Dari visi hingga implementasi: bagaimana Balochistan mendorong pelaksanaan peta jalan eliminasi HCV Pakistan

September 25, 2025 Bullet Artikel
HCV elimination, HCV elimination strategy

Pakistan memiliki salah satu beban tertinggi virus hepatitis C (HCV) di dunia. Dengan tingkat prevalensi nasional sebesar 4,3%, diperkirakan lebih dari 10 juta penduduk mengidap HCV di negara ini. Namun, beban tersebut tidak merata. Punjab dan Sindh menanggung beban terberat, dengan tingkat prevalensi masing-masing 6,7% dan 6,9%, sementara Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa memiliki tingkat prevalensi yang jauh lebih rendah. Prevalensi anti-HCV berkisar antara 1,5% dan 1,1%, dan sedangkan prevalensi HBsAg berkisar masing-masing antara 4,3% dan 1,3%. Namun, angka-angka tersebut, meskipun lebih kecil, tetap tidak dapat diabaikan. Di Balochistan saja, sekitar 70.000 hingga 80.000 orang hidup dengan virus tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Dr Shoaib Aziz Kurd – Koordinator Proyek saat ini untuk Program Eliminasi HCV Perdana Menteri di Balochistan. Dengan menyadari urgensi dari tantangan ini, Pemerintah Pakistan telah kembali berkomitmen pada program penghapusan HCV nasionalnya, yang sejalan dengan target eliminasi HCV Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2030.

Belajar dari pengalaman internasional: kasus Mesir

Upaya Pakistan sejalan dengan kampanye eliminasi HCV global, yang mengambil inspirasi khususnya dari Mesir, sebuah negara yang berhasil menerapkan strategi tes dan pengobatan berskala besar Pada tahun 2018, Mesir meluncurkan inisiatif skrining HCV nasional terbesar di dunia, yang menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini layak dan efektif di lingkungan dengan beban penyakit yang tinggi. Kampanye ini bertujuan untuk melakukan skrining terhadap semua individu berusia di atas 18 tahun dalam jangka waktu satu tahun, dengan mengerahkan 5.800–8.000 tim skrining mobile di wilayah perkotaan dan pedesaan. Fitur-fitur utama dari program Mesir meliputi:

        • Rujukan segera individu yang seropositif ke pusat pengobatan untuk tes konfirmasi dan penilaian fibrosis.
        • Penggunaan perangkat digital yang memungkinkan pasien untuk mendaftar melalui ponsel dan menerima hasil serta pengingat pengobatan.
        • Koordinasi melalui basis data terpusat yang menghubungkan pusat-pusat pengobatan, yang meningkatkan aliran pasien dan pemantauan lanjutan.

Dalam tujuh bulan pertama, hampir 50 juta orang menjalani skrining, dan 2,2 juta orang dirujuk untuk perawatan lebih lanjut. Program ini secara luas dianggap sebagai tolok ukur strategi eliminasi HCV nasional dan telah memberikan wawasan operasional yang berharga bagi negara-negara dengan profil epidemiologi dan ekonomi yang sama.

Tanggapan nasional dan upaya yang diperbarui

Ini bukanlah upaya pertama kali Pakistan dalam menangani HCV. Program Kendali Provinsi Balochistan yang diluncurkan pada 2007 merupakan salah satu upaya yang paling awal yang dijalankan oleh propinsi tersebut. Meskipun upaya-upaya awal ini membantu meningkatkan kesadaran dan membangun protokol-protokol pengobatan, upaya tersebut menghadapi tantangan-tantangan yang terkait dengan peningkatan skala, koordinasi, dan cakupan diagnostik yang konsisten. Kemudian terjadi pengaturan ulang pemerintah federal. Pada tahun 2019, pendekatan yang lebih komprehensif diluncurkan melalui Inisiatif Eliminasi HCV Perdana Menteri. Walaupun tertunda oleh pandemi COVID-19, program ini diaktifkan kembali pada tahun 2024 dengan koordinasi yang lebih kuat di tingkat federal-provinsi. Fitur utama upaya yang diperbarui ini meliputi:

        • Komitmen pemerintah federal untuk melakukan skrining terhadap 69 juta penduduk dan menangani 9,8 juta penduduk pada tahun 2030.
        • Tanggung jawab pendanaan bersama antara pemerintah federal dan pemerintah provinsi.
        • Penggunaan antivirus langsung (DAAs) yang diproduksi secara lokal
        • Strategi untuk mengintegrasikan skrining dengan layanan perawatan primer dan memperluas infrastruktur laboratorium diagnostik guna menangani volume sampel yang tinggi secara efisien.
        • Screening massal aktif dan pasif, termasuk kegiatan jemput bola dari rumah ke rumah.
        • Catatan Medis Elektronik (EMR) terpusat untuk pelacakan pasien dari awal hingga akhir

