Pada Juni 2020, penulis sekaligus futuris, Tony Estrella, menerbitkan A Vision for APAC in 2050, sebuah laporan resmi untuk mendorong diskusi tentang masa depan kesehatan di wilayah Asia Pasifik. Laporan resmi ini awalnya muncul di FutureProofing Healthcare, sebuah platform untuk berbagi data dan wawasan guna mendorong pengambilan keputusan berbasis bukti. Artikel ini memperluas konsep dari laporan resmi tersebut untuk mengeksplorasi bagaimana fungsi laboratorium klinis dapat berkembang pada tahun 2050.
Visi 2050: data kesehatan waktu nyata mengatasi krisis kesehatan global
Olivia dan Kalpana mengangkat tinggi tangan mereka, disambut tepuk tangan meriah dari audiens World Health Summit 2050. Dengan berakhirnya presentasi utama bersama mereka, 15 tahun kolaborasi erat antarnegara yang penuh tantangan, tetapi berbuah hasil, mencapai kesimpulan yang memuaskan. Tulisan yang terpampang di banner holografik di atas kepala mereka merangkum alasan keduanya tersenyum bahagia: “Kementerian Kesehatan Preventif dari India dan Singapura meluncurkan program inovatif untuk mengatasi kanker.”
Beberapa menit kemudian, mereka duduk bersama di belakang panggung, mengatur napas mereka setelah kegembiraan yang meluap. Kalpana melihat deretan pesan ucapan selamat yang diterimanya, lalu memberikan ponselnya kepada Olivia. “Kau tahu siapa yang harus kita hubungi lebih dahulu, ‘kan?” “Tentu, lah!” Olivia langsung menekan layar ponselnya untuk menghubungi kantor pusat global Digital Twin Bureau. “Tanpa data dan wawasan waktu nyata mereka, semua ini mustahil terwujud.”
Meninjau kembali perjalanan dari laboratorium klinis awal menuju Lab 3.0 pada tahun 2050
Sejarah pengamatan gejala klinis seseorang telah ada sejak zaman Mesir Kuno dan Mesopotamia. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan ilmiah, tingkat kecanggihan tes pun ikut meningkat. Abad ke-19 menjadi titik balik penting bagi lahirnya Lab 1.0. Selama 150 tahun berikutnya, pengembangan peralatan inti seperti mikroskop dan beragam instrumen diagnostik serta uji yang terus bertambah telah membuka jalan bagi para tenaga medis untuk mengukur serta mengklasifikasikan individu secara objektif. Arus inovasi berkesinambungan dalam pengambilan sampel, pengujian, dan otomatisasi berbasis manusia turut membentuk fondasi bisnis laboratorium klinis. Sekitar tahun 2010, pergeseran menuju Lab 2.0 dimulai. Setelah pandemi COVID-19 dimulai pada tahun 2020, transisi ini mengalami percepatan. Lonjakan kebutuhan laboratorium klinis pada periode ini menyingkap kelemahan dalam infrastruktur kesehatan global. Akibat hal tersebut, muncul dua tren besar. Pertama, integrasi teknologi yang lebih luas—seperti robotika, kecerdasan buatan, dan jaringan—meningkatkan tingkat otomatisasi berbasis mesin di laboratorium. Pergeseran kedua muncul dari nilai data sebagai aset bisnis. Sumber daya klinis baru ini memungkinkan terciptanya penciptaan bersama dan kolaborasi yang lebih luas antara laboratorium klinis dengan pemangku kepentingan layanan kesehatan lainnya, seperti rumah sakit, pemerintah, perusahaan farmasi, dan produsen perangkat medis. Pada tahun 2025, model Lab 2.0 telah berkembang jauh melampaui model Lab 1.0 yang hanya berfokus pada penerimaan pesanan tes dan optimalisasi pemenuhan. Hal ini menjadikan laboratorium sebagai agregator data tepercaya dan mitra operasional. Studi kasus untuk model Lab 2.0 mencakup pengaruh terhadap aktivitas kesehatan populasi utama, seperti stratifikasi risiko, identifikasi dini penyakit, dan kesenjangan