Artikel ini adalah bagian dari serangkaian eliminasi hepatitis C (HCV) di Pakistan dan negara-negara berisiko tinggi lainnya di seluruh dunia. Artikel lain dalam seri ini membahas provinsi Sindh dan KPK di Pakistan. Gulir ke bagian bawah artikel untuk melihat daftar lengkapnya.
Dengan sekitar 24.000 kematian terkait HCV setiap tahun, Pakistan menjadi salah satu negara dengan tingkat infeksi HCV tertinggi di dunia. Punjab, salah satu provinsi terbesar di negara tersebut, merupakan wilayah dengan prevalensi HCV yang sangat tinggi. Menurut angka skrining tahun 2018, sekitar 9% dari 28 juta penduduk di provinsi tersebut terjangkit penyakit ini, dibandingkan dengan 5,4% dari total populasi.
Untuk membahas strategi dalam memperbaiki keadaan ini, tim Lab Insights berbincang dengan dua pakar terkemuka mengenai HCV di Punjab:
- Profesor Ghias Un Nabi Tayyab, Dean of the Faculty of Gastroenterology di College of Physicians and Surgeons Karachi, President Pakistan Society of Gastroenterology & GI Endoscopy, Ex Principal Post Graduate Medical Institute/Ameer Ud Din Medical College Lahore, Professor and Dean of Medicine di Lahore General Hospital, Lahore, Member of Steering Committee for Prime Minister Hepatitis Control Program, dan Chief Executive of the Provincial Working Group on Hepatitis untuk pemerintah Punjab
- Profesor Muhammad Umar, Vice Chancellor and CEO, sekaligus Chairman and Professor of Medicine di Rawalpindi Medical University Hospital, serta Chief of the Gastroenterology and Hepatology Section di Holy Family Hospital, Rawalpindi, Punjab
Sebagai partisipan aktif dalam berbagai program HCV baik di tingkat provinsi maupun nasional di Pakistan, Prof. Tayyab dan Prof. Umar berbagi perspektif mereka mengenai upaya pemberantasan HCV di Punjab serta solusi atas berbagai tantangan lokal.
Upaya pemberantasan HCV di Punjab
Sebagaimana provinsi lainnya, program skrining dan pencegahan HCV telah berjalan selama bertahun-tahun di Punjab. Pemerintah setempat juga telah melaksanakan vaksinasi hepatitis B untuk membantu menekan dampak penyakit hati.
Ke depan, provinsi ini tengah menjalankan berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan. Sebagai contoh, Prof. Tayyab terlibat dalam inisiatif regional untuk merombak klinik hepatitis, mengembangkan unit GI & endoskopi, serta mendirikan rumah sakit transplantasi bagi penyakit ginjal dan hati.
“Tiga pusat keunggulan di Punjab telah ditetapkan untuk memberikan layanan kesehatan kelas atas bagi penduduk provinsi tersebut,” jelasnya. “Diagnostik dan pengujian POC akan dilakukan di 152 klinik hepatitis yang terhubung dengan berbagai rumah sakit umum di seluruh provinsi.” Unit GI dan klinik hepatitis, berkolaborasi dengan College of Physicians & Surgeons, Karachi, serta berbagai program universitas akan melatih dokter, perawat, dan paramedis untuk kebutuhan masa depan di bidang ini serta memperkuat sumber daya manusia yang dibutuhkan bagi ‘program pemberantasan HCV’.
Provinsi Punjab juga menggunakan perangkat lunak untuk meningkatkan pelacakan dan keterlibatan pasien. “Mayoritas pasien yang menderita HCV mengalami kendala finansial, dan penyedia layanan kesehatan kesulitan untuk melakukan tindak lanjut secara intensif dengan pasien-pasien tersebut,” ungkap Prof. Tayyab. “Begitu pasien terkonfirmasi positif HCV, mereka akan diberi tahu melalui ponsel, dan penyedia layanan kesehatan dapat berkomunikasi dengan mereka serta menyampaikan detail rencana pengobatan,” lanjutnya.
