Dalam forum yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Roche Diagnostics India, para pemimpin layanan kesehatan dari seluruh penjuru negeri berkumpul untuk membahas peran diagnostik dalam menciptakan nilai bagi sistem layanan kesehatan lokal. Diskusi tersebut membahas berbagai topik, tetapi sering kali kembali pada tema yang sama: perlunya peningkatan kolaborasi antara laboratorium klinis dan tenaga medis dalam upaya bersama untuk meningkatkan mutu layanan pasien.
Menjadi mitra yang berdampingan
Acara tersebut dibuka dengan sambutan utama dari Dr. S. Narayani, Zonal Director (Mumbai) di Fortis Healthcare, salah satu grup layanan kesehatan swasta terkemuka di India. Salah satu poin utamanya adalah laboratorium klinis seharusnya berperan sebagai penasihat, bukan sekadar penyedia dukungan di belakang layar bagi rekan-rekan klinis. Mereka seharusnya dilibatkan secara aktif saat sebuah rumah sakit meluncurkan spesialisasi baru, dengan memberikan masukan tentang protokol penyaringan dan menetapkan ekspektasi terhadap pengujian, serta mempertimbangkan untuk turut serta dalam kunjungan pasien bersama tenaga medis guna membangun hubungan yang lebih kuat, atau memastikan bahwa laboratorium klinis memiliki peran aktif ketika sebuah rumah sakit meluncurkan spesialisasi baru.
“Laboratorium seharusnya berperan aktif sebagai mitra yang berdampingan bersama tenaga medis,” tutur Dr. Narayani. “Tim laboratorium perlu beranjak dari laboratorium, berkoordinasi dengan tenaga medis, dan berdiskusi tentang perawatan pasien serta strategi hasil, serta mengidentifikasi secara tepat pada tahap mana pengujian lab memiliki peran yang krusial.”
Dr. Subramanian Swaminathan, Chair of the Transplant ID Committee dan Director of Infectious Diseases di Gleneagles Global Hospital, sependapat bahwa laboratorium klinis dapat berperan lebih banyak untuk bermitra dengan rekan tenaga medis mereka. Ia meyakini bahwa melalui komunikasi yang lebih baik dengan tenaga medis, profesional laboratorium dapat meningkatkan kepercayaan terhadap hasil pemeriksaan yang mereka terima, serta pemahaman yang lebih baik dari jangkauan tes yang tersedia dan informasi berharga untuk mencegah salah tafsir pada laporan laboratorium.
“Tersedia banyak sekali informasi bernilai yang dapat dimanfaatkan oleh tenaga medis, apabila pertanyaan diajukan dengan tepat,” jelas Dr. Swaminathan. “Namun, tenaga medis dan tim laboratorium sering kali mengalami kesenjangan komunikasi.”
Para ahli sepakat bahwa laboratorium klinis tidak perlu menunggu permintaan masukan dari tenaga medis, melainkan harus secara proaktif mengambil inisiatif untuk membangun komunikasi. Gaurav Loria, Group Chief Quality Officer & Head Operations di Apollo Hospitals, menyarankan agar profesional laboratorium membentuk forum untuk menghimpun umpan balik yang terstruktur dan rutin dari tenaga medis guna mengoptimalkan mutu layanan serta membangun kredibilitas di lingkungan rumah sakit.
COVID-19 sebagai katalis perubahan
Meskipun pertemuan tersebut tidak secara khusus berfokus pada pandemi COVID-19, beberapa pembicara menyampaikan contoh bagaimana situasi saat ini turut membantu terjalinnya kolaborasi antara laboratorium dengan pemangku kepentingan lainnya di rumah sakit. Di Fortis Hospital, misalnya, profesional laboratorium menjalankan peran penting dalam menambahkan kemampuan diagnostik baru, serta memberikan kontribusi lain seperti mengidentifikasi pola-pola infeksi sekunder yang muncul pada pasien COVID-19 dan merancang protokol antibiotik yang sesuai dengan temuan tersebut.
Seiring berkembangnya himpunan data dan keahlian mereka, profesional laboratorium di Fortis Hospital juga turut memberikan berkontribusi pada sistem pemeriksaan kesehatan masyarakat. Dengan memantau asal wilayah pasien yang terinfeksi, mereka mampu mengidentifikasi titik-titik rawan yang sedang berkembang dan membantu petugas rumah sakit menetapkan protokol karantina bagi anggota staf yang berasal dari area tersebut. Laboratorium tersebut juga bertanggung jawab dalam pengembangan protokol pembersihan intensif yang diterapkan di seluruh fasilitas layanan kesehatan untuk memastikan keselamatan staf.