perawatan yang bersifat sistemik dalam sistem kesehatan. Dalam kurun waktu 25 tahun ke depan, munculnya dua perubahan transformatif baru mendorong industri untuk mendefinisikan ulang perannya. Didorong oleh lonjakan sensor konsumen berkemampuan lab-on-chip, aset data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh laboratorium klinis tumbuh secara eksponensial. Konsep “laboratorium” mengalami perubahan. Penggabungan pengetahuan klinis dengan kecerdasan buatan serta pengelolaan data farms menjadikan wawasan sebagai mata uang baru bagi operasional. Seiring dengan pertumbuhan data, perusahaan-perusahaan Lab 3.0 mulai menarik minat dari beragam jenis pelanggan melalui analisis dan rekomendasi berbasis wawasan. Tenaga medis, rumah sakit, dan pemerintah terus berperan sebagai pembeli inti produk-produk ini. Namun, volume besar data waktu nyata yang masuk ke gudang virtual yang dikelola perusahaan Lab 3.0 menghadirkan manfaat tambahan selain pengujian dan penentuan intervensi perawatan yang sesuai. Berbagai pihak mencari inovasi simulasi “kembaran digital” dari Lab 3.0 untuk memodelkan cara menyembuhkan penyakit, meningkatkan kesehatan, dan bahkan megeksplorasi peningkatan genetik yang aman agar manusia mampu menghadapi tekanan perjalanan luar angkasa. Kasus penggunaan lain dikembangkan, dengan menambahkan model bisnis baru yang langsung berasal dari konsumen, termasuk biaya lisensi silang dari perusahaan Lab 3.0 yang mengatur penggunaan Humanome individu demi meningkatkan hasil kesehatan individu mereka serta Kesehatan Jangka Panjang populasi. Bagan berikut ini merangkum evolusi perjalanan menuju Lab 3.0. 
Perlunya arbiter netral: Digital Twin Bureau
Pada masa-masa awal Lab 3.0, muncul tantangan industri yaitu bagaimana menciptakan standar dan menjawab isu kolaborasi seiring dengan evolusi model bisnis serta rangkaian produk dan jasa. Untuk memandu pergeseran di laboratorium klinis individual, para pemimpin bisnis secara proaktif mendirikan jenis entitas baru dalam bidang kesehatan, yaitu Digital Twin Bureau (DTB). Sebagian berfungsi sebagai badan standar, sebagian sebagai tata kelola, dan sebagian sebagai perantara data, DTB membantu menyediakan struktur serta solusi manajemen aktif. Sebagai badan standar dan tata kelola, organisasi ini memimpin upaya menjawab berbagai pertanyaan kritis dalam kategori berikut:
Misalnya, selama 15 tahun kolaborasi antara Kementerian Kesehatan India dan Singapura, DTB membantu menyatukan berbagai pemangku kepentingan serta bertindak sebagai perantara data netral di tiga bidang: (1) Menemukan data yang unik:
- Mengidentifikasi perusahaan tepercaya dengan produk konsumen yang dapat ditanamkan
- Menyediakan pengukuran lab-on-a-chip untuk glukosa waktu nyata, kadar hormon, toksisitas makanan individuali berdasarkan mikrobioma usus, pertumbuhan plak beta amiloid, serta penyakit kardiovaskular pada beragam kelompok masyarakat di India dan Singapura
(2) Menjalankan simulasi kembaran digital:
- Mengidentifikasi perusahaan tepercaya dengan infrastruktur yang dapat diskalakan dan privasi data untuk menjalankan model kompleks ini
- Menetapkan standar untuk pelaporan mengenai input data waktu nyata yang memodelkan langkah-langkah pencegahan terhadap faktor risiko gaya hidup
- Melakukan benchmarking hasil kerja yang diselesaikan di Singapura dan India untuk menghapus makanan serta penyebab lingkungan yang bersifat karsinogenik dengan menggunakan data dasar dari negara-negara lain
- Bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk merangkum praktik terbaik tentang cara agar predisposisi genetik dapat ditindaklanjuti
(3) Mempromosikan kepemimpinan pemikiran tentang langkah penargetan tingkat individual dan populasi untuk menghentikan kanker:
- Mengumpulkan pemimpin-pemimpin utama untuk berbagi pengetahuan
- Mendukung organisasi yang berhadapan langsung dengan konsumen guna memberikan informasi tentang program baru untuk mengidentifikasi tingkat risiko individu serta mendukung pendekatan mereka terhadap intervensi yang dipersonalisasi
Kesimpulan: Yang diperlukan untuk mewujudkan visi Lab 3.0
Perubahan bukanlah hal yang mudah. Pernyataan ini sangat relevan di bidang kesehatan, yang dipenuhi berbagai prioritas yang saling bersaing dan tantangan regulasi yang memperumit pertumbuhan. Sejak masa awal hingga Lab 3.0, laboratorium klinis selalu menangani data sebagai komponen dari produk dan layanannya. Lab 3.0 merupakan titik alami bagi organisasi dalam menemukan cara untuk menciptakan nilai tingkat individu dan populasi guna mentransformasi layanan kesehatan. Melalui perspektif ini, mencapai Lab 3.0 tampaknya bukanlah hal yang disruptif, melainkan evolusi alami dari industri ini. Keputusan-keputusan penting yang memungkinkan bisnis individual dan pemangku kepentingan menempuh jalur inovasi disruptif serta dapat mencapai pertumbuhan berkelanjutan mencakup:
- Beralih dari fokus pada volume tes dan jumlah pasien yang ditangani ke arah penciptaan hasil kesehatan yang berdampak bagi populasi yang ditargetkan
- Mengutamakan konsumen melalui penggunaan teknologi
- Beradaptasi dengan model bisnis baru dengan cakupan pelanggan yang diperluas
- Mengintegrasikan konteks budaya dalam interpretasi data agar tindakan yang dihasilkan menjadi lebih efektif
Keputusan-keputusan tersebut pada akhirnya melahirkan ekosistem yang terdiri atas perusahaan Lab 3.0 dan DTB, yang memungkinkan individu seperti Olivia dan Kalpana berkontribusi dalam menghapus kanker dari dunia. Tentang FutureProofing Healthcare FutureProofing Healthcare dimulai pada tahun 2018 sebagai upaya untuk melakukan benchmarking terhadap kinerja sistem kesehatan saat ini guna mempersiapkan masa depan. Program ini membangun komunitas untuk berbagi wawasan dan data sehingga keputusan didasarkan pada bukti, bukan perasaan. COVID-19 secara jelas menyoroti pendekatan ini di seluruh dunia. Inisiatif ini didukung oleh Roche. Kunjungi www.futureproofinghealthcare.com untuk mempelajari selengkapnya. Tentang Tony Estrella Tony Estrella adalah seorang penulis dan futuris, pembangun bisnis, serta ahli strategi di bidang HealthTech. Ia merupakan Managing Director di Taliossa, yang membantu perusahaan rintisan dan perusahaan kesehatan yang sudah melantai di bursa dalam menemukan kesesuaian produk dengan pasar di Asia Pasifik. Melalui proyek konsultasi, dukungan bagi investor modal ventura, dan peran sebagai anggota dewan direksi independen, Tony mempercepat inovasi disruptif di bidang kesehatan populasi, kanker, kesehatan otak, dan ilmu tidur. Ia tampil di berbagai media, termasuk BBC World Service, Inside Asia, Digital Health Today, dan The Healthcare Blog. Sebagai penulis, Tony memprediksi masa depan layanan kesehatan yang dipengaruhi oleh teknologi termasuk AI, perangkat pintar, dan robotika. Debut novel fiksinya, Comatose, mengeksplorasi ilmu tentang pikiran dan mimpi dalam sebuah thriller fiksi spekulatif lintas dunia. Saat ini ia sedang menulis sekuel dari karya tersebut. Kunjungi www.tonyestrella.com untuk mempelajari selengkapnya.