Sorotan terhadap Balochistan

Meskipun Program Pengendalian Hepatitis Provinsi 2007 berfokus pada upaya diagnosis, pengobatan, dan pencegahan, Program Eliminasi Hepatitis Perdana Menteri yang baru diluncurkan akan berfungsi sebagai inisiatif mandiri dengan penekanan utama pada skrining, diikuti oleh diagnosis dan pengobatan. Pada fase pertamanya, program ini bertujuan untuk menjangkau 18 distrik di Balochistan, dengan menargetkan skrining terhadap 5 juta penduduk dalam jangka waktu tiga tahun. Berdasarkan perkiraan prevalensi sebesar 2,4%, diperkirakan sekitar 70.000 hingga 75.000 orang memerlukan pengobatan. Salah satu tokoh kunci yang membantu menjembatani upaya masa lalu dan saat ini di Balochistan adalah Dr. Kurd. Perjalanan karir Dr. Kurd mencerminkan komitmen yang mendalam pada sistem kesehatan publik Pakistan. Meskipun awalnya ia memiliki latar belakang sebagai dokter gigi, ia beralih ke kesehatan publik setelah menyelesaikan gelar master dalam manajemen kesehatan primer. Jabatan awalnya meliputi Petugas Monitoring & Evaluasi untuk program pengendalian tuberkulosis (TB) dan kemudian sebagai Manajer Proyek untuk program pengendalian malaria Global Fund. Pengalaman-pengalaman ini memberinya perspektif tingkat sistem dalam upaya eliminasi penyakit – bekerja sama erat dengan donor internasional, mengoordinasikan operasi di beberapa lokasi, dan mengelola pemantauan penyakit serta tindak lanjut. Pada tahun 2020, Dr Kurd menjadi Koordinator Provinsi untuk pengendalian HCV di Balochistan dalam program yang lebih tua. Hal ini membuatnya dapat melihat secara langsung tantangan-tantangan dalam bidang pelacakan terbatas, hambatan akses pedesaan, dan diagnostik yang terfragmentasi. Kepemimpinannya dalam peran tersebut menjadikannya pilihan yang tepat untuk memimpin peluncuran inisiatif HCV Perdana Menteri di Balochistan. Dalam perannya saat ini, Dr. Kurd membantu membentuk kerangka strategis dan operasional program tersebut.

Memperluas akses: membangun jaringan pengujian HCV yang lebih cerdas dan dapat ditingkatkan skalanya

Program Eliminasi HCV Perdana Menteri bertujuan untuk meningkatkan skala skrining pasif dan aktif, dengan penekanan yang kuat pada penjangkauan populasi yang kurang terlayani. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Kurd, “Kami ingin melampaui skrining pasif dan juga menerapkan skrining aktif – di mana kami mendatangi rumah-rumah untuk melakukan tes pada pasien.” Di Balochistan, program ini akan menargetkan individu-individu berusia 12 tahun ke atas, dengan menggunakan pendekatan diagnosis dua langkah:

        • Pemeriksaan awal akan dilakukan dengan menggunakan peralatan Rapid Diagnostic Test (RDT).
        • Individu dengan hasil RDT reaktif kemudian akan menjalani pengujian PCR konfirmasi.

Untuk menerapkan alur kerja ini dalam skala besar, sampel darah akan dikumpulkan di lokasi – baik di pusat skrining maupun selama kunjungan lapangan – dan dikirim ke kantor distrik untuk proses sentrifugasi. Dari sana, sampel akan dikirim ke markas pusat provinsi untuk konfirmasi PCR.

Memastikan mutu melalui diagnostik yang telah memenuhi syarat WHO

Tulang punggung diagnostik program ini didasarkan pada Prequalification (PQ) WHO untuk diagnostik in vitro (IVD), yaitu standar global yang memastikan tes memenuhi tolok ukur ketat dalam hal keamanan, kinerja, dan kualitas. Bagi negara-negara seperti Pakistan, penggunaan tes-tes prakualifikasi WHO sangatlah penting untuk menjamin:

        • Deteksi akurat antibodi HCV
        • Pengujian konfirmasi yang andal
        • Kepercayaan terhadap proses diagnostik di berbagai lingkungan pelayanan kesehatan

Integrasi dengan penanganan dan pemantauan digital

Pasien yang hasil tes PCR-nya positif akan mulai menerima pengobatan di apotek yang ditunjuk di setiap distrik. Catatan pengobatan ini akan dikelola melalui sistem EMR, sehingga memungkinkan pemantauan yang lebih baik terhadap hasil pengobatan pasien dan koordinasi yang lebih baik antara otoritas kesehatan provinsi dan federal.

