Panggilan bagi para patolog molekuler: dokter mata membutuhkan bantuan Anda

Desember 15, 2020 Bullet Artikel

Jika Anda baru-baru ini berkunjung ke dokter mata, besar kemungkinan kunjungan tersebut tidak melibatkan pengujian yang harus dilakukan di laboratorium klinis. Sebagian besar tes mata dasar, seperti untuk glaukoma, dapat dilakukan langsung di ruang praktik dokter. Namun, patologi—khususnya patologi molekuler—makin berperan penting bagi kualitas perawatan mata yang baik, ungkap Dr. Anita Chan, dokter mata dan patolog di Singapore National Eye Centre (SNEC), salah satu divisi dalam klaster SingHealth pada sistem kesehatan masyarakat Singapura.

Dr. Chan kariernya sebagai dokter mata, tetapi baru-baru ini menjalani pelatihan sebagai patolog. Karier jalur ganda ini menjadikannya sebagai dokter mata sekaligus patolog pertama di Singapura. Saat ini, ia memegang peran sebagai Head & Senior Consultant di Ocular Inflammation & Immunology Department dan Clinical Director of the Ophthalmic Pathology Department di SNEC, sekaligus Head of the Translational Ophthalmic Pathology Platform di Singapore Eye Research Institute. Laboratorium patologi mata miliknya merupakan salah satu yang paling awal berdiri di wilayah Asia Pasifik.

Dr. Chan berkomitmen untuk membantu para pasiennya, serta memajukan bidang ini secara keseluruhan, dengan mengembangkan dan menerapkan tes-tes baru yang bernilai bagi perawatan mata. Namun, ia juga berharap agar lebih banyak patolog berminat pada oftalmologi sehingga laboratorium-laboratorium terpusat yang lebih canggih di Asia Tenggara dapat mulai menyediakan tes molekuler untuk kondisi okular.

Karena tes tersebut harus dilakukan pada sampel dengan volume yang sangat kecil, banyak laboratorium patologi belum mampu menjalankannya karena keterbatasan alur kerja yang ada. Hal ini membuat dokter mata di Asia Tenggara kesulitan saat menangani kanker okular, seperti melanoma mata, karena mereka harus memilih antara mengirimkan sampel ini ke Australia atau Amerika Serikat dengan biaya tinggi, atau tidak menawarkan tes penting tersebut kepada pasien.

Tes patologi untuk pasien oftalmologi

Salah satu alasan meningkatnya ketertarikan pada tes molekuler untuk kondisi mata adalah perkembangan yang relatif baru dalam oftalmologi: kemampuan untuk mengambil sampel cairan intraokular dengan aman dan rutin dari pasien. Kini, karena sudah dapat dilakukan di berbagai pusat mata di seluruh dunia, prosedur ini berhasil membuka jalan bagi beragam opsi tes baru.

Sebagai contoh, tes PCR saat ini sudah dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi mata. Karena sampel mata cenderung terlalu sedikit untuk dikultur dengan metode tradisional, para patolog oftalmik berfokus pada teknik-teknik yang telah terbukti, seperti PCR, untuk penggunaan okular. Tes PCR ini, yang dapat dijalankan secara kombinasi atau multipleks, mengurangi volume sampel yang diperlukan untuk setiap tes. Teknik-teknik tersebut telah membawa perubahan besar dalam kemampuan mendiagnosis infeksi mata akibat virus, bakteri, atau parasit, yang banyak ditemukan di Asia.

“Kami menggunakan metode pengujian hilir yang sama seperti laboratorium lain,” ungkap Dr. Chan kepada Lab Insights. “Setiap laboratorium dapat melakukan prosedur ini selama keterbatasan volume sampel tidak menjadi hambatan.”

 

Prospek ke depan: Tes sel tunggal

Munculnya teknologi pemrofilan sel tunggal berhasil menjadi terobosan bagi penanganan kondisi okular. Dr. Chan baru-baru ini mengembangkan tes sel tunggal berbasis sekuensing untuk limfoma intraokular. Tes tersebut divalidasi menggunakan sampel klinis residu yang telah diproses sebelumnya oleh laboratorium patologi; jumlah sampel yang tersisa sangat sedikit sehingga sebagian besar kasus hanya menghasilkan 10 hingga 20 sel, tuturnya. Namun, jumlah tersebut sudah cukup untuk mendeteksi penanda genetik yang lazim ditemukan pada kanker ini.

“Sungguh mencengangkan menyadari bahwa kami hanya membutuhkan 10 sel,” jelasnya. Jenis kanker ini sangat sulit didiagnosis dengan teknik konvensional, tetapi metode sel tunggal diharapkan dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan menghasilkan pengobatan yang lebih terfokus bagi pasien.

Tes tersebut, yang saat ini hanya digunakan untuk riset di laboratorium Dr. Chan, diharapkan akan dikembangkan menjadi uji diagnostik yang dapat digunakan oleh laboratorium klinis berkualifikasi. Tim telah meninjau faktor-faktor penting yang diperlukan untuk penggunaan komersial, seperti jenis fiksatif yang digunakan pada sampel cair agar tetap berkinerja terbaik saat dikirim ke laboratorium pusat (mereka memilih fiksatif yang sama seperti halnya Pap smear cair). Dr. Chan telah menangani sampel yang dikirim dari Myanmar dan Vietnam, selain dari sampel awal yang diambil di Singapura.

Cara berpartisipasi

Setiap laboratorium klinis dapat mulai menawarkan tes patologi molekuler untuk sampel okular. Apabila Anda tertarik, berikut ini langkah awal yang dapat dilakukan.

1. Bekerja sama dengan dokter mata. Anda tidak perlu menjadi dokter mata dan patologis seperti Dr. Chan, tetapi “Anda harus memahami aspek klinisnya,” tuturnya. Diskusikan dengan dokter mata dalam sistem layanan kesehatan Anda untuk memahami bagaimana tes molekuler dapat memberikan kontribusi terbaik pada praktiknya, atau telaah literatur oftalmologi guna mengetahui lebih jauh tentang tes yang sering mereka gunakan.

2. Optimallkan penggunaan sampel yang terbatas. “Sampel yang jumlahnya sedikit merupakan persoalan besar, ” kata Dr. Chan. “Laboratorium biasanya enggan menangani sampel bervolume minim.” Namun, seiring dengan mulai diadopsinya teknologi sel tunggal oleh laboratorium terpusat untuk aplikasi lain, mereka mungkin akan mendapati bahwa sampel alur kerja persiapan sampel tersebut juga mendukung pemrosesan sampel okular. Bahkan laboratorium kecil pun, jika berkomitmen menyediakan tes okular, dapat mengimplementasikan teknik-teknik yang dibutuhkan untuk memproses sampel bervolume rendah.

3. Lakukan pelatihan di laboratorium lain. Laboratorium seperti milik Dr. Chan terbuka untuk menerima patolog dari fasilitas lain dan menawarkan pelatihan mengenai pemrosesan sampel dengan jumlah yang terbatas. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, Dr. Chan secara rutin melakukan kunjungan ke laboratorium-laboratorium di berbagai negara untuk membantu tim di Asia dalam memulai dan menjalankan tes okular.

“Penting bagi kita untuk membangun kapasitas pengujian oftalmologi di Asia yang setara dengan yang ada di Eropa atau AS,” kata Dr. Chan. “Dengan demikian, kita dapat mengembangkan tes yang memenuhi kebutuhan populasi Asia, baik dari segi perbedaan genetik maupun spektrum penyakit.”

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top