Di tengah meningkatnya upaya kesehatan global untuk mengurangi kematian akibat hepatitis B (HBV), para pemimpin laboratorium dan perawatan kesehatan dari seluruh dunia mengembangkan dan mengerahkan biomarker baru untuk memandu strategi perawatan. Pada webinar baru-baru ini yang diselenggarakan oleh Roche Diagnostics, dua ahli virologi dari Australia berbicara tentang perkembangan terbaru dari diagnosa HBV dan potensi penggunaannya di negara tersebut.
Berikut ini adalah beberapa kesimpulan penting dari webinar, yang menampilkan presentasi dari Prof Alex Thompson, Professor dan Direktur Departement of Gastroenterology di St Vincent’s Hospital di University of Melbourne, dan A/Prof Mark Douglas, Associate Professor di The University of Sydney dan Storr Liver Center, The Westmead Institute for Medical Research, Australia.
Pentingnya reduksi HBV
Dengan 2 miliar penduduk dunia yang mengalami HBV pada suatu saat dalam hidup mereka dan 300 juta penduduk yang menderita infeksi kronis, HBV memberikan tantangan kesehatan global yang besar. Jika tidak ditangani, hingga 40% pasien dapat meninggal karena sirosis atau kanker hati yang disebabkan oleh virus tersebut.
Inilah sebabnya mengapa lembaga kesehatan masyarakat menargetkan HBV dalam kampanye besar-besaran untuk mengurangi atau menghilangkan virus. Pada tahun 2016, WHO mengumumkan rencana untuk mereduksi infeksi HBV sebesar 90% dan kematian sebesar 65% pada tahun 2030. Rencana tersebut bergantung pada penargetan transmisi dari ibu ke anak sebelum atau saat kelahiran, dan mendorong penggunaan vaksinasi, tes, dan terapi untuk mengurangi beban penyakit.
Fokus pada transmisi vertikal dari ibu hamil ke bayi sangat penting untuk mengatasi tantangan infeksi kronis. Orang dewasa yang terinfeksi HBV hanya memiliki 5% kesempatan untuk mengembangkan kondisi kronis. Namun bayi yang terinfeksi oleh ibu mereka sebelum atau saat lahir memiliki resiko 90% terkena infeksi kronis.
Kasus HBV kronis adalah kasus yang membutuhkan pengobatan yang berkelanjutan dan pemantauan konstan, menjadikannya paling menantang.
Pengembangan biomarker HBV di Australia
Di Australia, ada strategi nasional yang bertujuan meningkatkan vaksinasi anak, memperluas diagnosis untuk menangkap kasus yang lebih kronis, dan meningkatkan ketersediaan obat antivirus dan perawatan lainnya. Prof. Thompson dan Prof. Douglas berkontribusi pada upaya ini dengan menguji beragam antigen dan biomarker lainnya untuk menentukan bagaimana mereka bisa digunakan untuk mendiagnosis pasien dan memantau mereka saat mereka sedang menjalani pengobatan.
Antigen permukaan dapat ditemukan dalam darah sejak saat terinfeksi HBV, dan pasien kronis mencapai keadaan penyembuhan fungsional ketika antigen tersebut tidak dapat lagi dideteksi. Pengukuran DNA HBV adalah cara untuk menilai muatan virus pasien dan penanda umum guna menentukan apakah pengobatannya efektif, sementara HBeAg adalah indikator kontrol kekebalan. Aktivitas biomarker berubah sepanjang infeksi HBV.
“Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui cara mengawasi penanda-penanda ini dan mengetahui apa yang kita cari untuk memulai pengobatan,” ujar Prof. Douglas.
Penting juga untuk terus mengembangkan penanda-penanda baru. Penanda yang bermunculan bisa memungkinkan era pengobatan yang dikhususkan bagi penyandang HBV, kata Prof. Thompson. Sebagai contoh, mengukur penanda antigen permukaan dengan ELISA, bukan sekadar melaporkan hasil negatif atau positif, dapat memberikan penanda ini nilai tambah dalam menentukan waktu memulai atau menghentikan pengobatan untuk setiap pasien.
Penanda baru juga dapat memprediksi apakah pasien cenderung mencapai tahap pengobatan fungsional atau tidak, dan apakah pasien hamil cenderung menularkan virusnya kepada bayinya. Dalam studi baru terhadap pengobatan interferon, kadar antigen permukaan dapat memprediksi pasien mana yang akan mendapat manfaat dari pengobatan berkelanjutan dan yang tidak.
“Saya rasa kadar antigen permukaan sekarang telah siap untuk diluncurkan,” kata Prof. Thompson, yang merekomendasikan pengujian untuk biomarker ini pada semua pasien dengan HBV. Pendekatan ini juga bisa menjadi penting di masa depan untuk pemilihan pengobatan baru yang sesuai yang sekarang sedang dikembangkan, seperti suntikan antisense oligonukleotida yang sedang dalam uji klinis. “Era terapi baru untuk hepatitis B sedang menyingsing,” tambahnya.
HBV RNA adalah sebuah biomarker yang muncul dengan harapan nyata, yang mungkin menawarkan gambaran aktivitas transkripsi yang lebih berguna daripada DNA HBV. Dalam studi perhentian pengobatan Hep B NA, misalnya, peningkatan RNA HBV terbukti dapat meningkatkan risiko hepatitis flare dan secara negatif terkait dengan hilangnya HBsAg. Prof Thompson juga mencatat bahwa HBV RNA dapat menunjukkan utilitas klinis untuk memprediksi reaktivasi HBV pada pasien yang mengalami imunodefisiensi, risiko HCC, atau respons terhadap terapi baru.
“Serum HBV RNA terlihat menjanjikan dan studi lebih lanjut diperlukan,” katanya. “Saya menantikan hasil dan data dalam beberapa tahun mendatang.”
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengujian HBV, tonton webinar lengkap bersama Prof. Thompson dan A/Prof. Douglas, atau lihat artikel lainnya dari Lab Insights.


