Dalam rangka mempertahankan standar-standar berkualitas tinggi, banyak laboratorium klinis di wilayah Asia Pasifik berpartisipasi dalam program akreditasi laboratorium klinis internasional dan kontrol mutu eksternal (Eksternal Quality Control – EQC). Partisipasi kemungkinan akan meningkat pada tahun-tahun mendatang, menurut hasil terbaru dari Asia Pacific Laboratory Benchmarking Survey, sebuah survei tahunan oleh Roche Diagnostics yang mengukur tingkat keefektifan operasional dari laboratorium-laboratorium klinis di seluruh kawasan.
Accreditation
Salah satu cara untuk memastikan mutu laboratorium adalah dengan mematuhi standar yang ditetapkan oleh badan-badan akreditasi yang dihormati secara internasional. Dalam survei tahun lalu, 40,3% laboratorium mendapatkan semacam akreditasi internasional, dengan 30,9% sisanya berencana mengejar akreditasi dalam 3 tahun ke depan. Laboratorium di pasar maju saat ini memiliki tingkat akreditasi internasional yang sedikit lebih tinggi daripada di pasar berkembang. Hal ini kemungkinan akan segera berubah karena lebih dari sepertiga laboratorium di negara berkembang berencana untuk mendapat akreditasi internasional dalam tiga tahun ke depan, dibandingkan dengan hanya 10,3% di pasar negara maju. Tingkat akreditasi internasional di Jepang dan Korea masih sangat rendah, bahkan negara-negara maju lainnya relatif memiliki tingkat partisipasi yang tinggi.

Bentuk akreditasi paling populer di Asia Pasifik adalah ISO 15189, diikuti oleh ISO 9000 dan ISO 15190. Standar akreditasi internasional lainnya belum memperoleh traksi yang signifikan di wilayah ini, meskipun standar lokal sedang meningkat di beberapa negara (lihat Thailand’s Medical Technology Standard Creates a Benchmark for Lab Quality di Lab Insights). Standar lokal ini mungkin sangat berguna di negara-negara di mana banyak laboratorium yang tidak memiliki waktu, keahlian, atau sumber daya untuk berpartisipasi dalam proses akreditasi internasional yang lebih komprehensif.

Dalam pasar maju dan berkembang, laboratorium komersial swasta cenderung memiliki tingkat akreditasi yang lebih tinggi daripada laboratorium rumah sakit publik dan swasta, mungkin karena laboratorium independen melayani berbagai konsumen yang lebih luas dan dengan demikian menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menunjukkan kualitas. Laboratorium besar, yang biasanya memiliki sumber daya yang lebih besar untuk jaminan mutu, juga cenderung memiliki tingkat akreditasi internasional yang lebih tinggi daripada laboratorium berukuran sedang dan kecil.
Kontrol Mutu Eksternal (EQC)
Program Kontrol Mutu Eksternal (EQC) adalah pendekatan umum untuk menjaga tingkat efektivitas operasional di laboratorium klinis. 43,2% dari seluruh laboratorium dalam survei terbaru mengklaim berpartisipasi dalam program EQC (Kontrol Mutu Eksternal), dengan 8,2% lainnya berencana untuk menerapkannya dalam tiga tahun ke depan. Program EQC (Kontrol Mutu Eksternal) internasional lebih populer di negara-negara berkembang seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina. Satu-satunya pengecualian adalah Tiongkok, di mana program EQC (Kontrol Mutu Eksternal) lokal diutamakan. Di antara negara-negara maju, laboratorium di Jepang dan Korea juga memiliki tingkat partisipasi yang relatif rendah dalam program EQC (Kontrol Mutu Eksternal) internasional.

Program EQC (Kontrol Mutu Eksternal) yang paling populer di Asia saat ini adalah Layanan Jaminan Mutu Eksternal dari Bio-Rad (EQAS) dan Randox International Quality Assessment Scheme External Quality Assessment (RIQAS.EQA). Yang kurang populer adalah EQA dari College of American Pathologists (CAP); Medical Laboratory Evaluation dari American College of Pathologists (MLE); dan Quality Assurance Program dari Royal College of Pathologists (RCPA.QAP). CAP, misalnya, hanya populer di beberapa pasar utama—termasuk Hong Kong, Taiwan, Pakistan, dan Singapura.

Seperti halnya akreditasi, laboratorium komersial di sebagian besar pasar memiliki tingkat partisipasi yang relatif tinggi dalam program EQC (Kontrol Mutu Eksternal) internasional. Di negara-negara berkembang, laboratorium rumah sakit swasta mempunyai tingkat partisipasi yang lebih tinggi daripada rumah sakit pemerintah, mungkin karena relatif rendahnya sumberdaya sektor publik. Hal sebaliknya terjadi di negara-negara maju, di mana rumah sakit pemerintah memiliki partisipasi yang lebih tinggi dari rumah sakit swasta. Dalam beberapa minggu ke depan, Lab Insights akan menampilkan analisis lebih lanjut mengenai tren utama di ruang laboratorium klinis Asia. Untuk tetap mengikuti tren ini, mendaftarlah sebuah akun di Lab Insights dan berlanggananlah saluran LinkedInRoche Diagnostics Asia Pasifik untuk mendapatkan pembaruan. Dan jika Anda memiliki pertanyaan mengenai arti berbagai tren ini bagi laboratorium Anda, hubungilah Wesley Wong ([email protected]) untuk informasi selengkapnya.

