Spesialis laboratorium dibanjiri berbagai peringatan yang bertujuan mencegah kesalahan diagnostik atau interferensi pemeriksaan, dan hal itu beralasan—kesalahan memang umum terjadi dalam layanan kesehatan. Namun, laboratorium memiliki tingkat kesalahan yang lebih rendah dibandingkan layanan kesehatan klinis [1]. Sebagian besar kesalahan yang terjadi (46–68,2%) bersifat pra-analitik, seperti kesalahan dalam memasukkan permintaan, volume sampel yang tidak memadai, atau pelabelan sampel yang tidak benar. Sebanyak 18,5–47% lainnya terjadi setelah pemeriksaan selesai (misalnya, kegagalan dalam melaporkan hasil). Hanya 7–13% dari seluruh kesalahan laboratorium yang bersifat analitik.
Dari tiga fase utama tempat terjadinya masalah dalam pemeriksaan laboratorium, kesalahan analitik—termasuk interferensi pemeriksaan—dipercaya sebagai yang paling jarang terjadi.
Beberapa penyebab interferensi paling umum dalam pemeriksaan darah berasal dari masalah pra-analitik, seperti hemolisis sampel—yang merupakan alasan paling umum mengapa spesimen ditolak. Masalah ini saja dapat menyebabkan meningkatknya kekeliruan hasil pada sedikitnya selusin pemeriksaan laboratorium, dan penurunan hasil palsu pada setidaknya lima pemeriksaan. Sampel lipemik (kadar lemak berlebih) dan ikterik (kadar bilirubin tinggi) dapat menimbulkan masalah serupa [2].
Penting untuk mengidentifikasi dan memahami sumber interferensi utama tersebut. Namun demi kehati-hatian (dan kualitas yang bagus), spesialis laboratorium harus membiasakan diri dengan penyebab interferensi yang lebih jarang terjadi, seperti biotin.
Reputasi buruk biotin
Setelah serangkaian artikel jurnal tinjauan sejawat yang mendokumentasikan interferensi biotin terhadap pemeriksaan laboratorium, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mengeluarkan peringatan mengenai topik tersebut pada akhir 2017 [3]. Badan ini berharap dapat meningkatkan keselamatan dan kualitas pemeriksaan dengan meningkatkan kesadaran, setelah banyak kasus kekeliruan hasil pemeriksaan laboratorium pada orang-orang yang mengonsumsi biotin dalam kadar tinggi.
Pada beberapa pasien, interferensi biotin dapat dengan cepat diidentifikasi, karena biotin mungkin diresepkan dalam dosis yang sangat besar untuk mengobati kondisi seperti sklerosis multi, meskipun penyakit ini jarang terjadi di banyak negara di Asia dan Pasifik. Biotin juga merupakan pengobatan standar untuk defisiensi biotinidase, suatu kondisi yang jarang terjadi di seluruh dunia.
Pada pasien lain, asupan biotin yang tinggi bisa sulit ditemukan, karena beberapa orang bahkan mungkin tidak tahu bahwa mereka mengonsumsinya.
Biotin adalah vitamin yang larut dalam air, juga dikenal sebagai vitamin B7 atau vitamin H. Biotin dapat ditemukan dalam vitamin prenatal, multivitamin harian, dan suplemen makanan untuk meningkatkan kesehatan rambut, kuku, hati, sistem saraf, dan kulit. Dalam semua produk tersebut, biotin dapat ditemukan pada kadar yang cukup tinggi hingga dapat mengganggu pemeriksaan laboratorium. Dosis 5 mg per hari atau lebih dapat menyebabkan interferensi terhadap hasil; beberapa pasien bahkan dapat mengonsumsi dosis antara 20 mg hingga 300 mg per hari [3].
Tergantung pada jenis pemeriksaan yang dilakukan, kelebihan biotin dalam darah dapat menyebabkan kekeliruan hasil, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Hasil yang menyesatkan dapat membahayakan ketika hasil tersebut menutupi masalah kesehatan yang mengancam jiwa, seperti serangan jantung. Hasil tersebut juga dapat menyebabkan pemeriksaan diagnostik yang tidak perlu dan perawatan medis yang tidak tepat.
