tes ART dan Scott sekarang bekerja sama dengan Militer negara.

Memang, meskipun sebagian besar perhatian pada paspor COVID telah ada pada perjalanan internasional, yang masih melibatkan relatif sedikit orang, membuka ekonomi domestik mungkin merupakan area aktivitas yang lebih besar. Accredify, misalnya, juga telah meluncurkan layanan untuk memecahkan beberapa titik permasalahan operasional sekitar tes 10-an, 100-an, atau bahkan 1.000-an karyawan. Pendekatan tersebut menawarkan skala dalam hal membantu organisasi besar mengelola hasil tes dan verifikasi, biasanya dalam satu negara.

Namun, bekerja melintasi perbatasan memerlukan skala yang berbeda. AOKpass, misalnya, bermitra dengan International SOS, penyedia jasa medis dan logistik internasional, yang memberi mereka akses ke sekitar 90.000 lab terakreditasi di seluruh dunia. Ketika klien International SOS perlu mengerahkan pekerjanya dan lab membutuhkan bantuan, AOKpass akan mengintegrasikan lab tersebut dan memberikan kredensial yang diperlukan untuk perjalanan tim. Awal bulan ini, AOKpass mengawasi tes dan penerbitan kredensial untuk penerbangan carteran bagi penumpang dan awak dari Afrika Selatan ke Mongolia atas nama Rio Tinto.

Ini adalah langkah awal. Negara dan wilayah menempuh jalur yang berbeda dalam penerbitan dan verifikasi kredensial, serta menunjukkan beberapa tanda-tanda konsolidasi—apa yang disebut Darren Toh dari AOKpass “kekayaan ragam dari pendekatan, kerangka kerja teknis, dan kerangka kerja operasional yang berbeda”. Sementara HealthCerts Singapura menggunakan model blockchain untuk memverifikasi integritas sertifikat, misalnya, Uni Eropa menggunakan infrastruktur kunci publik, atau PKI. Standar privasi keduanya sangat berbeda.

Ditambah lagi kecenderungan beberapa solusi lulus yang lebih besar untuk fokus pada area tertentu—perjalanan, katakanlah, atau verifikasi atas penerbitan—maka ekosistem pasti akan bervariasi seiring munculnya kesenjangan dan kebutuhan. Hal ini berarti bahwa bagian dari bisnis AOKpass, misalnya, adalah membangun struktur yang memungkinkan interoperabilitas antara kedua sistem.

Hal ini juga berarti bahwa dalam lanskap yang terus berkembang ini, AOKpass juga harus menyesuaikan layanan dan produknya. “AOKpass terlihat berbeda di setiap yurisdiksi,” ungkap Darrenis. “Mungkin saja kami memiliki server yang hanya beroperasi di UE untuk operasi berbasis UE, dan layanan berbasis Singapura yang sesuai dengan persyaratan Singapura. Jadi, ini adalah tingkat lain dari kompleksitas yang diperlukan untuk berkembang pada tingkat global.”

Apa artinya hal bagi lab klinis

Yang jelas adalah sama seperti COVID yang tidak akan segera menghilang, ekosistem layanan yang ada di sekitar kebutuhan, standar, dan perbedaan yurisdiksi juga akan bertumbuh seiring dengan perkembangan ruang ini. Untuk lab ada hal positif dan tantangan.

Keengganan untuk berinvestasi di teknologi untuk menerbitkan, menyimpan, dan memverifikasi kredensial kesehatan akan menurun dengan makin lamanya pandemi berlangsung. Semua orang pada akhirnya akan tertarik untuk menyadari dan beradaptasi pada kompleksitas yang berkembang dari perjalanan di antara dan di dalam negara-negara pada tahap pandemi yang berbeda. Hal ini berarti bahwa pemerintah dan organisasi internasional akan didorong untuk memprioritaskan kesepakatan mengenai standar, kredensial, dan proses.

Ekosistem para pemain kesehatan digital kemungkinan akan meluas dan penyedia solusi teknologi akan menyadari kebutuhan untuk bekerja lebih dekat dengan komunitas medis—termasuk lab—untuk membangun pelayanan yang memperhitungkan beragam adopsi TI. AOKpass, melalui kemitraannya dengan International SOS, telah mengadaptasi layanannya untuk memenuhi kebutuhan ini, dan mencakup sebuah alur kerja untuk level terbawah yang hanya membutuhkan sebuah aplikasi yang disimpan di ponsel pintar.

Sama halnya, Simon dari Accredify mengatakan bahwa layanannya dapat berintegrasi dengan Laboratory Information Management System atau, jika lab tidak memilikinya, layanan ini dapat melakukan pengunggahan ke portal web perusahaan. Sebelum semua ini, Accredify akan membangun templat tergantung kebutuhan klien lab sendiri—bidang data dan tes yang diperlukan untuk warga Tiongkok yang mengunjungi Jepang, misalnya.

Fragmentasi pasar ini, mulai dari syarat dan standar suatu negara hingga solusi yang tidak memenuhi seluruh kemungkinan kebutuhan, diperkirakan akan mendorong sebagian besar klinik untuk bekerja sama dengan penyedia eksternal agar dapat menangani kompleksitas ini. Menangani hal ini jelas akan menjadi beban yang sangat berat bagi siapa pun, kecuali lab yang paling canggih. Pada saat yang sama, ART Buddy milik Scott Wong juga merupakan visi masa depan: di mana tes cepat dalam skala besar dapat menjadi hal yang lumrah.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top