Apa Itu Kesehatan Masyarakat Presisi dan mengapa hal tersebut penting bagi laboratorium klinis?

Maret 2, 2022 Bullet Artikel

Untuk mengelola sistem layanan kesehatan dengan efektif, praktisi kesehatan masyarakat harus selalu menimbang kompromi antara kebutuhan masyarakat secara keseluruhan dan kebutuhan sub-populasi tertentu. Tanpa adanya data kesehatan populasi yang mendetail dan alat untuk pengelolaan kesehatan masyarakat, kompromi ini dapat menimbulkan pertanyaan operasional dan etis yang kompleks.

Pandemi COVID-19 memperlihatkan betapa menantangnya kompromi tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, para pemimpin kesehatan masyarakat berulang kali bergulat dengan pilihan tentang kapan memberlakukan karantina wilayah, bagaimana mengalokasikan vaksin, apakah perlu membatasi akses layanan kesehatan, serta keputusan-keputusan lain yang dapat menyelamatkan nyawa di tingkat nasional, tetapi menimbulkan kesulitan bagi sebagian segmen populasi.

Memasuki abad ke-21, muncullah konsep ‘Kesehatan Masyarakat Presisi’ (Precision Public Health, PPH), bidang yang sedang berkembang dengan tujuan menjadikan kesehatan masyarakat lebih berbasis data dan lebih terarah pada tingkat sub-populasi. Istilah ini, yang pertama kali dicetuskan di Australia pada 2010-an [1], baru-baru ini diadopsi oleh CDC AS, yang kemudian memperluas konsep tersebut mencakup berbagai bidang seperti pengobatan presisi, genomik patogen, dan informatika surveilans yang ditingkatkan [2].

Meskipun gerakan PPH memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, komunitas laboratorium klinis memiliki peluang unik untuk berperan penting, bahkan mungkin menjadi faktor inti keberhasilannya. Pada akhirnya, data laboratorium klinis dapat memberikan perspektif berharga mengenai kesehatan populasi dan dampak intervensi kesehatan masyarakat.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan PPH?

Sebelum berpartisipasi dalam gerakan PPH, diperlukan pemahaman yang jelas mengenai PPH itu sendiri. Pada Roche Experience Days 2021, konferensi kepemimpinan pemikiran yang diselenggarakan oleh Roche Diagnostics Asia Pacific, ahli kebijakan kesehatan masyarakat asal Singapura, Dr. Jeremy Lim, membantu memperkenalkan konsep PPH kepada audiens laboratorium klinis.

“PPH dapat dipahami secara sederhana sebagai pengobatan presisi dalam agregat,” jelas Dr. Lim, yang menjabat sebagai President of the Precision Public Health Asia Society. Ia juga memimpin sebuah perusahaan rintisan mikrobioma dan menjabat sebagai Director of the Leadership Institute of Global Health Transformation (LIGHT) di Saw Swee Hock School of Public Health, National University of Singapore.

Menurut Dr. Lim, tujuan utama dari PPH adalah memberikan intervensi yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi pelacakan nyamuk lanjutan yang memungkinkan berbagai negara berkolaborasi dalam memantau migrasi infeksi. Penelitian PPH menunjukkan bahwa 90% beban penyakit akibat nyamuk dapat ditangani cukup dengan fokus pada 14% wilayah berisiko tinggi [2].

Apa yang dapat dilakukan laboratorium klinis untuk mendukung PPH?

Seiring dengan makin berkembangnya PPH, salah satu kontribusi yang dapat dilakukan laboratorium klinis adalah dengan membantu menyediakan data dan wawasan mengenai pengelolaan kesehatan populasi. Kontribusi tersebut merupakan salah satu target dari Clinical Lab 2.0 Initiative, yang bertujuan memanfaatkan keahlian laboratorium klinis untuk meningkatkan hasil klinis populasi, mengelola risiko populasi, serta menurunkan biaya keseluruhan penyelenggaraan layanan kesehatan.

“Laboratorium klinis memiliki peluang besar untuk membantu mengatasi tantangan layanan kesehatan melalui komputasi dan analisis pasca-diagnostik, yakni mengubah data menjadi tindakan klinis,” ungkap Mr. Khosrow Shortorbani, salah satu pemimpin inisiatif ini, dalam wawancara dengan Lab Insights tahun 2019. “Intinya adalah menghubungkan titik-titik data dari waktu ke waktu untuk menghasilkan wawasan yang bermakna untuk meningkatkan hasil sekaligus mengurangi risiko finansial, sehingga selaras dengan tujuan strategis sistem layanan kesehatan.

PPH juga dapat membuat perhatian menjadi lebih tertuju pada deteksi dini penyakit serta perawatan preventif, bidang yang sangat mengandalkan data dan keahlian laboratorium klinis. Laboratorium dapat membantu mendorong skrining yang lebih tepat sasaran, seperti upaya yang saat ini sedang dilakukan untuk mempromosikan program skrining HCV baru di Pakistan, atau inisiatif untuk meningkatkan tingkat skrining prenatal dan bayi baru lahir, yang dapat dianggap sebagai contoh nyata peluang PPH.

Melihat gambaran yang lebih besar

Agar berhasil, laboratorium klinis harus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk secara efektif mengintegrasikan data diagnostik dengan berbagai sistem, teknologi, dan kerangka kerja kebijakan yang dapat membantu menyukseskan visi PPH. Hal-hal tersebut mencakup sistem rekam medis elektronik, jaringan cloud dan mobile, perjanjian berbagi data internasional, hingga konsep ‘kembaran digital’ (model virtual biologi fisik kita yang mendukung proses diagnostik dan perencanaan medis).

Perjalanan PPH tidak lepas dari rintangan yang akan dihadapi. Sebagian praktisi kesehatan masyarakat memiliki keraguan mengenai kesesuaian pengobatan presisi dalam mengakomodasi faktor penentu sosial. Sebagian lainnya memandang PPH sebagai langkah kembali ke hal-hal dasar, tanpa cukup bukti untuk mendukung transisi dari faktor risiko tradisional menuju era omik [3]. Privasi pasien masih menjadi pokok bahasan utama, seperti halnya memastikan agar PPH tidak makin memarginalkan populasi rentan yang sudah kesulitan memperoleh akses terhadap kebutuhan dasar layanan kesehatan. Peningkatan keterampilan tenaga kerja juga harus dipertimbangkan untuk memaksimalkan potensi PPH [4].

Laboratorium klinis dapat dan harus ikut duduk bersama untuk membantu mengatasi isu-isu ini serta ikut menentukan jalannya diskusi. Namun, komunitas laboratorium masih berada pada tahap awal dalam menunjukkan potensi kontribusi mereka bagi kesehatan masyarakat. Diperlukan peningkatan edukasi di komunitas laboratorium klinis untuk memastikan bahwa kita dapat bersama-sama mewujudkan visi PPH sekaligus meminimalkan tantangan dan risiko.

Referensi:
[1] Weeramanthri, Tarun et al. “Editorial: Precision Public Health”. Frontiers in Public Health: Apr 2018.
[2] Khoury, Muin et al. “Precision Public Health: What Is It?” US Centers for Disease Control and Prevention (Genomics and Precision Health): Mei 2018.
[3] Khoury, Muin et al. “Precision Public Health for the Era of Precision Medicine”. Am J Prev Med: Mar 2016.
[4] Kee, Frank; dan Taylor-Robinson, David. “Scientific Challenges for Precision Public Health”. BMJ Journal of Epidemiology and Community Health: Jan 2020.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top