Poin penting untuk dari Pengujian Terdesentralisasi:
-
-
-
-
- sistem kesehatan di kawasan Asia Pasifik sedang beralih dari sistem perawatan yang berpusat pada rumah sakit, dengan konsumen dan tenaga medis mendukung langkah menuju perawatan dasar yang mandiri dan dapat diakses melalui pengujian yang terdesentralisasi.
- Uji diagnostik di tempat pelayanan (POCT) memfasilitasi pergeseran ini – membawa diagnostik berkualitas laboratorium ke klinik dokter umum, praktik keluarga, apotek, dan pos kesehatan pedesaan di seluruh kawasan.
- Pengujian HbA1c di tempat pelayanan mengurangi kunjungan ulang pasien, mempercepat pengambilan keputusan pengobatan, dan menurunkan biaya jangka panjang – terutama di komunitas yang kurang terlayani dan terpencil.
- Program-program seperti inisiatif ACE menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan kontrol kualitas yang tepat, tenaga non-laboratorium di daerah pedesaan dapat melakukan tes yang akurat dan bernilai tinggi untuk pengelolaan diabetes.
- Untuk penyakit pernapasan, POCT memungkinkan diagnosis triase yang cepat dan akurat di tingkat klinik, mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak sesuai, dan meringankan beban pada rumah sakit tersier.
- Bukti di dunia nyata – dari Vietnam ke Australia dan Inggris – membuktikan bahwa POCT dapat mengurangi evakuasi darurat, memangkas pengeluaran layanan kesehatan, dan meningkatkan hasil pengobatan pada berbagai kondisi.
-
-
-
Pergeseran ke arah perawatan kesehatan terdesentralisasi di Asia Pasifik
Rumah-rumah sakit di seluruh kawasan Asia Pasifik berada di bawah tekanan. Pusat perawatan tersier kewalahan akibat meningkatnya jumlah pasien, populasi yang menua, dan beban penyakit kronis yang tidak pernah dimaksudkan untuk dikelola di dalam ruang perawatan rumah sakit. Namun, hingga saat ini, pasien masih berduyun-duyun ke lingkungan perawatan kesehatan berbiaya tinggi untuk kondisi yang sebenarnya dapat – dan seharusnya – ditangani di fasilitas kesehatan yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Pergeseran itu sudah berlangsung. Di negara-negara seperti Australia, India, dan Singapura, sekitar 70% konsumen [1] mengatakan mereka mempercayai penyedia layanan kesehatan primer mereka ntuk mengelola kesehatan mereka secara keseluruhan – sebuah tanda bahwa landasan untuk sistem perawatan kesehatan terdesentralisasi tidak hanya sudah ada tetapi siap untuk diperluas. Di Australia, International Center for Point-of-Care Testing (ICPOCT) [3] di Flinders University kini mendukung 72 klinik jarak jauh. Program Healthier SG Singapura [4] memberdayakan para dokter keluarga untuk memimpin pengelolaan penyakit kronis. Pelayanan kesehatan kini melampaui batas dinding rumah sakit – dan para dokter pun ikut serta. Lebih dari 80 persen dokter di wilayah tersebut [1] setuju bahwa layanan non-darurat harus beralih ke fasilitas rawat jalan dan perawatan primer, sehingga sistem tersier dapat difokuskan pada perawatan kritis yang sesungguhnya.
Namun, agar peralihan ini berhasil, perawatan primer memerlukan lebih dari sekadar kebijakan – ia memerlukan alat. Uji diagnostik di tempat pelayanan (POCT) telah muncul sebagai salah satu faktor pendorong utama dalam pengembangan layanan kesehatan terdesentralisasi. Dengan menyediakan diagnostik berkualitas laboratorium dalam hitungan menit, POCT memberdayakan tenaga medis di garis depan dengan kecepatan dan akurasi untuk melakukan triase kasus berisiko tinggi, memantau penyakit kronis, dan mengelola wabah infeksi – tanpa perlu merujuk pasien ke rumah sakit yang kewalahan atau laboratorium yang jauh. Mari kita jelajahi bagaimana POCT mengubah garis depan layanan kesehatan di Asia Pasifik – mulai dari dokter umum dan klinik diabetes hingga apotek komunitas – dan mengapa hal ini bukan hanya merupakan kemudahan diagnostik, tetapi juga kebutuhan strategis.
