Kanker hati di Jepang: Dr. Shun Kaneko tentang skrining dan surveilans HCC

September 27, 2021 Bullet Artikel

Jepang merupakan pemimpin global dalam surveilans karsinoma hepatoseluler (HCC), dengan program efektif yang memungkinkan deteksi karsinoma pada stadium awal sehingga memberikan hasil pasien yang positif (62% pasien HCC terdiagnosis pada stadium A dan B [1], dengan tingkat kelangsungan hidup keseluruhan 5 tahun mencapai 44%). Perawatan medis, kebijakan kesehatan, dan penawaran asuransi kesehatan di Jepang juga bertaraf dunia, tetapi masih ada kebutuhan yang tidak terpenuhi yang terus memengaruhi pengelolaan HCC, dari deteksi dan diagnostik hingga praktik klinis harian.

Untuk mengetahui selengkapnya tentang kemajuan dan tantangan Jepang dalam pengelolaan HCC, Lab Insights berbincang dengan Dr. Shun Kaneko, seorang hepatolog yang penelitian klinisnya berfokus pada hepatitis virus, analisis risiko untuk pengembangan HCC, dan pengobatan kanker hati. Komitmen utama Dr. Kaneko adalah memberantas kanker hati, tidak hanya dengan menemukan pengobatan anti-kanker yang efektif, tetapi juga dengan mengidentifikasi dan menekan faktor-faktor risiko karsinogenesis hati akibat penyakit hati kronis.

Epidemiologi dan pengobatan HCC di Jepang

Dalam beberapa tahun terakhir, epidemiologi kanker hati di Jepang mengalami perubahan berkat implementasi skrining untuk infeksi virus hepatitis B dan C (HBV dan HCV) serta vaksinasi HBV. Dr. Kaneko mencatat bahwa kasus HCC terkait HCV mengalami penurunan, sementara penyakit hati non-B serta non-C (NBNC) menunjukkan peningkatan.

HCC stadium lanjut masih menjadi masalah, dengan banyak kasus yang tidak terdiagnosis karena sifatnya yang asimtomatik atau karena pasien enggan menjalani skrining. Selain itu, meskipun sebagian pasien hepatitis virus memperoleh manfaat dari pengobatan dengan agen antivirus kerja-langsung (DAA) atau analog asam nukleat, pasien NBNC seperti penderita penyakit hati alkoholik dan penyakit perlemakan hati non-alkoholik memiliki jalur pengobatan yang lebih sedikit. Lebih lanjut, baik skrining kesehatan kerja maupun umum untuk hepatitis virus masih melewatkan sejumlah pasien, termasuk mereka yang positif hepatitis dan membutuhkan pemeriksaan lebih mendetail.

Di sisi positifnya, skema layanan kesehatan di Jepang menyediakan dukungan finansial untuk berbagai prosedur diagnostik dan pengobatan, termasuk terapi kombinasi serta terapi berbiaya tinggi seperti DAA.  Dengan meningkatnya ketersediaan agen terapeutik baru, lebih banyak pasien HCC kini dapat menerima pengobatan. Meskipun atezolizumab dan bevacizumab saat ini menjadi terapi lini pertama yang efektif untuk HCC, pasien di Jepang yang memiliki fungsi hati yang rendah atau kanker hati stadium sangat lanjut tetap menghadapi prognosis yang buruk, terlepas dari kemajuan dan ketersediaan pengobatan.

Protokol diagnostik dan surveilans

Bagi pasien ‘berisiko tinggi’—termasuk pasien dengan hepatitis B kronis, hepatitis C kronis, atau sirosis—Guidelines for Liver Cancer Examination and Treatment dari Japanese Society of Hepatology menyarankan ultrasonografi setiap 6 bulan dan evaluasi penanda tumor [2]. Untuk pasien ‘berisiko sangat tinggi’ dengan sirosis HBV dan HCV, asosiasi tersebut menyarankan ultrasonografi yang lebih sering setiap 3—4 bulan, pemeriksaan penanda tumor (AFP, AFP-L3, PIVKA), serta pilihan pemindaian CT/MRI dinamis setiap 6—12 bulan.

