Pendahuluan – LIS & Middleware dalam Perawatan Kesehatan
Lebih dari 90% laboratorium klinis di wilayah Asia Pasifik memiliki sistem informasi laboratorium (LIS) untuk mengelola data dan alur kerja mereka, tetapi kurang dari setengahnya menggunakan middleware untuk mengintegrasikan sistem yang berbeda. Namun adopsi middleware tengah berkembang dengan cepat, menurut hasil terbaru dari Asia Pacific Laboratory Benchmarking Survey, sebuah survei tahunan oleh Roche Diagnostics yang mengukur tingkat keefektifan operasional dari laboratorium-laboratorium klinis di seluruh kawasan.
Adopsi middleware meningkat
Dalam survei terbaru, 46% dari semua laboratorium di wilayah Asia Pasifik mengatakan mereka sedang menggunakan atau berencana untuk menggunakan middleware – naik dari hanya 29% pada tahun 2017. Seperti yang ditunjukkan dalam grafik di bawah, penetrasi sistem middleware sedikit lebih besar di negara-negara maju, tetapi pangsa yang sedikit lebih besar dari laboratorium di pasar negara berkembang tengah berencana untuk memasang sistem middleware pada tahun-tahun mendatang.

Meskipun adopsi yang semakin meningkat di Asia Pasifik, middleware masih lebih banyak digunakan di Amerika Serikat dan Eropa, menurut Profesor Madya Sunil Sethi, President of the Asia Pacific Federation of Clinical Biochemistry and Laboratory Medicine (APFCB) dan Direktur Kelompok Laboratorium Medik di National University Health System (NUHS) di Singapura. “Kami masih belum terlalu melihat [middleware] di bagian dunia kami,” kata Sethi di acara Roche Efficiency Day yang baru-baru ini diadakan di Nagoya, Jepang pada bulan Desember 2019 (lihat Otomatisasi Laboratorium, Pengendalian Proses, dan Informatika Tanpa Hambatan dengan Integrasi LIS/EMR/NEHR untuk detail lebih lanjut tentang bagaimana organisasinya menggunakan middleware untuk menghubungkan sistem yang berbeda dan menyederhanakan tugas-tugas penting).
Penggunaan LIS dan middleware
Laboratorium di wilayah Asia Pasifik menggunakan sistem LIS dan middleware untuk berbagai tujuan. Lima penggunaan yang paling umum termasuk pemantauan waktu penyelesaian (75,9%), laporan hasil kritis (73,2%), pembuatan laporan statistik (71,4%), ekspor data (70,1%) dan laporan QC/statistik (69,3%).

Pemantauan TAT (Waktu Penyelesaian) secara real-time (52,0%), manajemen inventaris (50,9%) dan validasi otomatis (43,6%) jarang digunakan, namun ketertarikan akan berbagai teknologi ini tampak kuat, karena responden yang berada di atas rata-rata menunjukkan mereka berencana mengadopsinya pada tahun-tahun mendatang. Penggunaan yang kurang umum dari sistem TI termasuk manajemen hasil pasien (46,4%), akunting/penagihan untuk pengujian (44,6%), interpretasi indeks serum (39,2%), dasbor KPI (25,4%), pemberitahuan ponsel pintar (17,4%), dan keputusan klinis yang dibantu AI (9,9%). Ketika mengkaji hasil tersebut, satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa laboratorium besar (didefinisikan sebagai laboratorium yang menjalankan lebih dari 1000 sampel/hari) cenderung memiliki sistem TI pada tempatnya, sedangkan laboratorium yang lebih kecil cenderung tidak menggunakannya. Untuk mendapatkan data yang lebih terperinci dan mengikuti tren-tren ini, mendaftarlah akun di Lab Insights dan berlanggananlah saluran LinkedIn Roche Diagnostics Asia Pasifik kami untuk mendapatkan pembaruan. Dan jika Anda memiliki pertanyaan mengenai arti berbagai tren ini bagi laboratorium Anda, hubungilah Wesley Wong ([email protected]) untuk informasi selengkapnya.

