{"id":141843,"date":"2019-06-11T03:50:54","date_gmt":"2019-06-11T03:50:54","guid":{"rendered":"https:\/\/labinsights.com\/acf_article\/3-langkah-untuk-mengurangi-dampak-interferensi\/"},"modified":"2026-04-08T12:11:29","modified_gmt":"2026-04-08T12:11:29","slug":"3-steps-to-mitigate-the-impact-of-interference","status":"publish","type":"acf_article","link":"https:\/\/labinsights.com\/id\/disease-area\/coagulation\/steps-to-mitigate-the-impact-of-interference\/","title":{"rendered":"3 langkah untuk mengurangi dampak interferensi"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"141843\" class=\"elementor elementor-141843 elementor-83626\" data-elementor-post-type=\"acf_article\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-355565d3 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"355565d3\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-1716eec3 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"1716eec3\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t Suplemen makanan yang banyak digunakan, vitamin B7 atau biotin, banyak menimbulkan kekhawatiran tahun lalu. Ditemukan bahwa biotin dapat\u00a0mengganggu beberapa pemeriksaan laboratorium, sehingga Badan\u00a0Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan\u00a0peringatan. Interferensi tersebut bukanlah hal baru dalam dunia kedokteran laboratorium dan akan terus menjadi\u00a0tantangan seiring hadirnya obat, pemeriksaan, dan suplemen baru di pasaran. Dan hal ini tidak hanya memengaruhi pemeriksaan berbasis laboratorium,\u00a0bahkan alat glukosa pemeriksaan di tempat perawatan yang sederhana maupun pemeriksaan kehamilan juga dapat terpengaruh. Namun bagi tim kedokteran laboratorium yang semakin ramping, interferensi menghadirkan ancaman tambahan. Seiring\u00a0kemajuan dalam otomasi dan analisis data besar, banyak laboratorium saat ini dapat memproses seluruh volume\u00a0sampel kimia harian hanya dengan dua ilmuwan laboratorium yang menjalankan lini tersebut. Namun ketika ada panggilan balik\u00a0akibat hasil yang tidak biasa, model operasi yang telah dirancang dengan cermat ini menjadi terganggu, sehingga\u00a0mengacaukan proses pemeriksaan berikutnya. Dalam tim yang hanya terdiri dari dua orang tersebut, satu orang harus melakukan pemecahan masalah, yang pada akhirnya\u00a0memengaruhi kemampuan tim untuk melaporkan nilai mendesak atau menangani sampel prioritas dari pasien dengan kondisi yang\u00a0mengancam jiwa. Meskipun interferensi tidak selalu dapat diprediksi, ada banyak aspek di mana hal tersebut dapat dicegah.\u00a0Berikut tiga langkah untuk mengurangi dampak interferensi yang sebenarnya dapat dicegah, seperti interferensi akibat biotin\u00a0guna membantu tim laboratorium tetap bekerja secara efisien dan efektif. <h2 class=\"text-align-justify\" style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Langkah 1: Edukasi bagi penyedia layanan dan pasien<\/h2> \nSebagai para ahli kedokteran laboratorium, kita harus mampu keluar dari ruang laboratorium dan memberikan edukasi kepada\u00a0pelanggan\u2014baik itu pasien maupun penyedia layanan kesehatannya. Melalui presentasi kepada dokter saat\u00a0Diskusi Besar di rumah sakit, konferensi, atau bahkan melalui posting blog dan peringatan email, kita perlu membangun\u00a0kemitraan dan pemahaman untuk mendukung penyebaran pengetahuan. Di UC Davis, kami meluncurkan sebuah blog praktik terbaik laboratorium [1]\u00a0sekitar dua tahun lalu. Ditujukan bagi para penyedia layanan,\u00a0kami mempublikasikan satu entri setiap bulan yang membahas topik-topik penting, termasuk tentang interferensi.\u00a0Tapi kita tidak boleh melupakan pasien. Dalam kasus biotin atau sumber interferesni\u00a0lain yang dapat dicegah, kita perlu memberikan edukasi kepada pasien tentang cara mempersiapkan diri untuk pemeriksaan mereka, misalnya\u00a0melalui lembar instruksi atau pengingat. <h2 class=\"text-align-justify\" style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Langkah 2: Pengawasan<\/h2> Pilar kedua adalah pengawasan. Untuk memastikan upaya edukasi yang tepat dapat diterapkan, sangat\u00a0penting untuk memahami karakteristik populasi lokal laboratorium, bahkan populasi nasional secara keseluruhan. Sebagai\u00a0contoh, apakah biotin benar-benar merupakan suplemen yang umum digunakan dalam populasi tersebut, dan apakah dosisnya cukup tinggi hingga berpotensi terdeteksi? Mengompilasi data dari catatan laboratorium sendiri serta dari basis data seperti Manufacture and User Facility Device Experience (MAUDE) milik FDA [2]\u00a0membantu membangun gambaran tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus penggunaan biotin, basis data MAUDE menunjukkan bahwa sebagian besar\u00a0pemeriksaan yang mengalami interferensi akibat biotin melibatkan pasien dengan multiple sclerosis. Para pasien ini mengonsumsi\u00a0lebih dari 100 mg biotin per hari sebagai penggunaan suplemen di luar indikasi. Namun, hal ini dapat\u00a0ditelusuri oleh tim laboratorium bersama tim perawatan saat pengambilan anamnesis, dan dapat\u00a0direncanakan ketika menjadwalkan pemeriksaan. Di UC Davis, kami melangkah lebih jauh karena kami ingin mengetahui apakah gangguan akibat biotin