Bagi masyarakat Jepang yang lebih muda dan sehat, sistem surveilans negara tersebut menerapkan strategi stratifikasi risiko dengan evaluasi awal oleh dokter, yang kemudian dilanjutkan dengan penggunaan alat diagnostik sesuai usia pasien serta riwayat pemeriksaan kesehatan sebelumnya. Pasien muda mungkin memiliki riwayat hepatitis virus, tetapi asimtomatik dan belum pernah menjalani skrining kesehatan sebelumnya. Untuk memastikan individu tersebut tidak terlewat, upaya skrining di tempat kerja dilakukan serta alat surveilans yang lebih canggih digunakan untuk menjangkau populasi ini secara menyeluruh dan cepat.

Upaya surveilans di Jepang juga diperkuat dengan inisiatif sosial dan media, termasuk program televisi atau kampanye mengenai virus hepatitis serta HCC. “Di institusi kami, pasien serta masyarakat diedukasi tentang penyakit asimtomatik dan perlemakan hati sebagai risiko kanker hati, pemantauan penyakit dengan pencitraan ditawarkan bagi fibrosis lanjut, lokakarya diselenggarakan tidak hanya untuk pasien, tetapi juga untuk praktisi umum yang membutuhkan pemeriksaan mendetail, serta penelitian juga dilakukan terhadap data pemeriksaan kesehatan medis,” jelas Dr. Kaneko.

Bidang kebutuhan yang belum terpenuhi dan harapan untuk masa depan

Meskipun menjadi pemimpin global dalam surveilans HCC, Dr. Kaneko mengakui bahwa Jepang masih memiliki banyak bidang yang perlu ditingkatkan. “Sistem skrining kanker di Jepang sudah memadai, tetapi kesulitan dalam menindaklanjuti pasien tetap ada,” ungkapnya. “Pasien kanker lambung atau usus besar dipantau selama lima tahun setelah operasi, dan tidak dilanjutkan jika tidak ada kekambuhan. Namun, bagi pasien HCC, sulit untuk mengetahui kapan tindak lanjut sebaiknya diakhiri.”

Menjangkau lebih banyak pasien akan membutuhkan berbagai teknologi baru, termasuk biomarker baru dan alat diagnostik yang inovatif, karena AFP, sebagai penanda diagnostik HCC bersama PIVKA dan isoform AFP lainnya, tidak selalu akurat, sensitif, atau mengindikasikan adanya penyakit. Saat ini, dokter masih mengandalkan biomarker yang telah terbukti dalam praktik klinis rutin, skrining pasien, atau surveilans, dan menantikan hadirnya biomarker genomik yang dapat memfasilitasi pengobatan presisi.

Untuk praktik klinisnya sendiri, Dr. Kaneko mengharapkan adanya alat diagnostik yang dapat menilai perbedaan individu, prognosis, dan karsinogenisitas, serta dapat memilih agen terapeutik yang sesuai. Selain genomik dan pengobatan presisi, ia menantikan perkembangan pada penanda HBV baru, agen terapeutik baru, serta tes untuk membedakan steatohepatitis non-alkoholik dari steatosis sederhana.

Dr. Kaneko juga mencatat bahwa kebijakan pemerintah yang berkembang akan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas skrining dan perawatan kanker hati. “Pembuat kebijakan harus memahami bahwa skrining yang tepat memungkinkan deteksi dini dan pengobatan dini serta meningkatkan prognosis, tetapi tetap harus ada batas yang realistis terhadap biaya,” jelas Dr. Kaneko.

Negara-negara yang melihat keberhasilan Jepang sebagai acuan dapat mempertimbangkan kombinasi pencitraan dengan surveilans penanda tumor untuk klasifikasi risiko dan mengimplementasikannya dalam praktik klinis sehari-hari. Langkah tersebut berhasil meningkatkan proporsi HCC di Jepang yang terdeteksi lebih dini, serta proporsi pasien yang dapat menerima pengobatan lokal dan prognosis yang lebih baik. Dari sudut pandang efektivitas biaya, negara-negara yang memiliki sumber daya finansial dan infrastruktur medis sebaiknya melakukan surveilans semacam ini.

Referensi:

[1]  Kudo M. (2018). Management of Hepatocellular Carcinoma in Japan as a World-Leading Model. Liver cancer, 7(2), 134–147. https://doi.org/10.1159/000484619

[2]  Guideline on Liver Cancer Examination and Treatment. https://www.jsh.or.jp/English/examination_en/. Dipublikasikan 2021.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top