Artikel ini adalah bagian dari seri tentang pengobatan hepatitis C di Pakistan (Program Eliminasi HCV) dan negara-negara berisiko tinggi lainnya di seluruh dunia. Artikel-artikel berikutnya dalam seri ini akan membahas provinsi-provinsi Pakistan, yaitu Sindh dan Punjab. Gulir ke bagian bawah artikel untuk melihat daftar lengkapnya.
Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, atau KPK, terletak di wilayah barat laut Pakistan, di perbatasan dengan Afganistan. Seperti di tempat lain di Pakistan—sebuah negara dengan salah satu tingkat infeksi HCV tertinggi di dunia—sistem layanan kesehatannya menghadapi tekanan yang terus meningkat dari kondisi yang berkaitan dengan HCV.
KPK adalah provinsi terbesar ketiga di Pakistan dalam hal populasi dan ekonomi, meskipun secara geografis menjadi wilayah terkecil. Ekonominya tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan pada tahun 2020, provinsi ini meluncurkan sistem layanan kesehatan gratis. Namun, banyak pasien di wilayah tersebut masih berjuang untuk mengakses layanan kesehatan dasar, terutama di daerah pedesaan di wilayah pegunungan tersebut.
Prof Aamir Khan, Head of the Gastroenterology and Hepatology division di Lady Reading Hospital Peshawar, adalah salah satu ahli terbaik di wilayah ini dalam eliminasi HCV. Dalam sebuah wawancara dengan Lab Insights, Prof Khan berbicara tentang upayanya untuk meningkatkan perawatan HCV di KPK, termasuk pasien dari provinsi tetangga di Afganistan, yang melintasi perbatasan untuk mencari pengobatan di rumah sakit tersebut.
Program eliminasi HCV di KPK
Meski KPK memiliki nuansa sosiobudaya yang unik, banyak faktor risiko infeksi HCV di wilayah ini mirip dengan negara-negara lain. Hal ini termasuk praktik pengobatan tradisional yang bergantung pada suntikan intravena dan penggunaan ulang alat suntik yang meluas. “Kebijakan yang terkait kesehatan dan program perawatan yang disponsori pemerintah mungkin juga tidak dilaksanakan dengan baik sehingga masalahnya terus memburuk,” ungkap Prof Khan, yang kemudian menginspirasi dirinya untuk memulai KPK Hepatitis Control Program, yang menyediakan pengobatan HCV gratis untuk para pasien.
Prof Khan juga terlibat dalam Program Perdana Menteri untuk mengeliminasi hepatitis B dan C. Program ini bertujuan untuk memberantas penyakit pada tahun 2030 dengan upaya untuk melakukan skrining seluruh populasi dewasa—sekitar 140 juta jiwa—serta memastikan agar semua pasien didiagnosis secara akurat dan diobati dengan tepat. Prof Khan juga percaya ada kebutuhan krusial bagi badan keputusan pusat untuk menetapkan pedoman dan rekomendasi yang akan menyederhanakan jalur pengobatan serta memfasilitasi upaya skrining dan pengobatan massal.
Selain tugas reguler dalam perawatan klinis dan edukasi medis, rencana masa depan Prof Khan melibatkan pembuatan register hepatitis C nasional untuk mendukung identifikasi yang akurat dari populasi yang terinfeksi HCV secara lokal dan nasional, meningkatkan kapasitas administratif, memperlancar penyediaan pengobatan, serta mendorong upaya penelitian.
Memberikan perawatan di zona perbatasan Afganistan-Pakistan
Prof Khan yakin bahwa pencegahan dan pendidikan HCV dalam masyarakat akan membantu membuka jalan untuk penghapusan dan mengurangi stigma sekitar penyakit tersebut. Individu yang didiagnosis dengan HCV di Pakistan sering kali dijauhi oleh masyarakat dan bahkan di dalam rumah tangganya sendiri, di mana mereka mungkin dipaksa untuk tinggal di ruangan yang terpisah jauh dari anggota keluarga. Kurangnya kesadaran dan stigmatisasi ini sering membuat orang enggan untuk melakukan tes.
Dalam sebuah wawancara radio BBC yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran HCV, Prof Khan membahas penyakit ini secara mendetail serta menjelaskan cara penularannya dan cara melindungi diri dari penyakit tersebut. Penyiaran tersebut mengakibatkan para pasien di negara tetangga, Afganistan, bepergian bermil-mil ke rumah sakitnya untuk pengobatan. “Kami ingin menyediakan layanan kesehatan yang gratis kepada siapa saja yang membutuhkannya,” ujarnya. “Saya tidak dapat menolak pasien yang sedang membutuhkan dari Afganistan.”
Sebelum pecahnya COVID-19, Prof Khan mengenang satu pasien dengan sirosis hati yang melakukan perjalanan selama empat hari dari sebuah desa pegunungan di Afganistan untuk melihat dirinya. Pasien tersebut dibawa di atas tempat tidur anak-anak, lalu dipindahkan ke sebuah mobil untuk menyelesaikan perjalanan ke Pakistan. Ketika mengobati pasien ini, Prof Khan mengetahui bahwa desa tersebut hanya memiliki satu alat suntik kaca untuk semua penduduknya, yang menunjukkan bahwa banyak orang lain yang mungkin terinfeksi di sana.
Dengan pengetatan kontrol perbatasan akibat COVID-19, Prof Khan telah melihat pengurangan jumlah pasien yang besar dari seberang perbatasan di Afganistan. “Saya menduga kami kehilangan banyak pasien yang tidak dapat mengakses kami,” ungkapnya khawatir. Dia khawatir bahwa tanpa bantuan medis, pasien kemungkinan akan terpapar praktik medis yang buruk dan tidak higienis.
“Situasi penyediaan layanan kesehatan di Afganistan sudah kritis,” jelasnya. “Jika kami tidak menjangkau pasien, mereka dapat terus mengembangkan sirosis dan karsinoma hepatoseluler.”
Prof Khan percaya bahwa diperlukan dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah, LSM, dan perusahaan layanan kesehatan swasta untuk meningkatkan kesadaran dan pengobatan penyakit di masyarakat. Prakarsa seharusnya mencakup pelatihan bagi dokter dan staf rumah sakit, penyuluhan kepada pasien terkait HCV, meluncurkan alat suntik auto-disable yang hanya dapat digunakan sekali, menyediakan instrumen gigi dan bedah sekali pakai, serta menerapkan sanksi tegas untuk praktik ilegal oleh dokter gigi dan dokter yang tidak terdaftar.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang beban HCV yang kian bertambah di Pakistan dan Asia Pasifik, lihat kasus-kasus lain ini di Lab Insights:
- HCV screening in Egypt: key elements of a successful national screening programme
- HCV elimination in Pakistan: insights from Dr Zaigham Abbas
- Tackling HCV in Punjab: local experts share strategies for success
- HCV elimination in Sindh: insights from Prof Muhammad Sadik Memon and Dr Zaigham Abbas
- Pakistan’s national HCV elimination programme: insights from Dr Huma Qureshi
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh penyakit hati di Asia Pasifik, lihat video Q&A with Prof Pierce Chow dari National Cancer Center Singapore ini.
