Teknologi baru dan model pelayanan yang inovatif akan mendukung laboratorium dalam berinteraksi langsung dengan pasien, klinisi, dan peneliti. Laboratorium memainkan peran penting dalam sistem layanan kesehatan di seluruh Asia, namun sering kali tidak memeroleh pengakuan. Pasien hampir tidak pernah berinteraksi langsung dengan laboratorium, atau bahkan mengetahui apa yang petugas lab lakukan. Klinisi memimpin dalam permintaan pemeriksaan dan penafsiran hasil, namun tidak selalu memanfaatkan keahlian tenaga laboratorium saat mengambil keputusan klinis. Namun seiring dengan digitalisasi sistem layanan kesehatan di seluruh Asia, para profesional laboratorium memiliki peluang menarik untuk mengambil peran yang lebih besar di setiap tahap perjalanan pasien, termasuk di garis depan layanan pasien.

Berpikir tidak hanya di ranah laboratorium

Meraih peluang ini dimulai dengan perubahan pola pikir, menurut Narongrid Galaputh, CEO N Health Diagnostic Laboratories, operator laboratorium komersial terbesar di Thailand. “Banyak laboratorium terlalu berfokus pada proses internal dan tidak melihat gambaran besarnya,” ujarnya. “Efisiensi operasional itu penting, tetapi nilai utama diagnostik harus diukur dari manfaatnya bagi pasien.” Galaputh percaya bahwa para profesional laboratorium harus memiliki pemikiran luas tentang keseluruhan pengalaman pasien saat mengevaluasi operasi mereka. Ini berarti melihat lebih dari apa yang terjadi antara waktu laboratorium menerima sampel dan mengirimkan hasil. Hal ini memerlukan tanggung jawab yang lebih besar atas berbagai faktor, seperti berapa lama waktu yang dibutuhkan sampel untuk sampai dari rumah sakit ke laboratorium, dan apakah dokter menafsirkan hasil pemeriksaan dengan benar. N Health, yang dibuat sebagai laboratorium internal di Bangkok Dusit Medical Services (BDMS) sebelum direstrukturisasi menjadi anak perusahaan independen di bawah kepemimpinan Galaputh, mencapai kesuksesannya dengan “berpikir melebihi ranah laboratorium” dan mengambil peran yang lebih luas dalam manajemen sistem layanan kesehatan. Hal ini memungkinkan mereka untuk memberi dukungan pada BDMS, kelompok layanan kesehatan swasta terbesar di Thailand, dan juga melayani jaringan rumah sakit lain di sektor publik dan swasta di Thailand, Myanmar dan Kamboja. Laboratorium ini juga melayani pasien secara langsung melalui bisnis B2C di mana pasien dapat membuat janji temu secara online dan datang langsung ke laboratorium untuk menjalani pemeriksaan. “Kami ingin pelanggan bertanya dan terlibat dalam pemeriksaan yang mereka jalani,” ujar Galaputh, seraya menambahkan bahwa mereka juga meluncurkan aplikasi seluler untuk membantu memberikan hasil dan terhubung dengan pelanggan mereka. “Tujuan utamanya adalah untuk lebih dekat dengan garda terdepan layanan kesehatan.”

Laboratorium sebagai konsultan

Laboratorium juga memiliki peran yang lebih besar dalam mendorong keputusan klinis. “Alih-alih hanya menerima permintaan, laboratorium harus proaktif dalam memberikan saran,” ujar Dr. Kee Yuan Ngiam, Kepala Teknologi Grup di National University Health System (NUHS), sebuah klaster kesehatan masyarakat besar di Singapura. “Mereka harus membantu dokter memutuskan pemeriksaan apa yang harus diminta dan kapan.” Hal ini khususnya berlaku di tengah maraknya teknologi diagnostik baru: “Ketikano profesional laboratorium mempelajari tentang pemeriksaan baru yang tervalidasi, penting untuk mengomunikasikannya kepada dokter.” ujarnya. “Dengan cara ini, laboratorium dapat menginformasikan dan mempromosikan inovasi dalam proses perawatan.” Dr. Ngiam yakin AI dapat mendukung proses ini. Kantornya yang mengawasi portofolio luas proyek AI di NUHS, sedang mengerjakan sistem AI untuk memandu permintaan pemeriksaan di laboratorium. Tujuannya adalah membangun alat yang tidak hanya memberikan saran yang valid secara klinis, tetapi juga sesuai dengan alur kerja klinis yang sudah berjalan. Sasaran awalnya adalah mengoptimalkan biaya dan memastikan hanya pemeriksaan yang diperlukan saja yang dilakukan, sehingga meningkatkan mutu perawatan sekaligus memangkas biaya. “Semakin banyak pemeriksaan yang diminta, kami memiliki lebih banyak data untuk mendukung model kami,” ujar Dr. Ngiam. “Kami sangat antusias dengan AI untuk farmakogenomik prediktif, yang memiliki potensi besar dalam penciptaan nilai, namun kami memperkirakan AI akan mendukung banyak keputusan dan interpretasi diagnostik dalam waktu dekat.”

Internet untuk peranti medis

Transformasi digital di rumah sakit Asia menghadirkan banyak peluang bagi proses laboratorium untuk terintegrasi dengan platform TI yang semakin menjadi tulang punggung sistem layanan kesehatan di mana-mana, menurut Dr. Hong Fung, CEO CUHK Medical Centre, sebuah rumah sakit swasta nirlaba baru yang sedang dikembangkan di Hong Kong. Berbekal pengalaman mendalam dalam bidang TI kesehatan, Dr. Fung ingin CUHK Medical Centre menjadi rumah sakit cerdas sejak hari pertama beroperasi. Sebagian dari rencananya adalah membangun sebuah “internet untuk peranti medis” yang menggunakan sensor dalam melacak penggunaan berbagai jenis peralatan rumah sakit, mulai dari penganalisis laboratorium hingga tiang infus dan segala sesuatu di antaranya. “Kami ingin memanfaatkan data untuk memastikan bahwa semua yang ada di rumah sakit bekerja secara terpadu dan efisien,” ujar Dr. Fung. “Laboratorium hanya dapat mencapai potensi penuh mereka jika kita mengeluarkan mereka dari silo dan mengintegrasikannya dalam proses hulu dan hilir.” Mulai dari aplikasi seluler hingga sistem pendukung keputusan berbasis AI, laboratorium paling visioner di Asia sudah mulai mengadopsi teknologi yang mendukung mereka untuk mendalami jaringan digital layanan kesehatan yang kini tengah berkembang di sekitar kita. Hal ini akan memungkinkan mereka menempatkan diri lebih dekat dengan garis depan layanan kesehatan dan memberikan dampak yang lebih besar di setiap tahap perjalanan pasien.

Poin penting

        • Laboratorium terdepan kini melihat lebih jauh dari proses internal mereka dan mengambil peran yang lebih luas dalam pengelolaan sistem layanan kesehatan.
        • Seiring meluasnya teknologi diagnostik baru, para profesional laboratorium akan semakin banyak terlibat dalam konsultasi terkait keputusan mengenai pemeriksaan yang harus dilakukan dan bagaimana menafsirkan hasilnya.
        • Laboratorium akan semakin terhubung dengan “internet untuk peranti medis” yang akan mendorong efisiensi operasional melalui pengumpulan data yang lebih rinci mengenai penggunaan peralatan.

Lainnya dalam topik yang sama

Pilih postingan terkait dari opsi di bawah ini.

Rekomendasi topik

SekuensingMERAH 2020Penyakit langka
Bacaan Berikutnya
Scroll to Top