Artikel ini merupakan bagian dari seri tentang pemberantasan virus hepatitis C (HCV) di Pakistan dan negara-negara berisiko tinggi lainnya di seluruh dunia. Artikel lain dalam seri ini membahas provinsi Punjab dan KPK di Pakistan. Gulir ke bagian bawah artikel untuk melihat daftar lengkapnya.
HBV dan HCV adalah ancaman kesehatan masyarakat utama di Pakistan, yang memengaruhi hampir 15 juta orang di seluruh negeri. Provinsi Sindh memiliki salah satu tingkat infeksi HCV tertinggi di dunia dan menanggung beban penyakit kedua tertinggi baik untuk HBV maupun HCV dibandingkan semua provinsi di Pakistan [1].
Terletak di sudut tenggara negeri, provinsi Sindh menghadapi berbagai tantangan dalam mendiagnosis dan mengobati kondisi terkait HCV bagi 48 juta penduduknya. Seperti di sebagian besar wilayah lain di negara tersebut, rendahnya literasi kesehatan di kalangan masyarakat umum menyebabkan perilaku tidak sehat, seperti penggunaan kembali jarum suntik untuk suntik terapeutik dan sterilisasi peralatan medis yang buruk. Provinsi tersebut, yang menempati posisi kedua terbesar dalam hal jumlah penduduk setelah Punjab, juga menghadapi berbagai kendala infrastruktur, tenaga kerja, dan pendanaan yang serupa dengan wilayah-wilayah di sekitarnya. Hal ini khususnya terjadi di daerah pedesaan Sindh, tempat hampir setengah penduduk provinsi tersebut tinggal.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tantangan serta peluang untuk mengatasinya, Lab Insights berbincang dengan dua tokoh terkemuka dalam upaya memerangi HCV di provinsi Sindh: Prof. Muhammad Sadik Memon, Consultant Physician and Gastroenterologist di Asian Institute of Medical Sciences, Hyderabad; dan Dr. Zaigham Abbas, Head of Gastroenterology di Ziauddin University Hospital, Karachi.
Memperluas akses melalui kebijakan
Selain program nasional Perdana Menteri yang bertujuan mencapai target WHO untuk memberantas HCV di Pakistan pada tahun 2030, provinsi Sindh meluncurkan Hepatitis Prevention and Control Programme, yang bertujuan membuat Sindh bebas dari hepatitis.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, 48 lokasi sentinel telah didirikan di seluruh provinsi. Setiap lokasi memiliki tim yang terdiri atas petugas medis, perawat, pengolah data, teknisi laboratorium, dan petugas pendamping. Lokasi-lokasi tersebut menyediakan berbagai layanan gratis, termasuk tes skrining HCV, vaksinasi HBV, dan pengobatan baik untuk HCV maupun HBV. Sindh memiliki laboratorium terpusat untuk tes PCR, dan opsi logistik yang memadai untuk mengangkut sampel dari pusat pengambilan di daerah pedesaan. Namun, diperlukan lebih banyak teknisi untuk menjalankan tes PCR.
Meskipun terdapat program tingkat nasional dan regional yang kuat untuk pemberantasan HCV, para ahli sepakat bahwa diperlukan lebih banyak penyuluhan di daerah pedesaan. “Kami perlu melakukan tes pada seluruh komunitas secara bersamaan, lalu memberikan vaksinasi kepada mereka,” tutur Prof. Memon. Namun, masih ada sejumlah kesenjangan, terutama dalam upaya skrining HCV. “Kami sebenarnya tidak mampu menemukan jutaan orang yang hilang—orang-orang yang menjadi sumber penularan,” kata Dr. Abbas.
Salah satu kendalanya adalah otoritas kesehatan memiliki prioritas lain, misalnya penanggulangan penyakit menular lain seperti COVID-19, polio, dan malaria. “Kami perlu terus mendesak pemerintah agar para politisi sadar akan seriusnya situasi ini,” tegas Dr. Abbas. “Kami tidak boleh berkecil hati jika tanggapan awalnya belum sesuai harapan.”
Protokol skrining dan pengobatan HCV di Sindh
Prof. Memon menjelaskan bahwa setelah pasien dinyatakan positif HCV, mereka terlebih dahulu dianjurkan untuk menjalani vaksinasi HBV. Tes PCR lanjutan kemudian dilakukan untuk memastikan keberadaan HCV, serta pengujian lateral flow dipstick (LFD) dan ultrasonografi digunakan untuk memastikan tidak adanya sirosis hati. Jika seorang pasien diketahui menderita sirosis, mereka akan ditindaklanjuti melalui telepon setiap enam bulan serta dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi dan endoskopi sesuai kebutuhan. Prof. Memon juga mencatat bahwa perawat dapat dilatih untuk membantu menangani pasien penderita HCV yang tidak mengalami sirosis, dan hal ini dapat meringankan beban kerja dokter.
Tes PCR di Pakistan relatif mahal, dan banyak pasien yang menjalani pengujian tersebut harus melakukannya secara mandiri. Namun demikian, pengobatan dengan obat antivirus kerja-langsung (DAA) diberikan secara gratis oleh pemerintah. Selain itu, rumah sakit Prof. Memon juga dapat menyediakan pengobatan gratis selama tiga bulan dengan DAA. Setelah pasien menjalani pengobatan, ia menjelaskan bahwa mereka akan ditindaklanjuti dengan tes PCR dan LFD setelah enam bulan, atau dirujuk ke dokter setempat untuk melanjutkan pengobatan dan pemantauan.
Untuk memperkuat layanan skrining dan pengobatan HCV di Sindh, Prof. Memon menekankan bahwa peningkatan kesadaran baik di kalangan tenaga kesehatan maupun masyarakat umum sangatlah penting. Sejalan dengan itu, sangat penting untuk memberikan dorongan kepada pemerintah serta menekankan betapa seriusnya situasi ini. Dukungan pemerintah akan menjadi kunci untuk meningkatkan kemampuan layanan kesehatan, menyelenggarakan skrining massal, serta menyediakan pengobatan dan layanan vaksinasi HBV.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang beban HCV yang kian meningkat di Pakistan dan Asia Pasifik, silakan lihat studi kasus lain di Lab Insights:
- Skrining HCV di Mesir: elemen utama dari keberhasilan program skrining nasional
- Pemberantasan HCV di Pakistan: wawasan dari Dr. Zaigham Abbas
- Pemberantasan HCV di Pakistan Utara: Profesor Aamir Khan tentang penanganan pasien di Provinsi KPK dan wilayah perbatasan Afganistan
- Mengatasi HCV di Punjab: ahli lokal berbagi strategi keberhasilan
- Program pemberantasan HCV nasional Pakistan: wawasan dari Dr. Huma Qureshi
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh penyakit hati di kawasan Asia Pasifik, simak video ini Tanya jawab dengan Prof. Pierce Chow dari National Cancer Centre Singapore.
Referensi:
[1] https://phrc.org.pk/assets/sindh-hepatitis-action-plan-final-version.pdf


