Sudut pandang CEO: Prof Hans Widjaya tentang solusi kesehatan digital dan COVID-19 di Indonesia

Juni 3, 2021 Bullet Artikel

Didirikan pada tahun 2012, National Hospital di Surabaya adalah sebuah fasilitas kesehatan swasta terkemuka di Indonesia yang telah memperkenalkan banyak teknologi kesehatan baru ke negara ini, mulai dari catatan kesehatan elektronik hingga tes PCR berbasis air liur. Terletak di sisi timur pulau Jawa, rumah sakit ini telah meraih berbagai pencapaian yang menawarkan kerangka kerja bagi fasilitas lain di Indonesia untuk meningkatkan operasionalnya.

Tim Lab Insights baru-baru ini berbicara dengan CEO-nya, Prof Hananiel “Hans” Widjaya, yang memimpin tim yang terdiri atas 600 dokter, perawat, manajemen dan personil pendukung, yang kebanyakan dari mereka merupakan generasi milenial yang terbuka terhadap teknologi kesehatan digital dan memiliki keinginan yang kuat untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan di negara ini. Berikut adalah beberapa poin penting dari percakapan tersebut.

Prof. Hananiel WidJaya: Merangkul Kesehatan Digital

Sebagai salah satu pelopor dalam penggunaan alat kesehatan digital, Prof Hans Widjaya bangga bahwa rumah sakitnya telah menjadi pionir dalam mengadopsi sejumlah teknologi penting yang memungkinkan timnya untuk melayani pasien dengan lebih baik. Dengan menjadi salah satu rumah sakit di Indonesia yang pertama kali menerapkan rekam medis elektronik (EHR), misalnya, National Hospital berhasil menghilangkan sekat antar departemen dan memperlancar komunikasi antara dokter, tim laboratorium, dan kelompok penting lainnya.

Prof. Hans selalu mencari alat-alat baru untuk ditambahkan ke rumah sakit cerdasnya. Baru-baru ini ia bekerja sama dengan sebuah startup di Australia untuk mendigitalisasi slide patologi dan membagikan hasilnya di cloud (National Hospital sekarang menjadi distributor eksklusif teknologi ini di Indonesia). Secara terpisah, ia mengimplementasikan sistem chatbot dengan bermitra dengan BotMD, yaitu sebuah startup di Singapura yang memungkinkan para dokter di rumah sakit untuk mengakses informasi yang relevan bagi mereka secara cepat.

Karena National Hospital berinvestasi untuk alat telekomunikasi di masa awal, mereka saat ini dapat merawat 40 persen pasien rawat jalan dengan pendekatan jarak jauh ini — sesuatu yang sangat berharga selama pandemi COVID-19. National Hospital juga telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, dengan menggunakan pengalamannya sebagai studi kasus untuk membantu tim pemerintah memperbarui kebijakan dan peraturan kesehatan.

Pada akhirnya, Prof Hans berharap mencapai titik di mana semua rumah sakit di Indonesia mengadopsi solusi kesehatan digital dan teknologi lainnya untuk menjaga kesehatan masyarakat daripada hanya mengobati orang sakit. “Pencegahan adalah masa depan,” katanya, sambil menunjuk pada tes genomik dan pengobatan presisi sebagai dua elemen kunci yang akan mengubah strategi perawatan pasien menjadi lebih proaktif.

Pengalaman COVID-19 di Indonesia

Berbekal latar belakang inovasi yang dimilikinya, National Hospital berada dalam posisi yang baik untuk memberikan perawatan pasien selama pandemi COVID-19. Pada tahun 2020, Prof Hans dan timnya meluncurkan tes PCR berbasis air liur pertama di negara ini, dan juga mendirikan 14 stasiun PCR untuk mempermudah pengumpulan dan pengujian sampel. Pada Mei 2021, Prof Hans mengatakan bahwa timnya telah melakukan sekitar 20.000 tes PCR dan 25.000 tes antigen swab per bulan.

Selain tes, Prof Hans yakin bahwa rumah sakit memiliki peran besar dalam membantu masyarakat memahami risiko kesehatan mereka selama pandemi. “Rumah sakit adalah pusat kekuatan dan penunjuk arah dalam mendidik masyarakat tentang implementasi yang baik untuk menghindari dan mencegah penularan COVID-19,” katanya. Timnya secara berkala mengikuti berbagai webinar dan menyediakan konten edukatif untuk membantu masyarakat Indonesia tetap aman.

Namun, dia tidak yakin bahwa situasi saat ini sudah terkendali. Meskipun kasus COVID-19 di Indonesia terus menurun, perayaan liburan baru-baru ini dan peningkatan tingkat penularan di seluruh Asia telah memicu kekhawatiran tentang kemungkinan lonjakan kasus baru. “Sebenarnya kami sangat khawatir”, kata Prof Hans. “Kami khawatir tentang kapasitas penambahan tempat tidur rumah sakit.”

Salah satu sisi positif dari pandemi, katanya, adalah meningkatnya minat terhadap alat-alat digital yang akan berperan penting dalam meningkatkan kualitas perawatan pasien. Penolakan terhadap hal-hal seperti EHR (Elektronik Rekam Medis) atau berbagi hasil patologi melalui cloud telah sangat berkurang karena alat-alat ini memberikan dampak yang signifikan selama pandemi. Pergeseran ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan layanan kesehatan di seluruh negeri.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top