Rumah sakit bukan lagi menjadi pilihan utama, dan ini adalah hal yang baik
Menurut tren terkini di kawasan Asia Pasifik, keyakinan bahwa rumah sakit adalah satu-satunya pilihan utama untuk layanan primer sedang mengalami pergeseran. Teknologi, ekspektasi konsumen, dan kenyamanan mendorong layanan kesehatan semakin dekat dengan tempat tinggal dan tempat kerja masyarakat. Pasien sekarang ingin pilihan yang cepat, terjangkau, dan dekat – dan mereka semakin nyaman melakukan pemeriksaan rutin dan tes diagnostik di luar rumah sakit. Dari apotek hingga klinik masyarakat, layanan kesehatan kini tersedia di tempat-tempat yang lebih mudah diakses. 50% konsumen di Kawasan Asia Pasifik mengatakan mereka terbuka terhadap model perawatan digital seperti telemedicine dan pemantauan jarak jauh dalam lima tahun ke depan, dan hampir 70% lebih memilih satu titik kontak terpadu untuk kesehatan mereka. [1]

Apakah tes HbA1c di tempat perawatan dapat mempercepat pengambilan keputusan perawatan untuk pasien diabetes?
Bagi penderita diabetes, setiap kunjungan tambahan ke klinik menambah beban – baik dalam hal waktu, perjalanan, maupun biaya. Dengan semakin besarnya beban pada penderita diabetes, kebutuhan untuk mengidentifikasi kasus-kasus yang belum terdiagnosis secara dini dan memantau pasien yang sudah diketahui secara lebih efisien juga semakin meningkat. Pemberian alat POCT yang mudah digunakan kepada klinik perawatan primer memungkinkan untuk melakukan tes pada pasien saat mereka sudah berada di lokasi, sehingga mengurangi peluang yang terlewatkan dan memastikan keputusan perawatan yang lebih cepat tanpa memerlukan kunjungan tambahan. Bagi penyedia layanan, hal ini adalah solusi praktis yang sesuai dengan alur kerja yang ada. Bagi pasien, kurang satu langkah lagi antara diagnosis dan tindakan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa POCT dapat mengurangi kunjungan ulang pasien hingga 61%, tidak hanya menghemat waktu di ruang tunggu tetapi juga mengurangi biaya tersembunyi seperti transportasi, parkir, dan waktu cuti kerja. Kunjungan yang lebih sedikit juga berarti biaya administrasi yang lebih kecil bagi klinik: sebuah studi mendapati bahwa POCT menyebabkan 89% penurunan panggilan tindak lanjut, 85% penurunan hasil yang dikirim melalui pos, dan penurunan 21% dalam jumlah tes per kunjungan pasien. [5] Selain efisiensi, kepuasan dan kepercayaan pasien sangat penting untuk keterlibatan jangka panjang – terutama dalam pengelolaan penyakit kronis. Pengujian di tempat pelayanan tidak mengurangi interaksi antara dokter dan pasien; hal ini justru membuat setiap kunjungan menjadi lebih bermakna. Ketika diagnosis dan keputusan pengobatan dilakukan dalam konsultasi yang sama, tenaga medis dapat memberikan perawatan yang tepat waktu dan percaya diri, sehingga mampu membangun kepercayaan sejak kunjungan pertama. Pasien kemungkinan besar kembali ketika mereka merasa diperhatikan, didengar, dan dibantu, tanpa harus berulang kali melakukan janji temu atau mendapatkan jawaban yang tertunda. Meskipun biaya per unit untuk POCT mungkin lebih tinggi daripada tes laboratorium, jika dilihat secara lebih luas, ceritanya akan berbeda. Peningkatan kontrol glikemik, penurunan komplikasi, dan pengurangan waktu rawat inap dapat menghasilkan penghematan yang berarti – baik bagi sistem kesehatan maupun pasien. Kepercayaan terhadap akurasi analitik perangkat POCT modern pun semakin meningkat. Dalam tinjauan enam tahun dari Norwegia, hingga 90% klinik dokter umum yang menggunakan POCT memenuhi standar mutu yang setara dengan laboratorium rumah sakit. [6] Program ACE (Analytical and Clinical Excellence), [7] yang dikembangkan melalui kerja sama dengan universitas-universitas internasional, memperluas akses terhadap uji HbA1c dan urine albumin creatinine ratio (ACR) melalui POCT di 35 pelayanan perawatan primer di area pedesaan dan terpencil di berbagai negara termasuk Kanada, Thailand, Timor Timur, Papua Nugini, Samoa, Kepulauan Solomon, dan Afrika Selatan. Temuan awal menunjukkan tingginya tingkat kontrol glikemik yang buruk dan sekitar 40% pasien mengalami tanda-tanda kerusakan ginjal (mikro atau makroalbuminuria). [7] Meskipun dijalankan oleh staf non-laboratorium, penilaian mutu menunjukkan kinerja analitis yang kuat di seluruh lokasi, yang membuktikan bahwa, dengan pelatihan dan jaminan mutu yang tepat, POCT yang terdesentralisasi dapat menutup kesenjangan diagnostik yang serius pada perawatan diabetes.