kemungkinan terjadi pada populasi pasien kami. Kami menelaah rekam medis elektronik dari lebih dari 800 pasien dan menemukan bahwa tidak ada satu pun pasien yang memiliki konsentrasi biotin mendekati level yang dapat\u00a0mengganggu pemeriksaan. Namun, setelah peringatan FDA bahwa biotin dapat mengganggu pengukuran troponin, kami melakukan tinjauan multi-pusat terhadap 1.443 sampel dari 850 pasien. Kami menemukan bahwa kadar biotin terdeteksi pada kurang dari setengahnya. Sekali lagi, hasil ini meyakinkan kami bahwa interferensi akibat biotin kemungkinan sangat jarang terjadi pada populasi pasien kami, terlepas dari pemberitaan media. <h2 class=\"text-align-justify\" style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Langkah 3: Proaktivitas<\/h2> Aspek terakhir adalah mengambil langkah proaktif untuk menangani potensi interferensi sebelum hal\u00a0tersebut memengaruhi proses laboratorium. Di UC Davis, kami telah mengevaluasi penerapan sistem peringatan dini elektronik ke dalam sistem kami. Peringatan ini\u00a0memberi tahu penyedia layanan dan laboratorium bahwa pemeriksaan yang dipesan berpotensi dipengaruhi oleh gangguan biotin.\u00a0Namun, kita perlu menyadari bahwa peringatan semacam ini sering diabaikan, karena data menunjukkan bahwa hampir\u00a0tiga dari empat peringatan sistem kesehatan elektronik yang terkait dengan obat-obatan diabaikan oleh pengguna. Karena itu,\u00a0strategi ini tidak bisa menjadi satu-satunya pendekatan, tetapi dapat berfungsi sebagai garis pertahanan terakhir. Mengurangi gangguan yang disebabkan oleh interferensi yang sebenarnya dapat dicegah memerlukan strategi terpadu yang\u00a0berbasis bukti. Memahami populasi pasien merupakan kunci untuk menilai kemungkinan suatu zat tertentu\u00a0menimbulkan interferensi dalam pemeriksaan laboratorium. Beberapa interferensi, seperti interferensi heterofil\u00a0tidak dapat diprediksi maupun dicegah. Namun, ketika interferensi dapat dicegah, sangat penting bagi kita di\u00a0bidang kedokteran laboratorium untuk secara proaktif mendukung dokter dan pasien dengan edukasi yang tepat agar interferensi tersebut\u00a0dapat dicegah. Seperti halnya pada semua aspek layanan kesehatan, pencegahan selalu lebih baik daripada\u00a0pengobatan. <a href=\"https:\/\/health.ucdavis.edu\/blog\/lab-best-practice\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[1] <\/a>&#8220;UC Davis Health Lab Best Practice&#8221;\u00a0<a href=\"https:\/\/health.ucdavis.edu\/blog\/lab-best-practice\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/health.ucdavis.edu\/blog\/lab-best-practice<\/a> <a href=\"https:\/\/www.accessdata.fda.gov\/scripts\/cdrh\/cfdocs\/cfmaude\/search.cfm\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[2]<\/a>\u00a0&#8220;MAUDE &#8211; Manufacture\u00a0and User Facility Device Experience&#8221;, US Department of Health and Human Services <hr \/> <em>Artikel ini didasarkan pada presentasi: <\/em>Interferensi Imunoassay: Fakta, wawasan, dan pendekatan pragmatis\u00a0<em>pada Roche Efficiency Days (RED) 2018 REDefining Perspective di Guangzhou, Tiongkok.<\/em>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suplemen makanan yang banyak digunakan, vitamin B7 atau biotin, banyak menimbulkan kekhawatiran tahun lalu. Ditemukan bahwa biotin dapat\u00a0mengganggu beberapa pemeriksaan laboratorium, sehingga Badan\u00a0Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan\u00a0peringatan. Interferensi tersebut bukanlah hal baru dalam dunia kedokteran laboratorium dan akan terus menjadi\u00a0tantangan seiring hadirnya obat, pemeriksaan, dan suplemen baru di pasaran. Dan hal ini tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":83630,"parent":0,"menu_order":0,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"site-sidebar-layout":"no-sidebar","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"full-width-container","site-content-style":"unboxed","site-sidebar-style":"unboxed","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"tags":[12858],"pillarandcategory":[292,304,282,300],"reporter":[12900],"class_list":["post-141843","acf_article","type-acf_article","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","tag-12858","pillarandcategory-coagulation","pillarandcategory-clinician-engagement","pillarandcategory-disease-area","pillarandcategory-management","reporter-nam-k-tran"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/141843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article"}],"about":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/acf_article"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"version-history":[{"count":21,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/141843\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":150341,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/141843\/revisions\/150341"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141843"},{"taxonomy":"pillarandcategory","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pillarandcategory?post=141843"},{"taxonomy":"reporter","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/reporter?post=141843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}