Pendahuluan – Prokalsitonin dalam Sepsis
Sepsis merupakan salah satu alasan utama pasien dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Reaksi sistemik–terhadap infeksi yang mengancam jiwa ini juga merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Diagnosis yang tepat mengenai penyebab sepsis sangat penting untuk menentukan pengobatan yang sesuai, dan dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien. Dalam 12 jam pertama perawatan sepsis, setiap keterlambatan 5 menit dalam pemberian terapi yang tepat akan meningkatkan angka kematian sekitar ~ 1% [1].
Dokter yang merawat pasien sepsis harus mengetahui apakah demam tinggi disebabkan oleh infeksi, sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS), atau penyebab lainnya. Jika disebabkan oleh infeksi, perlu ditentukan apakah penyakit tersebut diakibatkan oleh infeksi virus, jamur, atau bakteri. Setelah terapi dimulai, dokter harus dapat memantau respons pasien terhadap antibiotik dan menentukan kapan aman untuk menghentikan terapi. Di sinilah penanda biologis dapat memainkan peran kunci dalam penanganan sepsis.
Penanda biologis—indikator biologis mengenai kondisi kesehatan pasien—harus memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sangat tinggi untuk kondisi seberat sepsis. Penanda biologis harus berubah sesuai respons pasien terhadap pengobatan (bahkan sebelum gejala berubah), serta mudah digunakan dan terjangkau.
Prokalsitonin sebagai penanda biologis sepsis
Meskipun lebih dari 200 penanda biologis telah dipelajari untuk sepsis, hanya ada tiga protein utama yang umum digunakan untuk diagnosis dan prognosis sepsis: interleukin-6 (IL-6), protein C–reaktif (CRP), dan prokalsitonin (PCT). Ketiga penanda biologis ini memiliki waktu permulaan, puncak, dan paruh waktu yang berbeda.
PCT memiliki waktu permulaan pada 2–6 jam, mencapai puncak sekitar 24 jam, dan memiliki waktu paruh selama 24 jam [2]. Karakteristik ini menjadikan PCT salah satu protein penanda biologis yang paling cocok untuk penggunaan praktis [3].

Toksin bakteri (baik gram positif maupun gram negatif) dan sitokin merangsang produksi PCT di dalam tubuh, sementara interferon–α (yang muncul selama infeksi virus) menghambat sekresi PCT, sehingga memungkinkan penggunaan PCT untuk membedakan antara infeksi virus dan bakteri. Penelitian menunjukkan bahwa PCT memiliki sensitivitas 89%, kekhususan 94%, nilai prediktif negatif (NPV) 90%, dan nilai prediktif positif (PPV) 94% untuk sepsis bakteri — lebih baik dibandingkan penanda biologis IL-6, CRP, dan laktat [7].
PCT dalam diagnosis dan prognosis sepsis
PCT telah banyak diteliti dalam diagnosis sepsis. PCT diketahui meningkatkan akurasi diagnosis klinis awal sepsis dibandingkan penilaian klinis konvensional. PCT juga membedakan pneumonia yang didapat dari masyarakat akibat virus dan bakteri [8], serta infeksi jamur invasif dari infeksi bakteri [9].
Selain membantu dalam diagnosis, peningkatan kadar PCT berkorelasi dengan tingkat keparahan sepsis [10]. Dengan demikian, PCT dapat digunakan untuk stratifikasi tingkat keparahan pada pasien dengan dugaan sepsis, sepsis berat, dan syok septik [11]. Kadar PCT juga dapat berguna untuk penanganan pasien setelah operasi atau transplantasi, serta pada kasus peritonitis [12].
Selain itu, penurunan kadar PCT sebesar 30% antara Hari ke-2 dan Hari ke-3 tampaknya menjadi indikator prognosis yang baik untuk terapi antibiotik yang efektif dan dikaitkan dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik. Algoritma penggunaan antibiotik yang dipandu oleh PCT, ketika digabungkan dengan penilaian klinis, telah terbukti mengurangi durasi terapi antibiotik dan lama tinggal di ICU tanpa berdampak negatif pada angka kematian [13].