Prof. Tayyab mencatat bahwa 152 klinik hepatitis yang terhubung dengan berbagai rumah sakit umum menggunakan perangkat lunak bersama untuk berbagi data, memantau logistik, dan menilai hasilnya. Selain itu, terdapat rencana untuk memperluas penggunaan perangkat lunak tersebut ke rumah sakit departemen, organisasi mitra, LSM, dan dokter keluarga. Prof. Umar juga yakin bahwa perangkat semacam ini dapat berfungsi sebagai basis data pemantauan terpusat untuk melacak jumlah pasien yang telah menjalani tes serta memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
Mengatasi tantangan
Meski telah diberlakukan legislasi melalui Punjab Hepatitis Act (2018) dan Safe Blood Transfusion Act (2017), serta persyaratan registrasi wajib bagi layanan kesehatan dan layanan penunjang dengan komisi kesehatan, kedua ahli tersebut menekankan bahwa Punjab masih menghadapi banyak tantangan yang serupa dengan provinsi lain, seperti praktik sterilisasi yang buruk di klinik, praktik kedokteran gigi, dan pusat transfusi darah.
Karena berbagai alasan, pasien yang terkonfirmasi positif HCV tidak melaporkan diri untuk memulai pengobatan atau tidak mematuhi durasi pengobatan. Transplantasi hati masih menjadi tugas yang sulit karena terkait dengan biaya yang tinggi, ketersediaan donor, dan pengelolaan pasien. Hanya sedikit pusat di provinsi tersebut yang menyediakan layanan transplantasi hati, dan pasien sering kali harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Pandemi juga telah menyebabkan pergeseran fokus ke penanganan pasien COVID-19. “Kami masih bergulat dengan antrean panjang kasus HCV, khususnya di lokasi pengujian,” jelas Prof Tayyab. “Di satu sisi, kami berupaya mengendalikan penyakit dengan dampak jangka pendek, dan di sisi lain, menghadapi penyakit dengan implikasi jangka panjang. Keduanya merupakan persoalan yang sangat berbeda.”
Salah satu pendekatan untuk mengatasi tantangan ini, sekaligus membantu menekan biaya penyuluhan masyarakat, adalah dengan melibatkan pemimpin komunitas dalam upaya pemberantasan HCV. “Kami memerlukan dukungan para anggota parlemen, pemuka agama, dan guru untuk mengedukasi masyarakat serta meningkatkan kesadaran mengenai risiko dan komplikasi terkait HCV,” jelas Prof. Umar.
Prof. Umar juga melihat perlunya memperluas jangkauan kepada dokter layanan keluarga serta mengintegrasikan praktik mereka dengan klinik dan rumah sakit. Dalam pelaksanaan skrining, akan sangat membantu jika menyasar anggota komunitas lokal yang setiap hari berinteraksi dengan banyak orang, seperti penata rambut, ahli kecantikan, serta dokter non-tradisional, misalnya dengan membagikan pamflet serta memasang iklan di kereta dan bus.
Terkait tantangan COVID, model hibrida untuk menangani HCV dan COVID secara bersamaan dapat diterapkan, terutama untuk kota-kota besar dengan waktu tempuh lebih singkat ke klinik dan rumah sakit. Untuk daerah pedesaan, pengujian cepat di titik layanan (point-of-care, POC) dapat dilakukan, tetapi biaya tetap menjadi kendala di daerah yang memiliki sumber daya terbatas.
Dengan begitu banyak tantangan, diperlukan perencanaan komprehensif yang menggabungkan model ‘menguji, mengedukasi, dan mengobati’, integrasi antara upaya pemberantasan makro dan mikro, serta kelompok advokasi yang kuat untuk memberantas HCV di Pakistan. “Penting untuk menyiapkan model dan merencanakan secara cermat demi mencapai target pemberantasan HCV pada tahun 2030,” tutur Prof Umer. “Sebuah peta jalan perlu ditetapkan, termasuk lini masa, tonggak pencapaian, serta tinjauan dan pemantauan secara rutin terhadap semua aspek, yakni dana, sumber daya, pelatihan, hasil, dan target.”
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang beban HCV yang kian meningkat di Pakistan dan Asia Pasifik, silakan lihat studi kasus lain di Lab Insights:
- Skrining HCV di Mesir: elemen utama dari keberhasilan program skrining nasional
- Pemberantasan HCB di Pakistan: wawasan dari Dr. Zaigham Abbas
- Pemberantasan HCV di Pakistan Utara: Profesor Aamir Khan tentang penanganan pasien di Provinsi KPK dan wilayah perbatasan Afganistan
- Pemberantasan HCV di provinsi Sindh: wawasan dari Prof. Muhammad Sadik Memon dan Dr. Zaigham Abbas
- Program pemberantasan HCV nasional Pakistan: wawasan dari Dr. Huma Qureshi
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh penyakit hati di kawasan Asia Pasifik, simak video ini Tanya jawab dengan Prof Pierce Chow dari National Cancer Centre Singapore.


