{"id":142289,"date":"2023-02-20T07:34:06","date_gmt":"2023-02-20T07:34:06","guid":{"rendered":"https:\/\/labinsights.com\/acf_article\/tev-di-asia-faktor-risiko-diagnosis-dan-pengobatan\/"},"modified":"2026-01-06T12:05:29","modified_gmt":"2026-01-06T12:05:29","slug":"venous-thromboembolism-vte-in-asia-risk-factors-diagnosis-and-treatment","status":"publish","type":"acf_article","link":"https:\/\/labinsights.com\/id\/disease-area\/coagulation\/venous-thromboembolism-vte-in-asia-risk-factors-diagnosis-and-treatment\/","title":{"rendered":"TEV di Asia: faktor risiko, diagnosis, dan pengobatan"},"content":{"rendered":"<p>Baik populasi Barat maupun Asia memiliki faktor risiko TEV serupa, yaitu suatu kondisi yang biasanya bermanifestasi sebagai trombosis vena dalam (TVD) atau emboli paru (EP). Namun bukti menunjukkan bahwa kasus TEV di Asia mungkin kurang dilaporkan [1]. Karena TEV merupakan masalah utama bagi pasien dan sistem pelayanan kesehatan, kesenjangan pelaporan ini perlu ditangani. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Faktor-faktor risiko TEV<\/h2>\n<p> Ada dua kategori faktor risiko TEV\u2014turunan atau didapat. Faktor risiko turunan terjadi karena kelainan genetik yang memengaruhi jalur koagulasi. Baik populasi Asia maupun Barat menghadapi insiden faktor risiko turunan yang cukup besar, namun jenis faktor risiko turunannya berbeda secara signifikan antara kedua kelompok [1]. Faktor risiko TEV yang didapat meliputi pembedahan, trauma, istirahat di tempat tidur dalam waktu lama, imobilitas, obesitas, penggunaan kontrasepsi oral, usia lanjut, keganasan, dan kelumpuhan. Ini dapat dibagi lagi menjadi faktor risiko yang dapat dipulihkan dan yang tidak dapat dipulihkan. Tidak seperti faktor risiko TEV turunan, perbedaan etnis tidak ditemukan pada faktor risiko yang didapat. Beberapa bukti menunjukkan bahwa risiko TEV\u00a0serupa pada populasi Asia dan Barat dalam konteks perawatan intensif, pascabedah, dan pengobatan onkologi [1-3], namun karena sedikitnya penelitian prospektif berskala besar untuk menentukan insiden TEV yang sebenarnya (simtomatik dan nonsimtomatik) pada pasien Asia, bukti keseluruhannya terbatas [2]. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Beban penyakit TEV<\/h2>\n<p> Beban penyakit TEV merupakan fungsi dari tingkat kematiannya, risiko kekambuhan, dan komplikasi jangka panjangnya yang parah, seperti hipertensi paru kronis dan sindrom pascatrombotik.1 Hipertensi paru kronis biasanya muncul dengan gejala kardio-pernapasan, misalnya sesak napas, nyeri dada, dan kelelahan. Sindrom pascatrombotik bermanifestasi sebagai nyeri kaki kronis, edema yang sulit diatasi, dan, jika parah, ulkus vena [4,5]. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap pasien secara fisik dan psikososial, serta membatasi kegiatan sehari-hari, termasuk produktivitas kerja [4,5]. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Diagnosis TEV<\/h2>\n<p> Diagnosis TEV sama, tanpa memandang etnis, dan didasarkan pada penilaian klinis dan pengujian diagnostik [1]. Penilaian klinis mempertimbangkan tanda, gejala, dan faktor risiko yang terkait dengan TEV, mengesampingkan kondisi medis lainnya. D-dimer diproduksi dari degradasi fibrin, dan biasanya meningkat dalam TEV. D-dimer dihasilkan dari degradasi fibrin, dan biasanya meningkat dalam TEV. Namun, kadarnya juga meningkat pada kondisi lain, seperti infeksi dan stroke. Oleh karena itu, tidak adanya peningkatan kadar D-dimer memungkinkan dokter untuk menyingkirkan TEV bila digunakan dalam kombinasi dengan probabilitas prauji klinis pada populasi Asia dan Barat. Untuk pencitraan, ultrasonografi kompresi (untuk TVD) dan angiografi tomografi terkomputasi multidetektor (untuk EP) adalah metode pengujian pilihan [1]. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Pencegahan dan pengobatan TEV<\/h2>\n<p> Pencegahan TEV mengharuskan pasien dikategorikan berdasarkan faktor risiko yang didapat. Karena faktor risiko pada populasi Asia serupa dengan populasi Barat, alat penilaian risiko serupa, seperti model penilaian risiko CAPRINI, dapat digunakan [3]. Pasien yang berisiko terkena TEV biasanya diberikan profilaksis farmakologis seperti antikoagulan oral atau heparin berat molekul rendah (low molecular weight heparin, LMWH) [3].\u00a0Namun, profilaksis TEV kurang dimanfaatkan di Asia karena kekhawatiran akan terjadinya perdarahan, kurangnya penelitian untuk menentukan risiko perdarahan pada pasien Asia dengan obat profilaksis ini [3], dan persepsi bahwa TEV tidak sepopuler populasi Asia dibandingkan populasi Barat. Pedoman pencegahan TEV Asia merekomendasikan bahwa [3]: <\/p>\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li style=\"list-style-type: none;\">\n<ul>\n<li>Profilaksis farmakologis dimulai setelah mempertimbangkan risiko perdarahan versus risiko trombotik<\/li>\n<li>Jika risiko perdarahan dan trombotik tinggi, profilaksis mekanis harus menggunakan perangkat mekanis kompresi pneumatik intermiten (intermittent pneumatic compression, IPC). Pengekang ini dipasang di sekitar kaki dan diisi dengan udara, meremas kaki untuk meningkatkan aliran darah melalui pembuluh darah dan membantu mencegah penggumpalan darah [6]<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p> \u00a0 Pedoman tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa risiko pendarahan pada orang Asia yang menggunakan antikoagulan (oral dan heparin) lebih tinggi dibandingkan dengan populasi Barat [1,3]. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Pengobatan TEV<\/h2>\n<p> Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah perluasan trombus dan kekambuhan TEV melalui intervensi farmakologis atau mekanis [1].