Keterbatasan PCT dalam penggunaan untuk penanganan sepsis
Meskipun PCT memiliki banyak keunggulan dalam diagnosis dan prognosis sepsis, penanda biologis ini tetap memiliki keterbatasan. Hasil positif palsu dapat terjadi pada beberapa kelompok pasien:
- Bayi yang baru lahir kurang dari 48 jam
- Pasien dengan sindrom inflamasi primer akibat trauma berat, luka bakar, atau operasi besar
- Pasien kanker, khususnya pengidapt kanker meduler sel C pada tiroid, karsinoma paru sel kecil, karsinoma bronkial, dan kanker hati stadium lanjut
- Pasien syok berkepanjangan
- Pasien yang telah menerima pengobatan (seperti globulin anti-limfosit) yang dapat menyebabkan “badai sitokin”
Diperlukan juga lebih banyak penelitian untuk menyempurnakan nilai batas perbedaan kadar PCT antar populasi pasien, berdasarkan lingkungan perawatan, pada pasien usia lanjut, serta pada penggunaan produk asai yang berbeda.
Mengintegrasikan PCT ke dalam penanganan sepsis
Banyak pedoman praktik klinis yang digunakan di seluruh dunia saat ini menyertakan PCT. Sebagai contoh, pedoman Surviving Sepsis Campaign tahun 2012 dan 2016 [14] merekomendasikan penggunaan PCT untuk memandu durasi terapi antimikroba pada pasien sepsis, serta penghentian antibiotik empiris pada pasien yang seiring waktu menunjukkan bukti sepsis yang rendah.
Meskipun PCT tidak dapat menjadi satu-satunya faktor yang dipertimbangkan dalam diagnosis dan keputusan pengobatan sepsis, penanda biologis ini dapat menjadi alat yang berguna dan praktis untuk meningkatkan penanganan dan hasil klinis pasien.
[1] Funk, D. J., Kumar, A. (2011). Antimicrobial therapy for life-threatening infections: speed is life. Critical care clinics, 27(1), pp.53–76.
[2] Meisner, M. (1996). PCT, procalcitonin: a new, innovative infection parameter : biochemical and clinical aspects. Berlin, Brahms Diagnostica.
[3] Reinhart, K., Meisner, M. (2011). Biomarkers in the critically ill patient: procalcitonin. Critical care clinics, 27(2), pp.253–263.
[4] Meisner M. (2002). Pathobiochemistry and clinical use of procalcitonin. Clinica chimica acta; international journal of clinical chemistry, 323(1-2), pp.17–29.
[5] Morgenthaler, N. G., et al., (2002). Detection of procalcitonin (PCT) in healthy controls and patients with local infection by a sensitive ILMA. Clinical laboratory, 48(5-6), pp.263–270.
[6] Müller, B., et al., (2001). Ubiquitous expression of the calcitonin-i gene in multiple tissues in response to sepsis. The Journal of clinical endocrinology and metabolism, 86(1), pp.396–404.
[7] Simon, L., et al., (2004). Serum procalcitonin and C-reactive protein levels as markers of bacterial infection: a systematic review and meta-analysis. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America, 39(2), pp.206–217.
[8] Cuquemelle, E., et al., (2011). Can procalcitonin help identify associated bacterial infection in patients with severe influenza pneumonia? A multicentre study. Intensive care medicine, 37(5), pp.796–800.
[9] Aznar-Oroval, E., et al., (2010). Diagnostic value of procalcitonin, interleukin 8, interleukin 6, and C-reactive protein for detecting bacteremia and fungemia in cancer patients. Enfermedades infecciosas y microbiologia clinica, 28(5), pp.273–277.
[10] Harbarth, S., et al., (2001). Diagnostic value of procalcitonin, interleukin-6, and interleukin-8 in critically ill patients admitted with suspected sepsis. American journal of respiratory and critical care medicine, 164(3), pp.396–402.
[11] Krüger, S., et al., (2008). Procalcitonin predicts patients at low risk of death from community-acquired pneumonia across all CRB-65 classes. The European respiratory journal, 31(2), pp.349–355.
[12] Meisner, M., et al., (1999). Comparison of procalcitonin (PCT) and C-reactive protein (CRP) plasma concentrations at different SOFA scores during the course of sepsis and MODS. Critical care (London, England), 3(1), pp.45–50.
[13] Charles, P. E., et al., (2009). Procalcitonin kinetics within the first days of sepsis: relationship with the appropriateness of antibiotic therapy and the outcome. Critical care (London, England), 13(2), R38.
[14] Rhodes, A., et al., (2017). Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock: 2016. Intensive Care Med, 43, pp.304–377.
Artikel ini didasarkan pada presentasi “Waspadai Sepsis” pada Roche Scientific Days 2018: Empowering Lab Leadership to the Next Level di Dusit Thani Hua Hin, Thailand.

