Kanker paru-paru adalah kanker yang paling umum di Tiongkok [1] sekaligus yang paling mematikan. Berbeda dengan banyak negara Barat, jumlah diagnosis kanker paru-paru di Tiongkok juga terus meningkat. Dengan memanfaatkan teknologi ctDNA, kita memiliki peluang untuk meningkatkan secara pesat mutu perawatan dan hasil bagi pasien. Secara tradisional, untuk memastikan diagnosis kanker, tumor yang diduga bersifat kanker akan menjalani biopsi dan jaringannya dikirim untuk didiagnosis oleh tim laboratorium medis. Namun, mendefinisikan suatu kanker hanya dari satu sampel kecil bisa menyesatkan, dan biopsi jaringan berulang tidak selalu dapat dilakukan, terutama pada kanker paru-paru. Setelah pasien menjalani pengobatan untuk kanker paru-paru, mendapatkan biopsi jaringan ulang dapat menjadi tantangan dan membawa risiko yang melekat pada setiap prosedur invasif. Laboratorium dengan keahlian yang tepat dapat menawarkan alternatif yang menarik bagi dokter dalam situasi seperti ini. Biopsi cair, yang mengukur kadar DNA tumor sirkulasi (ctDNA), bersifat kurang invasif dan menghindarkan pasien dari komplikasi terkait biopsi. Dengan menggunakan data genetik dan epigenetik yang diperoleh dari ctDNA, tim laboratorium dapat memberikan data presisi berkualitas tinggi kepada ahli onkologi mengenai genotipe kanker dan perilakunya secara real time untuk membantu mengelola penyakit pasien dengan lebih baik.
Mengungkap kekayaan informasi dalam satu vial darah
Mengingat waktu paruh ctDNA yang singkat, sekitar satu jam atau kurang, penanda ini dapat menjadi indikator akurat dari beban tumor secara real time dalam merespons terapi [2]. Akses terhadap informasi real-time ini mendukung tim perawatan dalam mendeteksi penyakit residual sedini mungkin. Faktanya, bukti menunjukkan bahwa pada 72% pasien dengan kanker paru-paru lokal, penyakit residual dapat diidentifikasi menggunakan ctDNA 5,2 bulan lebih awal dibandingkan hanya dengan pencitraan radiologis [3]. Pada pasien kanker paru-paru non-sel kecil dengan mutasi reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) positif, misalnya, munculnya resistansi terhadap pengobatan inhibitor tirosin kinase membuka peluang lain untuk menggunakan ctDNA secara real time guna memantau evolusi genetik penyakit. Sebanyak setengah dari pasien yang diobati dengan inhibitor tirosin kinase mengalami mutasi EGFR T790M [4]. Wakelee dan rekan menunjukkan dalam presentasi mereka di ASCO 2016 [5] bahwa analisis EGFR pada plasma dan urine dapat secara akurat mendeteksi mutasi tersebut dan bahkan dapat mengidentifikasinya ketika biopsi tidak dapat berungsi akibat heterogenitas tumor. Zheng dan rekan juga menunjukkan bahwa ctDNA memungkinkan pasien seperti ini diidentifikasi dengan median 2,2 bulan sebelum progresi klinis penyakit [4].
Membangun hubungan yang lebih erat antara klinik dan laboratorium
Seperti halnya semua teknologi yang masih baru, mengetahui kapan harus menerapkan pemeriksaan ctDNA serta bagaimana menganalisis dan menafsirkan hasil adalah kuncinya. Memiliki akses ke tim laboratorium yang selalu mengikuti perkembangan riset terbaru dan terlatih dalam memberikan analisis presisi berkualitas tinggi dapat membantu ahli onkologi mengelola penyakit pasien dengan lebih baik. Analisis ctDNA mengidentifikasi mutasi kanker yang dapat digunakan sebagai penanda biologis untuk obat yang disetujui FDA pada 49% kasus pasien [6]. Para ahli di bidang laboratorium medis perlu bekerja berdampingan dengan ahli onkologi untuk menentukan kapan biopsi cair merupakan alat diagnostik yang paling tepat. Kita berada di ambang era pemberian terapi yang dipersonalisasi tidak hanya pada saat diagnosis, tetapi sepanjang perjalanan penyembuhan penyakit. ctDNA memberikan informasi mengenai susunan genetik kanker dan heterogenitas yang melekat di dalamnya. ctDNA juga dapat memberikan petunjuk mengenai prognosis, termasuk risiko kekambuhan dan tingkat kelangsungan hidup keseluruhan. Dengan informasi yang kuat dan akurat dari laboratorium, ahli onkologi akan dengan cepat dapat menjawab beberapa pertanyaan tersulit yang diajukan pasien mereka dengan keyakinan dan kepastian yang lebih besar.
Referensi:
[1] Zhou, C., 2014. Lung cancer molecular epidemiology in China: recent trends. Translational Lung Cancer Research, 3(5), pp.270-279.
[2] Corcoran, B.R., Chabner A.B., 2018. Application of Cell-free DNA Analysis to Cancer Treatment. New England Journal of Medicine, 379, pp.1754-1765
[3] Chaudhuri, A.A, et al., 2018. Early Detection of Molecular Residual Disease in Localized Lung Cancer by Circulating Tumor DNA Profiling. American Association for Cancer Research, 7(12), pp.1394-1403.
[4] Zheng, X.Y, et al., 2016. Plasma EGFR T790M ctDNA status is associated with clinical outcome in advanced NSCLC patients with acquired EGFR-TKI resistance. Scientific Reports, 6, 20913.
[5] Wakelee, A.H., et al., 2016. Epidermal growth factor receptor (EGFR) genotyping of matched urine, plasma and tumor tissue from non-small cell lung cancer (NSCLC) patients (pts) treated with rociletinib. Journal of Clinical Oncology, 34(15) supplementary, pp.9001-9001.
[6] Zill, A.O., et al., 2016. Somatic genomic landscape of over 15,000 patients with advanced-stage cancer from clinical next-generation sequencing analysis of circulating tumor DNA. Journal of Clinical Oncology, 34(18), supplementary, LBA11501
Artikel ini didasarkan pada presentasi “Menaklukkan Kanker: Aplikasi ctDNA pada NSCLC” pada Belt and Road Diagnostic Summit Forum 2018 di Suzhou, China.

