Merancang ulang laboratorium patologi molekuler dan sitogenetika di Amerika dengan Lean Six Sigma

Juni 17, 2019 Bullet Artikel

Laboratorium patologi molekuler di Atrium Health merupakan salah satu laboratorium patologi molekuler layanan lengkap terbesar di AS dan menerima sampel dari negara bagian Carolina Utara dan Carolina Selatan. Kami menjalankan 750.000 pemeriksan per tahun dan terlibat dalam program uji klinis. Selain itu, laboratorium sitogenetika tersebut merupakan salah satu laboratorium non-komersial terbesar di AS. Volume dan persyaratan pemeriksaan seperti ini sangat menuntut, dan untuk meningkatkan alur kerja kami menerapkan prinsip Lean Six Sigma (LSS), yang dirancang untuk merampingkan proses kerja dan mengurangi pemborosan. Mengingat beragamnya jenis pemeriksaan yang kami tawarkan, kami memiliki banyak proses yang perlu dievaluasi. Ini mencakup pemeriksaan untuk penyakit keturunan, penyakit infeksi, onkologi tumor hematologi dan solid, analisis kromosom, analisis hibridisasi fluoresensi in situ (FISH), serta analisis sitogenetika molekuler. Proses kultur dan analisis yang rumit membuat otomasi dan kebutuhan staf menjadi tantangan terbesar bagi laboratorium kami. 1 Beberapa tahun lalu, fasilitas kami mengalami peningkatan besar dalam jumlah pemeriksaan yang kami selesaikan, dan infrastruktur laboratorium tidak lagi mampu menangani permintaan tersebut. Kami juga memiliki laboratorium yang tersebar di berbagai rumah sakit dan di lantai yang berbeda—laboratorium sitogenetika berada di basement gedung rehabilitasi, laboratorium mikrobiologi berada di rumah sakit utama, dan laboratorium patologi molekuler berada di rumah sakit ketiga. Pada tahun 2015, kami memutuskan untuk mencari ruang tambahan agar semua laboratorium dapat digabungkan, sambil merancang tata letak yang efisien berdasarkan prinsip Lean. Tujuan kami adalah meningkatkan alur kerja, meningkatkan produktivitas, melakukan pelatihan silang bagi staf, serta mengintegrasikan otomasi. Strategi desain tersebut mencakup tata letak yang efisien untuk memaksimalkan pilihan kami dalam melakukan konfigurasi ulang di masa depan sesuai kebutuhan. Kami menerapkan siklus perubahan Plan-Do-Study-Act (PDSA). Semua orang yang nantinya akan bekerja di gedung baru hasil desain ulang akan mengikuti pelatihan Lean secara berkelompok selama beberapa bulan. Pelatihan ini tidak hanya mencakup staf laboratorium, tetapi juga pegawai keamanan, TI, dan pemeliharaan. Semua orang terlibat dalam proses desain—proses ini dipimpin oleh anggota tim, dan teknolog laboratorium sendiri yang merancang laboratorium tersebut. Seluruh tim bahkan membuat model peralatan laboratorium berukuran asli dari karton, lalu menempatkan tiap peralatan tersebut di dalam ruang untuk memodelkan bagaimana alur kerja akan berlangsung. Banyak waktu dan energi dicurahkan untuk proyek tersebut.  Sebagai contoh, satu tim saja menggunakan lebih dari 200 lembar karton, membuat 250 unit furnitur, dan hanya tidur sekitar 80 jam selama periode lima hari.  Proses desain memang membutuhkan kerja keras, tetapi juga dapat menjadi proses yang menyenangkan dan kreatif yang meningkatkan semangat tim. 23 Sebagian besar laboratorium menjalani 9 hingga 12 iterasi desain, dan latihan hubungan spasial sangat penting untuk menentukan lokasi dan jarak paling praktis bagi fasilitas tertentu. Sebagai contoh, spesimen, peralatan, dan persediaan masuk melalui bagian belakang gedung, dekat area pemuatan. Untuk mengurangi jarak penanganan sampel, fasilitas mikrobiologi ditempatkan dekat dengan area manajemen spesimen. an untuk mengatasi masalah persediaan yang memakan terlalu banyak ruang laboratorium, kami menyiapkan area “supermarket” — pada dasarnya sebuah gudang besar untuk penyimpanan persediaan. 45 Pada Februari 2015, laboratorium sitogenetika saya menjadi salah satu yang pertama pindah ke ruang baru tersebut, dan kami melihat peningkatan signifikan yang berasal dari desain laboratorium yang baru, termasuk rantai pasok yang jauh lebih efisien serta alur kerja yang lebih lancar. Jarak perjalanan teknisi di dalam laboratorium berkurang 80–90%, dan jarak perjalanan spesimen berkurang 86%. Perpindahan tersebut juga menghasilkan peningkatan dalam aspek ketenagakerjaan: penyimpanan persediaan di area supermarket membuat para teknolog dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan teknis mereka, yang secara signifikan meningkatkan waktu penyelesaian, moral, dan keterlibatan. Kemampuan untuk melakukan pelatihan silang bagi staf dan mengintegrasikan lebih banyak otomasi ke berbagai laboratorium, seperti laboratorium mikrobiologi dan patologi molekuler, secara signifikan mengurangi hambatan. 6 Perubahan menuju lingkungan laboratorium Lean menjadi sebuah pergeseran paradigma bagi para pegawai laboratorium kami. Perubahan ini memungkinkan staf untuk bekerja secara kolaboratif dan berkomunikasi lebih efektif, sehingga menghasilkan penghematan waktu dan peningkatan kelancaran alur pemeriksaan. Bagi laboratorium mana pun yang ingin meningkatkan efisiensinya, penerapan prinsip Lean dapat menjadi solusi yang bermanfaat dan praktis. Selain itu, pelajari lebih lanjut tentang penerapan Lean Six Sigma di laboratorium Rumah Sakit Guang Dong.


Artikel ini didasarkan pada presentasi “Peningkatan proses berkelanjutan dalam sitogenetika dan patologi molekuler” pada Roche Efficiency Days (RED) 2018 REDefining perspective di Guangzhou, Tiongkok. 

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top