Mengatasi hambatan: tantangan potensial dan strategi mitigasi

Meskipun landasan untuk program percontohan eliminasi HCV di Balochistan telah kuat, beberapa tantangan operasional masih tetap ada. Dr. Kurd menguraikan berbagai potensi hambatan dan strategi awal yang dirancang untuk mengatasinya. “Pendanaan selalu menjadi tantangan di mana pun, dan dibutuhkan waktu hampir dua tahun bagi pemerintah federal dan provinsi untuk memobilisasi sumber daya yang diperlukan. Untungnya, di Balochistan kini kami memiliki dana. Pemerintahan federal menargetkan untuk mengalokasikan sekitar 70 milyar rupee tahun ini,” katanya. Namun, pendanaan internasional akan sangat mendukung untuk mempercepat upaya-upaya dan mencapai target tepat pada waktunya.

Kendala lingkungan dan logistik

Dua hambatan implementasi utama telah diidentifikasi sejak awal:

    1. Kondisi cuaca ekstrem dengan suhu musim panas yang sering melebihi 45-50°C, ttim lapangan akan menghadapi beban fisik yang cukup berat selama melakukan skrining di luar ruangan.
    2. Logistik transportasi sampel terutama di daerah terpencil, memastikan aliran sampel darah yang andal dari lokasi komunitas ke laboratorium distrik dan selanjutnya ke laboratorium rujukan provinsi, menimbulkan masalah logistik dan pengendalian kualitas.

Transportasi alternatif dan penggunaan infrastruktur

Untuk mengatasi kesenjangan transportasi, kartu pemisahan plasma (PSC) dapat digunakan sebagai alternatif untuk tabung pengambilan darah tradisional. Hal ini menawarkan stabilitas yang lebih baik untuk penanganan sampel dan dapat sangat membantu di daerah-daerah di mana logistik rantai dingin sulit untuk dipertahankan. “Jasa kurir tidak selalu tersedia di Balochistan,” Dr. Kurd. “Kami sedang menjajaki apakah vendor PCR dapat menangani soal pengangkutan ini. Sebagai alternatif, jaringan transportasi lokal, seperti yang digunakan dalam program TB, dapat diadaptasi untuk pengangkutan sampel antar-distrik. Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan dengan infrastruktur yang sudah ada dari program-program yang didukung oleh Global Fund, terutama di fasilitas yang sudah menangani virus imunodefisiensi manusia (HIV), tuberkulosis (TB), dan malaria. Lokasi-lokasi ini memiliki staf yang terlatih dan sistem pengangkutan sampel yang sudah ada, sehingga menyediakan platform yang siap untuk perluasan.

Memastikan integrasi data dan tindak lanjut pasien

Tantangan yang umum pada program tingkat provinsi terdahulu adalah ketidakmampuan untuk melacak pasien setelah di-skrining atau ditangani. Untuk mengatasi hal ini, program baru akan menggunakan sistem EMR terpusat untuk merekam:

        • Riwayat pasien
        • Hasil diagnostik
        • Tahap pengobatan
        • Pengingat tindak lanjut

“EMR akan berfungsi sebagai sistem terpadu untuk mengintegrasikan data dari berbagai titik skrining dan laboratorium,” jelas Dr. Kurd. “Kami juga mencatat riwayat diagnosis atau pengobatan sebelumnya yang dilaporkan sendiri oleh pasien, sehingga kami dapat menghindari duplikasi dan memantau hasil pengobatan dengan lebih baik.” Untuk meminimalkan jumlah pasien yang tidak mengikuti pengobatan lanjutan, program ini akan menyediakan pasokan pengobatan awal selama dua bulan, sehingga mendorong pasien untuk kembali pada bulan ketiga. Bagi mereka yang tidak kembali sesuai jadwal, kunjungan ke rumah akan dilakukan untuk mendorong keberlanjutan perawatan.

Melibatkan sektor swasta: peluang ke depan

Peran sektor swasta dalam eliminasi HCV terus dikembangkan. Meskipun kemitraan antara sektor publik dan swasta telah diterapkan dalam program-program penyakit menular lainnya, seperti malaria dan TBC, kolaborasi serupa untuk HCV di Balochistan masih dalam tahap pembahasan awal. “Beberapa mitra swasta telah menyatakan minatnya – terutama dalam menyediakan dukungan infrastruktur dan tenaga kerja – tetapi kemitraan laboratorium formal belum terbentuk,” kata Dr. Kurd. Semakin banyak laboratorium swasta yang dilibatkan, sehingga dapat membantu memperluas kapasitas diagnostik, mengurangi waktu tunggu, dan memperkuat jangkauan program di daerah perkotaan. Kementerian Kesehatan saat ini sedang menjajaki peluang untuk menyelaraskan kemampuan sektor swasta dengan tujuan kesehatan masyarakat dalam kerangka kerja tata kelola bersama.

