Artikel ini adalah bagian dari serangkaian eliminasi hepatitis C (HCV) di Pakistan dan negara-negara berisiko tinggi lainnya di seluruh dunia. Artikel lain dalam seri ini mencakup provinsi Punjab, KPK, dan Sindh di Pakistan. Gulir ke bagian bawah artikel untuk melihat daftar lengkapnya.
Program Pengobatan dan Tes HCV di Pakistan
Pada tahun 2019, Pakistan mengumumkan program skala nasional untuk meningkatkan pencegahan, pengujian, dan pengobatan HCV. Dengan dukungan langsung dari Perdana Menteri Pakistan, program ini ditujukan untuk memperkuat upaya di tingkat provinsi yang telah berjalan selama bertahun-tahun, tetapi belum banyak berdampak dalam mengurangi tantangan infeksi HCV di negara tersebut.
Salah satu tokoh utama dalam program nasional ini adalah Dr. Huma Qureshi, seorang gastroenterolog dan peneliti terkemuka yang turut memperkenalkan antivirus kerja-langsung (DAA) di Pakistan. Ia juga berkontribusi dalam pengobatan HCV di Pakistan serta pengembangan pedoman pengujian, dan turut merumuskan National Hepatitis Strategic Framework. Dalam wawancaranya dengan Lab Insights ini, ia membagikan pemikirannya mengenai praktik terbaik untuk skrining dan strategi pemberantasan di kawasan ini.
Motivasi di balik upaya pemberantasan HCV di tingkat nasional
Program Perdana Menteri untuk pemberantasan HCV merupakan inisiatif jangka 10 tahun yang pada awalnya direncanakan berjalan dari tahun 2020 hingga 2030. Disusun sebagai program dua fase, program ini ditujukan untuk melakukan skrining terhadap seluruh populasi berusia di atas lima tahun guna mendeteksi HCV dan menyediakan pengobatan bagi individu dengan HCV-positif.
“Alasan utama untuk berfokus pada populasi umum, dan bukan hanya populasi berisiko tinggi, ialah karena faktor risiko utama HCV di Pakistan—transfusi darah tanpa skrining yang memadai, suntikan terapeutik yang tidak aman, serta perangkat medis yang tidak disterilkan dengan benar—jarang dijumpai di wilayah lain di dunia,” ungkap Dr. Qureshi. “HCV adalah pembunuh senyap, sehingga secara umum, mayoritas orang yang terinfeksi tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi.”
Meskipun memiliki skala yang sangat ambisius, program Perdana Menteri ini bukanlah upaya pertama untuk mengendalikan HCV di negara tersebut. Selama puluhan tahun, program-program tingkat provinsi telah membantu mendirikan lokasi sentinel dengan fasilitas diagnostik dan pengobatan, tetapi dampaknya masih terbatas akibat berbagai tantangan.
Salah satu tantangan tersebut adalah akses terhadap pilihan pengobatan bagi pasien positif HCV. “DAA tidak tersedia di negara ini dan satu-satunya pengobatan yang dapat diakses bagi pasien HCV adalah interferon,” jelas Dr. Quresh. “Pengobatan dengan interferon memiliki tingkat respons yang rendah, efek samping, serta masalah penyimpanan yang memadai di lemari pendingin dan pembeku.” Tantangan lainnya termasuk keterbatasan pendanaan dan kendala tenaga kerja.
Pada tahun 2008, Pakistan memiliki prevalensi hepatitis virus tertinggi kedua di dunia. “Hal ini benar-benar membuka mata para pengambil keputusan dan membuat mereka sadar bahwa tindakan harus diambil,” ungkap Dr. Qureshi. Hasil pemodelan, termasuk yang diusulkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengindikasikan bahwa inisiatif pemberantasan HCV adalah investasi yang bernilai.
Lalu, pada tahun 2010, provinsi-provinsi di Pakistan menjadi otonom, yang menyebabkan terfragmentasinya upaya pemberantasan HCV dan mendorong pemerintah untuk menyusun program jangka panjang di tingkat nasional. Tujuan dari program tersebut adalah untuk membantu mendukung upaya-upaya di tingkat provinsi, antara lain dengan mencapai keekonomian skala pada aspek-aspek penting seperti pengadaan massal alat diagnostik dan pengobatan.
Memastikan keberhasilan program
Meskipun COVID-19 sempat membuat peluncuran program nasional ini tertunda, dan terus mendominasi tajuk utama berita serta menyita perhatian dari para pembuat kebijakan kesehatan di Pakistan, kemajuan tetap terjadi. Menurut Dr. Qureshi, keberlanjutan momentum program ini akan membutuhkan komitmen terhadap pendanaan, pemantauan, dan evaluasi.
“Seiring perkembangan, sering kali terjadi penyimpangan dari rencana semula dan melenceng dari tujuan awal,” tuturnya. “Hambatan-hambatan ini dapat menghalangi kemajuan dan oleh karena itu memerlukan pemantauan serta evaluasi secara berkala.”
Dr. Qureshi meyakini bahwa penyelarasan lintas pemangku kepentingan diperlukan agar tetap fokus pada tujuan awal. “Kami melibatkan sektor korporasi, mitra, LSM, dan organisasi masyarakat sipil untuk membantu kami membangun kesadaran serta mendorong perubahan perilaku,” jelasnya.
Keterlibatan LSM serta sektor publik akan diperlukan untuk menjangkau pasien di komunitas yang kurang terlayani dan terpinggirkan. Di provinsi KPK, misalnya, rumah sakit di Peshawar sering menerima pasien yang datang dari seberang perbatasan di Afghanistan. Meskipun pasien semacam itu tidak mungkin ditolak, perencanaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menangani kebutuhan mereka.
Bagi masyarakat Pakistan pada umumnya, Dr. Qureshi meyakini bahwa keterlibatan sektor swasta merupakan faktor krusial. “Mayoritas masyarakat akan memilih layanan kesehatan swasta,” tuturnya. “Oleh karena itu, keterlibatan sektor swasta sangat diperlukan, mengingat mereka akan berperan penting dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran.”
Bagi pasien yang menerima diagnosis dan diarahkan ke program pengobatan, mereka tidak terlalu khawatir mengenai kepatuhan terhadap terapi DAA karena terapi ini hemat biaya dan efisien. “Jika terdapat masalah kepatuhan, hal tersebut biasanya terjadi pada orang dengan penyakit yang sudah lanjut disertai komplikasi,” ungkapnya. “Namun, saya memperkirakan tingkat kepatuhan pada populasi umum berada di kisaran 85%—95%.”
“Dengan berhasilnya program ini, serta skrining yang luas dan pengobatan DAA, Pakistan akan membuat kemajuan besar dalam pemberantasan HCV,” simpul Dr. Qureshi.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang beban HCV yang kian meningkat di Pakistan dan Asia Pasifik, silakan lihat studi kasus lain di Lab Insights:
- Skrining HCV di Mesir: elemen utama dari keberhasilan program skrining nasional
- Pemberantasan HCV di Pakistan: wawasan dari Dr. Zaigham Abbas
- Pemberantasan HCV di Pakistan Utara: Profesor Aamir Khan tentang penanganan pasien di Provinsi KPK dan wilayah perbatasan Afganistan
- Mengatasi HCV di Punjab: ahli lokal berbagi strategi keberhasilan
- Pemberantasan HCV di Sindh: Prof. Muhammad Sadik Memon dan Dr. Zaigham Abbas
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh penyakit hati di kawasan Asia Pasifik, simak video ini Tanya jawab dengan Prof. Pierce Chow dari National Cancer Centre Singapore.