Apakah uji pernafasan dini di garis depan dapat meningkatkan hasil pengobatan pasien?
Penyakit pernapasan seperti influenza dan RSV seringkali menyebabkan rumah sakit menjadi penuh sesak, terutama selama puncak musim penyakit ini. Diagnosis yang tertunda dapat mengakibatkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan penatalaksanaan triase yang tidak cukup cepat bagi individu yang berisiko tinggi, seperti lansia dan mereka yang mengalami imunodefisiensi.
Cara POCT Berperan:
-
-
-
-
- Hasil yang Cepat: Uji antigen atau molekuler cepat untuk Flu A/B di klinik primer dapat memberikan hasil dalam 10–15 menit, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan klinis segera.
- Pengelolaan antibiotik: POCT membantu membedakan antara infeksi virus dan bakteri, sehingga mengurangi resep antibiotik yang tidak diperlukan. [8]
- Triase Efisien: Pasien berisiko tinggi dapat segera diidentifikasi dan dirujuk ke perawatan tersier pada hari yang sama.
-
-
-
Penerapan POCT C-reactive protein (CRP) di fasilitas layanan kesehatan primer secara signifikan mengurangi resep antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan akut yang tidak parah di Vietnam. Uji coba terkontrol acak kluster pragmatis menunjukkan bahwa CRP POCT mengurangi resep antibiotik tanpa mengorbankan pemulihan pasien. [8] Ketika gelombang pertama COVID-19 melanda Inggris, rumah sakit berjuang untuk menangani lonjakan pasien yang mengalami gejala pernapasan. Sebuah studi menguji keefektifan tes di tempat perawatan (POCT) – menggunakan panel POCT molekuler di tempat tidur pasien untuk mendiagnosis suspek kasus COVID. Hasilnya sulit untuk diabaikan. Pasien yang menjalani tes POCT memperoleh hasil hanya dalam waktu 1,7 jam, dibandingkan dengan lebih dari 21 jam melalui PCR laboratorium standar. [9] Mereka juga lebih mungkin untuk didiagnosis secara akurat, dengan 39% hasil positif pada kelompok POCT dibandingkan dengan 28% dalam kelompok yang menjalani tes laboratorium. [9] Bagi tim garis depan yang menangani wabah infeksi, diagnosis yang lebih cepat berarti isolasi yang lebih cepat, keputusan yang lebih cepat, dan lebih sedikit hambatan.
Dampak nyata: hasil yang lebih baik, biaya yang lebih rendah
Dari Pasifik hingga Asia Tenggara, diagnostik terdesentralisasi telah menunjukkan manfaat kesehatan dan ekonomi yang dapat diukur.
-
-
-
-
- Di Selandia Baru, POCT meningkatkan akurasi diagnosis di rumah sakit-rumah sakit pedesaan sebesar 43%,transfer pasien, dan meningkatkan jumlah pasien yang dipulangkan dengan selamat. [10]
- POCT membantu mencegah 30% evakuasi medis darurat di Wilayah Utara Australia – menghemat sekitar 21,75 juta dolar AUD setiap tahunnya untuk kondisi seperti nyeri dada, gagal dialisis, dan diare akut dengan menghindari transfer yang tidak perlu. [11] POCT untuk Hepatitis C di klinik jangkauan memotong biaya per awal pengobatan sebesar 35% dibandingkan dengan tes laboratorium. [12]
- Pada pasien dewasa, POCT CRP [13] terbukti meningkatkan akurasi diagnostik untuk infeksi saluran pernapasan bawah. Sebuah studi menyoroti [13] bahwa penggunaan tes CRP di fasilitas perawatan primer membantu membedakan antara infeksi bakteri dan virus, yang pada gilirannya menghasilkan resep antibiotik yang lebih tepat dan mengidentifikasi kasus-kasus yang mungkin salah didiagnosis tanpa tes tersebut.