Peluncuran uji coba perdana: Uji coba lapangan pertama di Balochistan

Program percontohan Balochistan dimulai pada Juli 2025, yang menandai implementasi pertama di lapangan dari Program Eliminasi HCV Perdana Menteri di provinsi tersebut. Dua distrik – satu relatif lebih berlimpah sumber daya, yang lain lebih terpencil – telah dipilih untuk menguji dan menyempurnakan model operasionalnya. Menurut Dr. Kurd, skrining dilakukan terhadap 4.000 orang di setiap lokasi, dengan target total 8.000 orang dalam waktu hanya enam hari. Rentang waktu ini didasarkan pada pengalaman kampanye kesehatan masyarakat sebelumnya di wilayah ini dan bertujuan untuk mensimulasikan kecepatan dan skalabilitas skrining massal saat program penuh diluncurkan.

Perencanaan dampak: jadwal, penahapan, dan tujuan program

Program eliminasi HCV nasional dirancang dengan jangka waktu enam tahun, yang bertujuan untuk memenuhi target eliminasi WHO pada tahun 2030. Meskipun skrining massal diperkirakan akan selesai dalam satu tahun pertama, peluncuran tes PCR dan pengobatan akan dilakukan dalam periode yang lebih lama, karena alokasi anggaran dilakukan secara bertahap. Dr. Kurd menjelaskan bahwa pemerintah federal akan menyediakan kit RDT, sebagian dari kit PCR, dan sebagian dari pengobatan, sementara pemerintah provinsi akan membiayai dan menyediakan sisa kit PCR dan sumber daya pengobatan, serta mengelola biaya operasional. Proses pengadaan saat ini sedang berlangsung. Setelah selesai, peluncuran di tingkat provinsi akan dilakukan secara bersamaan di seluruh wilayah negara ini.

Pengujian PCR bertahap: kebutuhan praktis, risiko strategis

Salah satu isu penting yang sedang dibahas saat ini adalah pelaksanaan tes PCR. Berdasarkan rencana saat ini, hanya skrining awal menggunakan RDT yang akan dilakukan selama kampanye skrining pada tahun pertama, dan tes konfirmasi PCR mungkin akan dilakukan secara bertahap selama dua hingga tiga tahun ke depan, tergantung pada jadwal pencairan anggaran. Meskipun pendekatan ini memungkinkan program untuk mengambil tindakan dengan cepat, hal ini membawa potensi risiko. Penundaan tes PCR dapat menyebabkan:

        • Hilangnya kesempatan untuk pengobatan lanjutan, terutama pada penduduk yang tinggal di daerah terpencil atau berpindah-pindah.
        • Penundaan dalam memulai pengobatan, yang merusak kepercayaan publik dan efisiensi program.

Dr. Shoaib prihatin akan hal ini, dan menambahkan bahwa protokol akhir masih sedang dievaluasi untuk memastikan kelayakan tanpa mengorbankan hasil pengobatan pada pasien.

Dari metrik hingga tonggak pencapaian

Kesuksesan pada akhirnya akan diukur tidak hanya berdasarkan jumlah orang yang diperiksa atau diobati, tetapi juga berdasarkan penurunan viremia pada tingkat populasi, yang merupakan indikator kemajuan nyata menuju eliminasi. “Tujuan akhir kami jelas,” kata Dr. Kurd. “Kami sedang berupaya memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh WHO untuk menyatakan suatu negara bebas hepatitis. Penurunan tingkat viremia merupakan langkah ke arah itu, tapi target kami adalah eliminasi total pada tahun 2030.” Dengan upaya percontohan di Balochistan yang akan menjadi acuan untuk perluasan skala nasional, Pakistan kini berada di titik yang sangat penting. Langkah awal telah dilakukan: pendanaan lokal telah diperoleh, proses diagnostik telah disederhanakan, dan tim operasional telah dikerahkan Yang harus dilakukan kemudian adalah pelaksanaan yang konsisten, keterlibatan pasien, dan komitmen terhadap pemantauan jangka panjang.


Untuk mempelajari lebih jauh tentang beban HCV yang kian berat di Pakistan dan Asia Pasifik, silakan lihat studi kasus lain di Lab Insights:

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top