Bagaimana laboratorium dapat mengatasi interferensi biotin?
Dalam kondisi ideal, dokter atau ahli flebotomi akan menanyakan kepada setiap pasien yang menjalani pemeriksaan laboratorium apakah mereka mengonsumsi biotin dalam vitamin atau suplemen, dengan kadar 5 mg per hari atau lebih. Pada kenyataannya, laboratorium beruntung jika ada yang mengetahui asupan biotin pasien (termasuk pasien itu sendiri).
Meskipun hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran, informasi ini bukan alasan untuk panik. Persiapkan tim Anda untuk menangani kemungkinan interferensi biotin sebagaimana Anda menangani interferensi terkait sampel lainnya.
-
-
-
- Edukasi para penyedia layanan kesehatan yang bekerja sama dengan Anda. Beritahu mereka bahwa dosis biotin sebesar 5 mg/hari atau lebih dapat mengganggu hasil, dan bahwa dosis tersebut dapat ditemukan dalam banyak vitamin dan suplemen.
- Minta dokter, perawat, dan ahli flebotomi untuk memberi tahu Anda jika sebuah sampel kemungkinan terpengaruh. Atau, mereka harus menginstruksikan pasien yang mengonsumsi biotin untuk menunggu setidaknya 8 jam setelah dosis biotin sebelum menjalani pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium.
- Pertimbangkan untuk menyebar selebaran edukatif di ruang tunggu laboratorium Anda mengenai interferensi biotin dan jenis produk umum yang mungkin mengandung biotin. Minta pasien untuk memberi tahu staf pengambil sampel jika mereka menggunakan produk tersebut, sebelum pengambilan darah dilakukan.
- Edukasi staf laboratorium bahwa pasien yang mengonsumsi biotin dalam dosis tinggi dapat memiliki kadar biotin yang tinggi dalam darah mereka, seperti 100 hingga 1200 ng/mL. Kadar tinggi tersebut harus mendorong petugas laboratorium untuk menanyakan kepada dokter mengenai status biotin pasien dan apakah pemeriksaan perlu diulang setelah biotin dibersihkan dari tubuh.
- Ketika dokter atau staf laboratorium melihat bahwa hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan ekspektasi berdasarkan kondisi klinis pasien, biotin harus dipertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan penyebab interferensi.
-
-
Ingat: Biotin bukan satu-satunya potensi jebakan laboratorium
Jarang sekali pasien mengonsumsi biotin pada kadar yang dapat mengganggu hasil laboratorium. Jika dimasukkan dalam konteks dengan kemungkinan kesalahan atau interferensi lainnya, biotin sebenarnya merupakan masalah yang relatif kecil. Meskipun penting dan memungkinkan untuk mempertimbangkan biotin sebagai salah satu sumber interferensi, jauh lebih mungkin bahwa masalah kendali mutu lain yang dapat dicegah — seperti prosedur pengumpulan atau transportasi spesimen yang tidak tepat — berdampak lebih besar terhadap hasil laboratorium Anda. Dengan mengidentifikasi dan berfokus pada sumber utama kesalahan yang berada dalam kendali Anda, Anda dapat memberikan dampak pada lebih banyak pasien dan meningkatkan akurasi laboratorium Anda.
[1] Hammerling, A, J. (2012). “A review of medical errors in laboratory diagnostics and where we are today.” Laboratory Medicine, 43(2),pp.41-44.
[2] Test affected by hemolysed, lipemic and icteric samples and their mechanism. https://laboratoryinfo.com/tests-affected-hemolyzed-lipemic-icteric-samples-mechanism/
[3] The FDA warns that biotin may interfere with lab tests: FDA Safety Communication.
Artikel ini didasarkan pada presentasi: Jebakan dalam Interpretasi Uji Laboratorium pada Roche Scientific Days 2018: Empowering Lab Leadership to the Next Level di Dusit Thani Hua Hin, Thailand.