-
-
-
Di mana diagnostik terdesentralisasi memberikan dampak yang paling besar?
Di seluruh kawasan Asia Pasifik (APAC) dan negara-negara berpendapatan menengah ke bawah (LMICs), POCT diterapkan di berbagai lingkungan klinis, termasuk:
-
-
-
-
- Pusat Layanan Kesehatan Primer atau Klinik Dokter Umum: Layanan kesehatan primer yang sering dituju pertama kali untuk gejala non-darurat iniadalah tempat keputusan triase dilakukan. POCT memungkinkan pemeriksaan pada hari yang sama untuk infeksi, penanda jantung, dan indikator penyakit kronis – sehingga mempercepat pengambilan keputusan dan mengurangi rujukan rumah sakit yang tidak perlu. Misalnya, pemeriksaan NT-proBNP di tempat pelayanan dapat membantu mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami gagal jantung. Seorang dokter umum dapat melakukan tes di klinik dan segera melakukan triase terhadap pasien yang memerlukan perawatan darurat di rumah sakit, sehingga dapat terhindar dari penundaan yang berbahaya. Tes troponin juga dapat membantu menghindarkan kemungkinan kejadian kardiak di klinik itu sendiri.
- Klinik Dokter Keluarga: Fasilitas ini menangani pasien dengan banyak komorbid – di mana penentuan tingkat risiko menjadi hal yang krusial. POCT memungkinkan pengujian langsung untuk HbA1c, lipid, atau D-dimer, [15] sehingga memungkinkan tenaga medis untuk menyesuaikan rencana perawatan secara real-time.
- Klinik Diabetes: POCT seringkali mempermudah pemantauan diabetes dengan memungkinkan diagnosis dan penyesuaian pengobatan dilakukan dalam satu kunjungan yang sama. Hal ini mengurangi jumlah janji temu lanjutan dan meminimalkan upaya yang diperlukan dari pasien dan perawat – terutama di lingkungan di mana kembali ke klinik memerlukan perjalanan yang memakan waktu, kehilangan penghasilan, atau cuti kerja. Uji HbA1c di tempat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, pengendalian glikemik yang lebih baik, dan pengelolaan penyakit kronis yang lebih mudah.
- Apotek dan Toko Obat: Di banyak wilayah di Asia, apotek merupakan titik kontak pertama –dan terkadang satu-satunya tempat– untuk layanan kesehatan. POCT memungkinkan fasilitas kesehatan ini untuk menyediakan skrining kesehatan yang andal untuk flu, COVID, dan kondisi kronis dengan menggunakan tes tusuk jari sederhana atau swab hidung yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional – tanpa perlu kunjungan tambahan ke laboratorium atau klinik.
-
-
-
Menatap masa depan
Seiring dengan sistem kesehatan di kawasan APAC yang bersiap menghadapi permintaan yang terus meningkat, diagnostik terdesentralisasi akan menjadi pembeda antara perawatan reaktif dan perawatan yang tangguh. Alat-alatnya sudah tersedia. Momentumnya sedang meningkat. Sekarang, saatnya untuk berani mengimplementasikannya – menerapkan tes yang cepat dan akurat di tempat yang paling penting. Dengan investasi, kemitraan, dan dukungan kebijakan yang tepat, layanan kesehatan primer dapat menjadi mesin kesehatan yang paling ampuh dan efisien di kawasan ini. Karena hasil yang lebih baik tidak dimulai di rumah sakit, tetapi di garis depan. Dan masa depan diagnostik sudah hadir dan siap untuk dikembangkan.
Referensi:
[1] Bain & Company. 2020. “Asia-Pacific Front Line of Healthcare Report 2020.” Bain & Company
[2] Bain & Company. 2024. “Asia-Pacific Front Line of Healthcare 2024.” Bain & Company. Diakses pada 22 April 2025. https://www.bain.com/insights/asia-pacific-front-line-of-healthcare-2024/.
[3] Shephard, Mark, Anne Shephard, Susan Matthews, and Kelly Andrewartha. 2020. “The Benefits and Challenges of Point-of-Care Testing in Rural and Remote Primary Care Settings in Australia.” Arch Pathol Lab Med 144 (11): 1372–1380. doi:https://doi.org/10.5858/arpa.2020-0105-RA.
[4] Ministry of Health Singapore. 2022. White Paper on Healthier SG. White Paper, Government of Singapore.