\u00a0Seperti halnya pencegahan TEV, antikoagulan juga digunakan untuk mengobati trombus. Durasi pengobatan TEV minimal harus tiga bulan, dengan pilihan untuk memperpanjang pengobatan tergantung pada pengobatannya dibandingkan dengan risiko pendarahan [1]. <\/p>\n<h2 style=\"font-family: Inter !important; font-weight: 500 !important; font-size: 28px !important; line-height: 36px !important; letter-spacing: 0px !important;\">Berbuat lebih banyak demi pasien<\/h2>\n<p> Kejadian dan faktor risiko TEV pada populasi Asia serupa dengan populasi Barat yang diteliti dengan baik. Meningkatnya jumlah kasus TEV yang dilaporkan di Asia menunjukkan meningkatnya kewaspadaan dokter untuk memeriksa kondisi ini. Namun, mengingat dampak TEV pada hasil pasien, lebih banyak yang harus dilakukan untuk pasien TEV Asia. <\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><em>Juga di Lab Insights: Dr. Pantep Angchaisuksiri, dari Rumah Sakit Ramathibodi, Mahidol University, Thailand, membahas pengalamannya dalam mendiagnosis dan menangani TEV dalam konteks Asia. Ia juga berbagi wawasannya sebagai Presiden baru International Society of Thrombosis and Haemostasis. Klik<a href=\"https:\/\/labinsights.com\/id\/disease-area\/coagulation\/expanding-vte-awareness-in-asia-incoming-isth-president-professor-pantep-angchaisuksiri-calls-for-new-efforts\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> di sini untuk artikel.\u00a0<\/a><\/em><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><em>Referensi:<\/em><\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC5774147\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[1]<\/a> Wang KL, Yap ES, Goto S, Zhang S, Siu CW, Chiang CE. The diagnosis and treatment of venous thromboembolism in Asian patients. Thromb J. 2018;16:4. doi:10.1186\/s12959-017-0155-z<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.frontiersin.org\/articles\/10.3389\/fcvm.2021.669288\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[2]<\/a> Lee LH, Nagarajan C, Tan CW, Ng HJ. Epidemiology of Cancer-Associated Thrombosis in Asia: A Systematic Review. Front Cardiovasc Med. 2021;8:669288. doi:10.3389\/fcvm.2021.669288<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.minervamedica.it\/en\/journals\/international-angiology\/article.php?cod=R34Y2017N01A0001\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[3]<\/a> Liew NC, Alemany GV, Angchaisuksiri P, et al. Asian venous thromboembolism guidelines: updated recommendations for the prevention of venous thromboembolism. Int Angiol. Feb 2017;36(1):1-20. doi:10.23736\/s0392-9590.16.03765-2<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC6142466\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[4] <\/a>Kahn SR. The post-thrombotic syndrome. Hematology Am Soc Hematol Educ Program. Dec 2 2016;2016(1):413-418. doi:10.1182\/asheducation-2016.1.413<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC4967564\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[5]<\/a> Mathai SC, Ghofrani HA, Mayer E, Pepke-Zaba J, Nikkho S, Simonneau G. Quality of life in patients with chronic thromboembolic pulmonary hypertension. Eur Respir J. Aug 2016;48(2):526-37. doi:10.1183\/13993003.01626-2015<\/p>\n<p class=\"text-align-justify\"><a href=\"https:\/\/www.hopkinsmedicine.org\/health\/treatment-tests-and-therapies\/dvt-prevention-intermittent-pneumatic-compression-devices\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">[6] <\/a>Hopkins Medicine. DVT Prevention: Intermittent pneumatic compression device. Tersedia di: https:\/\/www.hopkinsmedicine.org\/health\/treatment-tests-and-therapies\/dvt-prevention-intermittent-pneumatic-compression-devices. Diakses Oktober 2022.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baik populasi Barat maupun Asia memiliki faktor risiko TEV serupa, yaitu suatu kondisi yang biasanya bermanifestasi sebagai trombosis vena dalam (TVD) atau emboli paru (EP). Namun bukti menunjukkan bahwa kasus TEV di Asia mungkin kurang dilaporkan [1]. Karena TEV merupakan masalah utama bagi pasien dan sistem pelayanan kesehatan, kesenjangan pelaporan ini perlu ditangani. Faktor-faktor risiko [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":85681,"parent":0,"menu_order":0,"template":"","meta":{"_acf_changed":false,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"tags":[12871],"pillarandcategory":[292,282],"reporter":[13082,13083],"class_list":["post-142289","acf_article","type-acf_article","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","tag-koagulasi","pillarandcategory-coagulation","pillarandcategory-disease-area","reporter-niti-dawar","reporter-yingli-huang"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/142289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article"}],"about":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/acf_article"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/142289\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142632,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/acf_article\/142289\/revisions\/142632"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85681"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=142289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=142289"},{"taxonomy":"pillarandcategory","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/pillarandcategory?post=142289"},{"taxonomy":"reporter","embeddable":true,"href":"https:\/\/labinsights.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/reporter?post=142289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}