[5] Crocker, Benjamin J, Elizabeth Lee-Lewandrowski , Nicole Lewandrowski, Jason Baron, Kimberly Gregory, dan Kent Lewandrowski. 2014. “Implementation of point-of-care testing in an ambulatory practice of an academic medical center.” American Journal of Clinical Pathology 142 (5): 640–646. Diakses tahun 2025. doi: 10.1309/AJCPYK1KV2KBCDDL.
[6] Schnell, Oliver, Benjamin Crocker, and Jianping Weng. 2016. “Impact of HbA1c Testing at Point of Care on Diabetes Management.” Journal of Diabetes Science and Technology 11 (3): 611. doi:10.1177/1932296816678263.
[7] Motta, Lara A, dan Mark Shephard. 2015. “The International Analytical and Clinical Excellence Program.” Point of Care: The Journal of Near-Patient Testing & Technology 14 (3): 76-80. Diakses tahun 2025. doi:10.1097/POC.0000000000000053.
[8] Staiano, Annamaria, Lars Bjerrum, Carl Llor, Hasse Melbye, Rogier Hopstaken, Ivan Gentile, Andreas Plate, Oliver van Hecke, dan Jan Y Verbakel. 2023. “C-reactive protein point-of-care testing and complementary strategies to improve antibiotic stewardship in children with acute respiratory infections in primary care.” Frontiers in Pediatrics 11: 1221007. Diakses tahun 2025. doi:10.3389/fped.2023.1221007.
[9] Brendish, Nathan J, Stephen Poole , Vasanth V Naidu, Christopher T Mansbridge, Nicholas J Norton, dan Helen Wheeler. 2020. “Clinical impact of molecular point-of-care testing for suspected COVID-19 in hospital (COV-19POC): a prospective, interventional, non-randomised, controlled study.” The Lancet Respiratory Medicine 8 (12): 1192-1200. Diakses tahun 2025. doi:10.1016/S2213-2600(20)30454-9.
[10] Blattner, Katharina, Garry Nixon, Susan Dovey, Chrystal Jaye, dan John Wigglesworth. 2010. “Changes in clinical practice and patient disposition following the introduction of point-of-care testing in a rural hospital.” Health Policy 96 (1): 7-12. Diakses tahun 2025. doi:10.1016/j.healthpol.2009.12.002.
[11] Spaeth, Brooke A, Billingsley Kaambwa, Mark DS Shephard, dan Rodney Omond. 2018. “Economic evaluation of point-of-care testing in the remote primary health care setting of Australia’s Northern Territory.” ClinicoEconomics and Outcomes Research: CEOR 2018 (10): 269-277. Diakses tahun 2025. doi:10.2147/CEOR.S160291.
[12] Shih, Sophy T.F., Qinglu Cheng, Joanne Carson, Heather Valerio, Yumi Sheehan, dan Richard T Gray. 2023. “Optimizing point-of-care testing strategies for diagnosis and treatment of hepatitis C virus infection in Australia: a model-based cost-effectiveness analysis.” The Lancet Regional Health: Western Pacific 36: 100750. Diakses tahun 2025. doi:10.1016/j.lanwpc.2023.100750.
[13] Llor, Carl, Andreas Plate, Lars Bjerrum, dan Ivan Gentile. 2024. “C-reactive protein point-of-care testing in primary care—broader implementation needed to combat antimicrobial resistance.” Frontiers in Public Health 12: 1397096. Diakses tahun 2025. doi:10.3389/fpubh.2024.1397096.
[14] Van Hecke, Oliver, Lars Bjerrum, Ivan Gentile, Rogier Hopstaken, Hasse Melbye, Andreas Plate, Jan Y Verbakel, Carl Llor, dan Annamaria Staiano. 2023. “Guidance on C-reactive protein point-of-care testing and complementary strategies to improve antibiotic prescribing for adults with lower respiratory tract infections in primary care.” Frontiers in Medicine 10 (2023): 1166742. Diakses tahun 2025. doi:10.3389/fmed.2023.1166742.
[15] Schols, Angel M.R., Eline Meijs, Geert-Jan Dinant, Henri E. J. H. Stoffers, Marielle M.E. Krekels, and Jochen W. L. Cals. 2019. “General practitioner use of D-dimer in suspected venous thromboembolism: historical cohort study in one geographical region in the Netherlands.” BMJ Open 9 (5): e026846. Diakses tahun 2025. doi:10.1136/bmjopen-2018-026846.

